Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Bukan Ishaq, Tapi Ismail: Meluruskan Sejarah Kurban Nabi Ibrahim

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Bukan Ishaq, Tapi Ismail: Meluruskan Sejarah Kurban Nabi Ibrahim

Perdebatan tentang siapa putra yang hendak dikurbankan oleh Nabi Ibrahim merupakan salah satu diskursus klasik dalam kajian tafsir. Namun jika ditelusuri secara cermat melalui dalil-dalil al-Qur’an, hadis, serta riwayat para sahabat dan tabi‘in, pendapat yang lebih kuat menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah Nabi Ismail, bukan Ishaq.

Al-Qur’an sendiri, dalam surat ash-Shaffat, memang tidak menyebutkan secara eksplisit nama anak tersebut. Ayatnya menggunakan ungkapan yang masih bersifat umum:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Artinya: “Maka ketika anak itu telah sampai pada usia dapat berusaha bersama Ibrahim, ia berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’” (QS. ash-Shaffat [37]: 102)

Penggunaan kata yā bunayya (wahai anakku) memang bersifat mubham (tidak tegas menyebut nama), sehingga memerlukan penjelasan dari Sunnah Nabi sebagai tafsir otoritatif. Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat yang sangat kuat melalui sabdanya:

أَنَا ابْنُ الذَّبِيْحَيْنِ

Artinya: “Aku adalah anak dari dua orang yang (pernah) disembelih.”

Makna hadis ini dijelaskan oleh para ulama bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keturunan dari dua sosok yang sama-sama pernah menjadi objek penyembelihan: pertama, Nabi Ismail sebagai putra Nabi Ibrahim; dan kedua, Abdullah, ayah beliau, yang pernah dinazarkan untuk disembelih oleh kakeknya, Abdul Muthalib, sebelum akhirnya ditebus dengan seratus ekor unta.

Riwayat ini disebutkan oleh sejumlah ahli hadis seperti al-Hakim dan Ibnu Mardawaih dari Mu‘awiyah, dan diperkuat oleh banyak ahli sejarah serta mufassir. Ia menjadi indikator penting bahwa sosok “dzabih” pertama dalam sejarah kenabian adalah Ismail, bukan Ishaq.

Sebaliknya, pendapat yang menyatakan bahwa yang dikurbankan adalah Nabi Ishaq banyak dipengaruhi oleh riwayat israiliyat yang masuk ke dalam sebagian kitab tafsir. Dalam tradisi tersebut terdapat tambahan redaksi seperti:

إِذْبَحْ بِكْرَكَ وَوَحِيْدَكَ إِسْحَاقَ

Artinya: “Sembelihlah anak sulungmu, satu-satunya, yaitu Ishaq.”

Namun tambahan kata “Ishaq” ini dinilai sebagai bentuk penyimpangan. Ulama tafsir kontemporer, seperti Wahbah az-Zuhaili, menegaskan:

فَكَلِمَةُ “إِسْحَاقَ” مِنْ زِيَادَتِهِمْ وَتَحْرِيْفِهِمْ لِكِتَابِ اللهِ، وَإِلاَّ فَإِنَّ إِسْحَاقَ لَمْ يَكُنْ بِكْرَ إِبْرَاهِيمَ وَلَمْ يَكُنْ وَحِيْدَهُ، بَلِ الَّذِي كَانَ كَذَلِكَ هُوَ إِسْمَاعِيلُ

Artinya: “Kata ‘Ishaq’ itu merupakan tambahan dan penyimpangan mereka terhadap kitab Allah. Sebab, Ishaq bukanlah anak sulung Ibrahim dan bukan pula satu-satunya. Yang demikian itu adalah Ismail.”

Penjelasan ini diperkuat oleh fakta sejarah yang menunjukkan bahwa Ismail adalah anak pertama Nabi Ibrahim. Ia lahir ketika Ibrahim berusia 86 tahun, sedangkan Ishaq lahir ketika Ibrahim berusia 100 tahun. Artinya, terdapat selisih usia sekitar 14 tahun di antara keduanya. Dengan demikian, pada saat perintah penyembelihan itu datang, satu-satunya anak yang dimiliki Ibrahim hanyalah Ismail. Maka, istilah “anak tunggal” secara logika historis lebih tepat merujuk kepada Ismail.

Lebih dari itu, banyak riwayat dari kalangan sahabat dan tabi‘in yang secara tegas menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Di antaranya berasal dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, serta dari kalangan tabi‘in seperti Sa‘id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri, dan Mujahid. Pendapat ini bahkan ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya:

وَهَذَا الْقَوْلُ أَقْوَى فِي النَّقْلِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ

Artinya: “Pendapat ini lebih kuat dari segi riwayatnya, baik dari Nabi, para sahabat, maupun para tabi‘in.”

Dengan demikian, jika seluruh dalil dikumpulkan—baik dari al-Qur’an, hadis, maupun riwayat generasi awal Islam—maka kesimpulan yang paling kokoh adalah bahwa putra yang hendak dikurbankan oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail.

Tinggalkan Balasan