MUHAMMADIYAH.OR.ID, DENPASAR – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan sarana pembentukan pribadi muslim yang tangguh, disiplin, dan solid.
Pesan tersebut ia sampaikan dalam ceramah Tarawih di Masjid An-Nur, Denpasar, Bali pada Selasa (24/2).
Menurut Mu’ti, bulan Ramadan adalah bulan agung yang sarat hikmah. Keistimewaannya tidak hanya terletak pada aspek ritual, melainkan juga pada dimensi sosial dan spiritual yang membentuk karakter umat.
Mu’ti mengajak jamaah memahami ayat-ayat tentang puasa melalui empat dimensi penting.
Pertama, setiap ibadah harus memiliki dalil yang jelas agar tidak terjerumus pada praktik yang menyimpang.
Kedua, niat karena Allah menjadi penentu diterima atau tidaknya ibadah.
Ketiga, kaifiyat atau tata cara pelaksanaan yang benar, seperti berpuasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Ia mengingatkan agar umat tidak meremehkan aturan ibadah.
Keempat, hikmatut tasyri’, yakni nilai dan hikmah di balik disyariatkannya puasa.
Mengutip pemikiran Fazlur Rahman, Mu’ti menjelaskan bahwa setiap ibadah memiliki konteks historis. Puasa diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, masa formatif pembentukan masyarakat Islam di Madinah. Saat itu, terjadi fragmentasi sosial antara suku Aus dan Khazraj, serta dinamika relasi dengan komunitas Yahudi.
Dalam konteks tersebut, Allah menurunkan perintah persatuan sebagaimana termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 103, agar umat Islam tidak terpecah belah dan mampu membangun kekuatan bersama.
Pada tahun yang sama, umat Islam menghadapi Perang Badar dengan kekuatan yang tidak seimbang. Meski dalam kondisi berpuasa dan serba terbatas, mereka tetap teguh. Kemenangan diraih berkat keimanan dan keteguhan hati, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Anfal ayat 17.
Dari peristiwa tersebut, Mu’ti menegaskan bahwa puasa disyariatkan untuk membentuk mentalitas kuat dan keberanian. Puasa melatih umat agar tidak mudah goyah, baik dalam kondisi sulit maupun saat lapang.
Ia juga menjelaskan makna frasa min qoblikum dalam Al-Qur’an yang menunjukkan kesinambungan syariat puasa sejak nabi-nabi terdahulu. Selain itu, Islam hadir untuk meluruskan praktik puasa yang telah mengalami penyimpangan. Ia mengutip pandangan Al-Qurtubi bahwa terdapat distorsi dalam praktik puasa umat terdahulu, sehingga Islam mengembalikannya pada ajaran yang moderat dan proporsional, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 187.
Menurut Mu’ti, esensi puasa adalah menahan diri dan membangun resiliensi. Puasa bukan sekadar tidak makan karena ketiadaan, tetapi menahan diri meskipun makanan tersedia. Di situlah letak latihan kesabaran, disiplin, dan pengendalian diri.
Secara khusus, Mu’ti menyampaikan pesan kepada muslim di Bali yang hidup sebagai minoritas. Ia menekankan pentingnya kesabaran, kekuatan mental, disiplin, dan solidaritas.
Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 249 tentang betapa banyak kelompok kecil yang mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah, serta ayat 45 yang memerintahkan menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.
Menurutnya, kesabaran yang diajarkan puasa memiliki ciri tidak tergesa-gesa, terencana, tidak cepat puas diri, serta membangun solidaritas kolektif. Ia mencontohkan bagaimana komunitas minoritas lain mampu maju karena soliditas dan disiplin yang kuat.
Menutup tausiyahnya, Mu’ti mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat kesabaran, soliditas, dan kedisiplinan, sehingga mampu memberikan kontribusi terbaik di tengah masyarakat.
“Puasa harus menjadikan kita lebih sabar, lebih solid, dan lebih disiplin, sehingga di mana pun kita berada, kita mampu tampil sebagai pribadi yang tangguh dan membawa kemaslahatan,” pungkasnya.






