MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yunus Hanafiah, mengulas keteladanan dakwah Nabi Ibrahim kepada ayahnya dalam pengajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad (18/05).
Dalam pengajian tersebut, ia menyoroti bagaimana Nabi Ibrahim menghadapi ayahnya yang merupakan penyembah berhala dengan keberanian, kelembutan, dan argumentasi yang rasional.
Di awal kajian, Yunus mengajak jamaah mengingat kembali kisah-kisah Nabi Ibrahim yang paling populer di tengah masyarakat. Menurutnya, kisah yang paling sering dibahas menjelang Iduladha adalah perintah penyembelihan Nabi Ismail. Selain itu, ada pula kisah Nabi Ibrahim yang dibakar Raja Namrud serta dakwah Nabi Ibrahim kepada ayah dan kaumnya.
“Nah, kalau pada kesempatan pagi hari ini kita fokus membahas kisah Nabi Ibrahim bersama sang ayah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa nama ayah Nabi Ibrahim adalah Azar sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-An’am ayat 74. Mayoritas ulama, kata dia, bersepakat bahwa Azar adalah ayah Nabi Ibrahim. Azar dikenal sebagai penyembah berhala sekaligus pembuat patung yang menjadi mata pencahariannya sehari-hari.
“Selain dia sendiri menyembah berhala juga sehari-hari merupakan produsen, pembuat berhala itu sendiri,” katanya.
Yunus kemudian menerangkan bahwa masyarakat pada masa Nabi Ibrahim hidup dalam tradisi paganisme, yakni penyembahan terhadap berhala, benda-benda langit, pohon, hewan, bahkan orang yang telah meninggal dunia. Menurutnya, kemusyrikan saat itu telah menjadi tradisi turun-temurun yang dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat.
Karena itu, kehadiran Nabi Ibrahim dengan membawa ajaran tauhid menjadikannya sosok yang berbeda dari masyarakat pada masanya. “Kalau ada orang datang membawa ajaran tauhid maka bisa dipastikan ajarannya dianggap bertentangan dengan ajaran mereka,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw membawa misi yang sama, yakni mengajak manusia bertauhid kepada Allah SWT. Hal ini ditegaskan melalui Surah Ali Imran ayat 67 yang menyebut Nabi Ibrahim bukan Yahudi maupun Nasrani, melainkan seorang hanif dan muslim.
“Semua nabi itu misi utamanya sama, yaitu mengajak manusia untuk bertauhid,” tuturnya.
Dalam dakwahnya kepada sang ayah, Yunus menilai Nabi Ibrahim menunjukkan keberanian luar biasa. Ia mencontohkan dialog Nabi Ibrahim kepada Azar dalam Surah Al-An’am ayat 74 ketika bertanya, “Apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan?”
Menurut Yunus, pertanyaan itu menunjukkan keberanian seorang anak yang mempertanyakan keyakinan ayahnya sendiri. Namun keberanian tersebut tetap dibarengi dengan kelembutan dan penghormatan.
Ia menjelaskan bahwa dalam Surah Maryam ayat 42–45, Nabi Ibrahim berkali-kali memanggil ayahnya dengan panggilan “ya abati”. Menurut sejumlah penjelasan ulama, kata tersebut menunjukkan penghormatan dan kasih sayang yang sangat mendalam kepada ayah.
“Nabi Ibrahim tetap berusaha pelan, lemah lembut, tetap menunjukkan rasa hormat dan rasa cinta kepada orang tuanya,” katanya.
Yunus juga menyoroti metode dakwah Nabi Ibrahim yang mengajak kaumnya berpikir kritis. Dalam Surah Maryam ayat 42, Nabi Ibrahim mempertanyakan alasan menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, melihat, maupun memberi pertolongan.
Ia kemudian mengisahkan peristiwa Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung kecil dan menyisakan patung terbesar dengan kapak tergantung di lehernya. Saat masyarakat menuduh Nabi Ibrahim sebagai pelaku penghancuran, Nabi Ibrahim justru meminta mereka bertanya kepada patung besar tersebut.
“Nabi Ibrahim benar-benar menggunakan logikanya. Bukan sekadar berdakwah dari majelis ke majelis, tapi mengajak umatnya untuk berpikir,” ujarnya.
Menurutnya, kisah itu menunjukkan bahwa tauhid juga membutuhkan rasionalitas. Berhala yang bahkan tidak mampu membela dirinya sendiri tentu tidak layak disembah.
Selain itu, Yunus menekankan pentingnya dakwah yang berbasis ilmu. Ia mengutip Surah Maryam ayat 43 ketika Nabi Ibrahim berkata bahwa dirinya memperoleh ilmu yang belum dimiliki ayahnya.
“Nabi Ibrahim meyakinkan bahwa apa yang beliau sampaikan itu berdasarkan ilmu,” katanya.
Ia mengingatkan agar umat Islam berhati-hati dalam belajar agama di era banjir informasi saat ini. Menurutnya, masyarakat perlu selektif memilih sumber ilmu dan tidak mudah percaya kepada orang yang berbicara agama tanpa dasar keilmuan yang jelas.
“Dakwah itu jangan asbun, asal bunyi,” ujarnya disambut tawa jamaah.
Yunus juga menyinggung fenomena tokoh-tokoh viral di media sosial yang mengaku memiliki kemampuan supranatural tanpa dasar ilmu agama yang benar. Ia menilai hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam saat ini.
“Yang saya heran itu kok yang percaya banyak,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dakwah Nabi Ibrahim penuh dengan risiko dan penolakan. Bahkan ayahnya sendiri mengancam akan merajam dan mengusirnya jika terus berdakwah. Meski demikian, Nabi Ibrahim tetap bersabar dan mendoakan ayahnya.
“Semoga keselamatan tercurah kepadamu. Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku,” kutipnya dari doa Nabi Ibrahim dalam Surah Maryam ayat 47.
Menurut Yunus, keteladanan Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa penolakan keluarga tidak boleh menghentikan perjuangan dakwah. Kebenaran, katanya, kerap menghadapi penolakan, bahkan dari orang-orang terdekat.
Ia juga mengingatkan adanya batas dalam menaati orang tua. Mengutip Surah Luqman ayat 15, ia menegaskan bahwa orang tua tetap wajib dihormati dan ditaati selama tidak memerintahkan kemaksiatan atau kesyirikan.
“Islam mengajarkan bahwa menghormati orang tua adalah kewajiban. Namun akidah dan tauhid harus tetap diutamakan,” ujarnya.
Di akhir pengajian, Yunus mengajak jamaah mengambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim, terutama dalam menjaga adab kepada orang tua meskipun menghadapi perbedaan keyakinan maupun pendapat.
“Beliau tetap sopan santun, tetap lemah lembut, tetap menghormati, tetap mencintai bahkan tetap mendoakan kebaikan untuk orang tuanya,” pungkasnya.






