MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dalam dunia industri kreatif, Artificial Intelligence (AI) tidak lagi menjadi objek asing. Kini, AI sudah dianggap partner kerja, partner brainstorming bagi para penggiat dunia kreatif dalam mengembangkan karyanya.
Salah satunya Indra Triwahyudy, Co Founder Nestetika. Melalui tangan terampil dan ide kreatifitasnya bersama tim, ia mampu memanfaatkan AI atau Akal Imitasi ini menjadi karya-karya yang menarik dan bernilai jual tinggi. Mulai dari karya infografis hingga animasi.
Dalam kegiatan Workshop Design Creative yang digelar Bagian Media Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Rabu (12/11), Indra berkesempatan berbagi ilmu terkait pengalamannya memanfaatkan AI. Ia menjelaskan bahwa kehadiran AI dapat menjadi solusi atas berbagai tantangan produksi konten kreatif. Teknologi ini mampu memangkas waktu sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Dalam materi bertajuk “Limitasi Akal Imitasi,” Ia meyakini bahwasanya AI mampu memberikan akses inklusif bagi siapapun untuk berkreasi. Tanpa harus memiliki latar belakang desain profesional. Dunia desain yang dahulu terkesan eksklusif, kini dapat menjadi ruang berkreasi yang ramah bagi semua kalangan.
“AI membuat orang bisa melakukan desain tanpa perlu belajar rumit,” jelasnya
Ia menilai bahwa AI memungkinkan para penggunanya untuk melakukan personalisasi konten sesuai dengan persona yang ingin dibangun. Karena sejatinya, manusia tetap memegang kendali utama dalam proses kerja AI. Teknologi hanya mengikuti perintah yang diberikan.
“Kita adalah sutradaranya, ” ujar Founder Koyoki tersebut.
Sebagai creator berpengalaman di bidang Akal Imitasi, Indra membeberkan resep rahasianya dalam menciptakan konten AI yang baik. Hal itu meliputi prompt yang jelas, terstruktur, dan didukung kombinasi data yang tepat.
“Perlu mengkombinasikan dari banyak sumber untuk membuat hasil AI yang unik,” jelasnya dalam kegiatan tersebut.
Namun, Indra menegaskan bahwa Artificial Intelligence tidak lebih dari sekadar alat. Akal manusialah yang menjadi kunci dari segala kunci produksi kreatif. Dan hal itu sudah menjadi paten, yang tidak dapat tergantikan. Untuk menghasilkan konten yang autentik, pola berpikir kreatif dan kemampuan fundamental menjadi poin penting yang perlu diasah terlebih dahulu.
Menurutnya, di tengah derasnya perkembangan Artificial Intelligence, core value sebuah karya terletak pada ide, hasil berpikir kreatif manusianya.
“Creative thinking tidak bisa diserahkan kepada mesin,” pungkas Indra. (Fiya)
