Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Mencapai Al-Falah: Menyemai Kebahagiaan dan Keberhasilan melalui Ajaran Islam

Oleh admin • • 2 Menit Min
Mencapai Al-Falah: Menyemai Kebahagiaan dan Keberhasilan melalui Ajaran Islam

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dalam pengajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (5/10), Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Asrul Jamaluddin, menyampaikan ceramah bertema “Al-Falah: Menyemai Kebahagiaan dan Keberhasilan.”

Arul menguraikan fungsi agama dalam kehidupan manusia dan menautkannya dengan konsep al-falah—kebahagiaan dan keberhasilan sejati menurut Islam.

Asrul menjelaskan bahwa agama memiliki tiga fungsi utama: tanwirul afkar (pencerahan pemikiran), tahzibul akhlak (penyempurnaan akhlak), dan tanzimul amal (pengaturan amal perbuatan).

Agama, kata dia, bukan hanya sistem keyakinan, tetapi pedoman hidup yang menuntun manusia berpikir jernih, berakhlak mulia, dan berbuat baik dalam setiap bidang kehidupan.

Ia kemudian mengaitkan konsep al-falah dengan kalimat azan hayya ‘alal falah—ajakan menuju kemenangan. Menurut Asrul, seruan ini tidak hanya mengajak umat untuk menunaikan salat, melainkan juga memanggil manusia agar berjuang meraih kehidupan yang sejahtera dan bermakna.

Dalam Al-Qur’an, kata aflaha digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat, mereka yang tekun mengolah hidup sebagaimana petani yang menggarap tanahnya.

Menariknya, Asrul menyinggung hubungan antara kata falah (keberhasilan) dan fallah (petani) yang berasal dari akar yang sama. Ia mengutip penelitian tahun 2020 yang menyebutkan bahwa petani yang mengelola lahannya sendiri cenderung lebih bahagia dibandingkan profesi lain. Kebahagiaan mereka tumbuh dari kepuasan melihat hasil kerja nyata, bukan semata dari materi.

“Petani tidak mudah putus asa. Gagal panen hari ini, besok mereka menanam lagi,” ujarnya.

Namun, ia menyayangkan pandangan masyarakat yang sering meremehkan profesi petani. Padahal, menurutnya, petani berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan, yang menjadi salah satu pilar utama keamanan nasional selain spiritualitas dan militer.

Karena itu, generasi muda perlu menumbuhkan kembali kebanggaan terhadap dunia pertanian.

Lebih lanjut, Asrul menjelaskan bahwa falah dalam kehidupan dunia dapat dilihat dari empat aspek: biologis (kesehatan dan keturunan), ekonomi (kemandirian finansial), sosial (hubungan harmonis dengan sesama), dan politik (partisipasi dalam pengambilan keputusan).

Semua itu, katanya, harus dijalani dengan nilai-nilai keislaman agar melahirkan kebahagiaan sejati.

Ia juga mengingatkan pentingnya ketekunan dalam ibadah sebagai jalan menuju falah. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW, orang yang menjaga salat, puasa, dan zakat dengan benar akan memperoleh keberuntungan sejati.

“Salat mencerminkan moral publik, puasa melatih pengendalian diri, dan zakat menumbuhkan kepedulian sosial,” tutur Asrul.

Di akhir ceramah, Asrul menyoroti tantangan pendidikan dan ketenagakerjaan di Indonesia. Banyak lulusan sarjana, katanya, terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai bidangnya, sehingga kehilangan semangat. Ia mendorong agar pendidikan tidak semata dipahami sebagai jalan mencari pekerjaan, tetapi sebagai sarana meningkatkan kualitas hidup dan pengabdian.

Asrul menutup ceramahnya dengan ajakan untuk menanam nilai-nilai falah dalam kehidupan sehari-hari. Berpikir jernih, berakhlak baik, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Dengan cara itulah, umat Islam dapat mencapai kebahagiaan yang sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

Tinggalkan Balasan