Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Kehidupan Nabi Saw sebagai Penggembala | Serial Sirah Nabawi 9

Oleh admin • • 4 Menit Min
Kehidupan Nabi Saw sebagai Penggembala | Serial Sirah Nabawi 9

Menggembala adalah salah satu pekerjaan tertua yang telah mengubah wajah dunia. Profesi ini menandai titik balik besar dalam sejarah manusia. Dari pemburu nomaden yang hidup dalam ketidakpastian menuju komunitas agraris yang mulai merancang masa depan.

Di padang penggembalaan, manusia belajar merawat, menjaga, dan bertanggung jawab atas kehidupan lain yang bergantung sepenuhnya pada dirinya. Di sanalah manusia untuk pertama kalinya melatih kesabaran panjang. Karena ritme hidup kawanan ternak jauh lebih lambat daripada ambisi manusia.

Untuk membayangkan betapa besarnya perubahan itu, kita harus sejenak keluar dari hiruk pikuk dunia modern. Bayangkan kamu memiliki mesin waktu yang super canggih. Mesin itu mengantarkan kamu ke jantung perbukitan Yudea atau gurun Arabia di abad ke-6. Jika kamu mengharapkan kemewahan, kamu salah.

Di hamparan gurun pasir yang tak berujung itu, kamu akan menyaksikan perubahan besar dalam gaya hidup manusia. Mereka tidak lagi mengejar hewan buruan yang lari ke hutan atau padang, melainkan menggiring kawanan yang jinak dan harus dijaga hari demi hari.

Berburu hanya menuntut ketangkasan sesaat, tetapi menggembala menuntut kewaspadaan yang tak pernah selesai. Konsekuensinya, manusia dipaksa mengubah cara berpikir. Dari yang awalnya sekadar bertahan hidup untuk hari ini, menjadi perencana jangka panjang demi keberlangsungan besok.

Konsekeunsinya, seorang gembala ditempa untuk sabar, tegar, dan tajam instingnya. Karena satu kawanan domba saja yang hilang berarti kehancuran bagi sebuah keluarga. Dan domba-domba yang tersesat itu, meski tampak sepele, bisa menentukan garis tipis antara hidup dan kelaparan.

Karena itu, tradisi menggembala sering dipandang sebagai fase pembentukan diri. Di sana seseorang belajar mengendalikan rasa takut, melindungi yang lemah, dan menanggung tanggung jawab besar. Seakan ada hukum tak tertulis bahwa mereka yang kelak akan memimpin manusia terlebih dahulu harus ditempa belajar dengan menjaga kawanan domba.

Seorang gembala juga harus jauh dari hiruk pikuk kota dan dekat dengan alam. Dia membaca arah angin, awan, dan tanda-tanda cuaca. Sebab ancaman tidak selalu datang dari serigala atau hewan buas, melainkan dari badai, panas terik, atau malam yang membeku.

Dan ketika tak ada ancaman sama sekali, seorang gembala dibiarkan sendirian bersama kesunyian. Di situlah ia belajar merenung, menghadapi pikirannya sendiri, dan menemukan kedalaman batin. Para gembala begitu akrab dengan renungan-renungan mendasar tentang hidup dan mati.

Tidak mengherankan bila banyak tokoh yang kelak mengguncang sejarah justru memulai hidup mereka di padang penggembalaan. Musa di padang gersang Sinai, Daud di perbukitan Yudea, dan Muhammad di gurun Arabia yang tandus. Mereka semua pernah menjadi penggembala. Ini semacam “sekolah alam” yang jauh lebih efektif daripada gelar-gelar akademik modern.

Faktanya, Nabi Muhammad Saw sendiri menegaskan hal tersebut. Beliau bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali dia adalah seorang gembala.” Para sahabat yang terkejut bertanya, “Bagaimana dengan engkau, wahai Rasulullah?” Dan Nabi menjawab, “Ya, aku adalah gembala, dulu aku menggembalakan domba milik penduduk Makkah dengan imbalan beberapa dinar.”

Hadis ini menunjukkan bahwa sejak muda Nabi Saw telah bekerja keras dengan penuh tanggung jawab. Beliau menerima upah kecil beberapa dinar, jumlah yang sederhana pada masa itu, namun tetap dijalani dengan amanah dan kesungguhan. Dari pengalaman inilah tumbuh pribadi yang kuat, sabar, dan siap memikul misi yang jauh lebih besar kelak.

Hikmah dari paparan di atas jelas bukan supaya kamu buru-buru beli kambing lalu update di Instagram, “lagi jadi gembala nih, biar kayak Nabi”. Bukan itu. Pesan utamanya jauh lebih dalam. Rasulullah Saw tidak sedang memberi tutorial cara sukses beternak. Rasulullah Saw memberi teladan bagaimana menghadapi pekerjaan apa pun dengan kesungguhan.

Lihatlah Nabi Saw, diupah sedikit tapi tetap profesional. Tidak ada cerita beliau asal-asalan, apalagi pura-pura sibuk lalu titip gembalaan ke orang lain. Semuanya dijalani sepenuh hati.

Nah, sekarang coba bandingkan dengan kamu. Upahmu jelas lebih besar, tapi masih juga betah rebahan seharian sambil scroll TikTok. Deadline numpuk, skripsi tak kunjung kelar, laporan kantor entah di mana, tapi jari terus lincah buat swipe layar. Kalau Nabi Saw menggembala dengan main-main seperti itu, mungkin satu kampung sudah kehilangan kambingnya!

Jadi jelas, hikmah dari peran Nabi Saw jadi penggembala ini bukan soal jenis pekerjaannya, tapi soal sikap. Apakah kamu dosen, mahasiswa yang sedang dikejar deadline skripsi, sopir online yang banting setir di panas dan hujan, pegawai kantoran yang berjibaku dengan laporan, semua itu adalah ladang latihan.

Latihan agar kita terus memperbaharui diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab, sabar, dan profesional. Jadi, apakah kamu siap menjadi “penggembala” yang baik dan benar di bidangmu saat ini?

Referensi:

Martin Lings, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, London: George Allen & Unwin, 1983.

Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Beirut: Dār Ibn Katsir, 1423/2002.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Fikih Tata Kelola”, dalam Berita Resmi Muhammadiyah Nomor 06/2010-2015/Ramadhan 1435 H/Juli 2014 M, Yogyakarta: Gramasurya, 2014.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.

Tinggalkan Balasan