Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Membangun Peradaban Islam Maju Tak Cukup dengan Romantisasi Sejarah

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Membangun Peradaban Islam Maju Tak Cukup dengan Romantisasi Sejarah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG – Meneguhkan kembali peradaban Islam yang maju tak cukup dengan romantisme sejarah kejayaan peradaban Islam masa lalu, tapi dibutuhkan kemandirian, kedaulatan, dan persatuan, serta transformasi berbasis nilai ketauhidan.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Ahad (8/3) malam dalam Ceramah Tarawih di Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB).

Haedar Nashir percaya bahwa peradaban Islam memiliki nilai dan pondasi yang kokoh untuk direkonstruksi, akan tetapi tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah – maka tak cukup rekonstruksi, tapi juga transformasi.

Oleh karena itu nilai tauhid sebagai dasar umat Islam tidak boleh hanya bersifat normatif. Melainkan nilai tauhid yang meliputi iman dan takwa harus dijadikan sebagai nilai hidup (living value) dalam jiwa rasa, pikiran, dan orientasi tindakan.

Ketauhidan murni menurutnya harus menjadikan muslim kuat, baik secara iman, pengetahuan, termasuk penguasaan sains. Diharapkan dengan bekal itu dapat dijadikan sebagai modal untuk mengurus kehidupan dan membangun peradaban.

Dari Tauhid ke Ilmu yang Transformatif

Membangun peradaban maju, menurut Haedar, membutuhkan transformasi ilmu. Hal ini selaras dengan semangat Islam, sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

“Bukan ilmu fikih semata, tetapi juga sains pada umumnya, termasuk sains kehidupan itu terus menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari,” ungkapnya.

Tradisi ilmu perlu digaungkan sampai pada kelompok muslim terkecil – ilmu tidak boleh hanya beredar di elit agama – sehingga tidak ada lagi kelompok muslim yang bertindak tanpa ilmu hanya reaksioner semata.

“Kaum muslimin tidak cukup berpikir demagog – berpikir serba dogmatis, begitu juga para tokohnya yang bisa membakar semangat jihad tetapi tidak bisa membangun peradaban. Bahkan jihad dalam makna yang luas,” imbuhnya.

Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan muslim untuk membangun peradaban adalah rekonstruksi mentalitas berbasis akhlak. Dalam hal ini, akhlak tak sebatas norma baik atau buruk, tapi akhlak publik.

Kebaikan akhlak atau akhlak mulia tidak boleh hanya berada di dalam masjid saja, tapi harus hadir pula di ruang-ruang publik. Meski demikian, tak lantas menjadikan seorang muslim itu merasa diri paling suci.

Membangun Kebudayaan Islam Tanpa Meninggalkan Kebudayaan Luhur

Guru Besar Ilmu Sosiologi ini menjelaskan, bahwa peradaban itu dibangun di atas kebudayaan luhur yang tinggi. Sebab unsur peradaban Islam tak sekadar hal-hal yang sifatnya ruhaniah, tetapi juga sampai urusan fisik.

Peradaban maju menurutnya membutuhkan tata sistem yang kompleks, mulai dari sistem religi, pengetahuan, kesenian, teknologi, ekonomi, dan seluruh pranata lainnya yang dibutuhkan untuk kehidupan.

“Umat Islam jika ingin maju baik di tingkat dunia maupun di negeri tercinta, selain iman, takwa, dan akhlak yang ditransformasikan tadi bukan yang dogmatis, juga memerlukan instrumen-instrumen dinamis untuk merebut peradaban,” katanya.

Berbagai ketertinggalan Islam saat ini, katanya, harus dikejar dan kejayaan peradaban dapat direbut kembali ke tangan Islam, namun demikian ini tidak bisa dilakukan serta merta, melainkan harus tahap demi tahap.

“Harus dimulai tahap demi tahap. Kita resah dengan keadaan di level nasional maupun global. Kita pandang dunia tidak baik-baik saja, tetapi membangun peradaban tidak boleh berhenti,” ungkapnya.

Segala usaha membangun peradaban maju yang dilakukan Islam dan Muhammadiyah khususnya, bukan reaktif semata, melainkan proyeksi ke depan – tidak semata untuk kebaikan dunia tapi kehidupan abadi di akhirat kelak.

Tinggalkan Balasan