MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya penguatan kualitas kader dalam tubuh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai bagian dari kader inti persyarikatan.
Hal itu disampaikan dalam sambutannya pada acara Pengukuhan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) Periode 2026–2028 yang dipimpin Dany Rahmat Muharram, di Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (12/04).
Dalam pidatonya, Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah bersifat terbuka dalam proses kaderisasi, namun kader yang tumbuh dari organisasi otonom seperti IPM memiliki kedekatan ideologis yang lebih kuat. Oleh karena itu, mereka memikul tanggung jawab yang tidak ringan sebagai “kader inti” yang harus menunjukkan kualitas unggul.
“Keintian itu justru harus menunjukkan bagaimana kita punya kualitas yang lebih dibanding yang lain,” tegas Haedar.
Tantangan Generasi Z dan Era Digital
Haedar menyoroti perubahan besar dalam lanskap kehidupan generasi muda saat ini, khususnya generasi Z dan generasi alfa yang menjadi medan gerak IPM. Menurutnya, perubahan sosial, budaya, dan teknologi berlangsung sangat cepat dan kompleks, terutama di lingkungan perkotaan dan megapolis.
Ia menggambarkan bagaimana dunia pelajar kini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang tradisional seperti masjid atau sekolah, tetapi juga meluas ke ruang digital dan pusat-pusat gaya hidup modern. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence), telah membentuk karakter generasi yang “native digital”.
Namun demikian, Haedar mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan dimensi kemanusiaan. “Memadukan dimensi yang human dengan digital native itu tidak gampang,” ujarnya.
Ia menilai kecenderungan ekstrem baik terlalu menolak teknologi maupun larut sepenuhnya di dalamnya harus dihindari.
Lebih lanjut, Haedar menjelaskan bahwa visi “mencerdaskan semesta” yang diusung IPM merupakan aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya konsep iqra dan “nun wal qalami wa ma yasthurun”. Ia menekankan bahwa perintah membaca dalam Islam tidak sekadar bermakna literal, tetapi mencakup tafakur, tadabur, dan eksplorasi ilmu secara menyeluruh.
“Iqra bukan hanya membaca secara verbal, tetapi membaca realitas, membaca semesta, dan membaca wahyu dengan kesadaran tauhid,” jelasnya.
Menurutnya, tauhid tidak boleh dipahami secara sempit sebagai konsep teologis semata, melainkan harus menjadi basis dalam membangun peradaban, ilmu pengetahuan, dan tindakan sosial. Tauhid, kata dia, adalah jalan untuk mencerdaskan kehidupan sekaligus menjadi landasan dalam berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Pentingnya Penguasaan Ilmu dan Bimbingan Guru
Haedar juga mengingatkan pentingnya penguasaan ilmu agama dan umum secara mendalam, dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani sebagaimana dikembangkan dalam tradisi tarjih Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa proses belajar tidak bisa dilepaskan dari peran guru, meskipun akses informasi kini semakin terbuka.
“Kalau tanpa guru, otodidak itu bisa kesasar,” katanya.
Ia mengajak kader IPM untuk memperkaya diri dengan literatur keislaman dan pemikiran Muhammadiyah, termasuk gagasan-gagasan Ahmad Dahlan yang telah dikodifikasi dalam berbagai karya. Hal ini penting agar kader tidak kehilangan arah ideologis di tengah derasnya arus informasi, terutama dari media sosial.
Dalam aspek intelektual, Haedar menekankan pentingnya membangun pola pikir ilmiah yang sistematis, logis, dan metodologis. Ia mengingatkan kader IPM yang mayoritas mahasiswa untuk serius dalam studi dan tidak terjebak romantisme aktivisme yang mengabaikan akademik.
“Masa pelajar kok tidak cepat kuliahnya. Harus cepat juga selesai,” ujarnya, mengkritik budaya lama yang justru membanggakan keterlambatan studi.
Ia juga mendorong kader untuk mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu dasar lainnya guna memperkuat kerangka berpikir.
Di akhir sambutannya, Haedar menyerukan agar IPM bergerak secara dinamis dan progresif. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah membutuhkan generasi yang tidak hanya melanjutkan, tetapi juga menyempurnakan gerakan.
“Kalau bergerak apa adanya, nanti ketinggalan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi tantangan sebagai proses pembentukan kematangan. Menurutnya, kemampuan seseorang akan meningkat seiring dengan tantangan yang dihadapi.
“Kalau ingin lebih, Anda harus terbiasa menghadapi masalah dan menyelesaikannya,” tegasnya.
Haedar menutup dengan optimisme bahwa generasi IPM saat ini mampu membawa Muhammadiyah ke arah yang lebih maju. Ia menyatakan bahwa masa depan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sangat bergantung pada kualitas kader muda yang hari ini sedang ditempa.
“Saya yakin generasi Anda bisa jauh lebih baik dari generasi kami,” pungkasnya.






