Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Bisakah Membeli Akhirat dengan Dunia? Begini Caranya!

Oleh admin • • 3 Menit Min
Bisakah Membeli Akhirat dengan Dunia? Begini Caranya!

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Feri Septianto, menyampaikan ceramah bertema “Membeli Akhirat dengan Dunia” di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad pagi (28/09) .

Dalam ceramahnya, Feri mengajak jemaah untuk memahami hakikat dunia sebagai sarana menuju kehidupan akhirat yang kekal, bukan tujuan utama hidup.

Feri memulai dengan menggambarkan kehidupan sebagai serangkaian fase. Manusia hidup di dunia, kemudian melewati alam barzakh setelah kematian, sebagai tangga menuju akhirat.

“Dunia ini hanya sementara, hina, dan rendah, berasal dari kata ‘dani’ yang berarti hina. Namun, dunia bisa menjadi mulia jika digunakan untuk taat kepada Allah,” ujarnya, mengutip Al-Qur’an, “Wal akhiratu khairun wa abqa” (akhirat lebih baik dan kekal).

Ia menegaskan bahwa dunia adalah “darul bala,” tempat ujian, penuh dengan kesedihan dan musibah, namun juga jembatan untuk meraih ridha Allah.

Mengibaratkan tema ceramahnya sebagai transaksi jual beli, Feri menyebutkan empat “mata uang” duniawi yang dapat digunakan untuk “membeli” akhirat: usia, harta, ilmu, dan tenaga.

Pertama, ia menekankan pentingnya memanfaatkan usia untuk beribadah.

“Usia kita terbatas, tidak seperti Nabi Nuh yang berdakwah 950 tahun. Dari 24 jam sehari, berapa banyak yang kita gunakan untuk ibadah?” tanyanya, mengingatkan bahwa kematian adalah pengingat untuk tidak menunda-nunda kebaikan.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Shalli shalata muwaddi’” (shalatlah seperti shalat perpisahan), agar setiap ibadah dilakukan dengan penuh kesadaran seolah menjadi yang terakhir.

Kedua, Feri menyoroti harta sebagai alat untuk meraih surga, dengan syarat sumbernya halal dan digunakan untuk kebaikan.

Ia mencontohkan Abu Bakar As-Siddiq, yang mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah hingga “menolkan” rekeningnya, hanya menyisakan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya. Begitu pula Utsman bin Affan, yang membeli sumur milik seorang Yahudi untuk memenuhi kebutuhan air umat Islam di Madinah, meski awalnya hanya setengah kepemilikan.

“Harta yang kita keluarkan untuk sedekah, membangun masjid, pesantren, atau sumur, itulah harta kita yang sesungguhnya di akhirat,” tegas Feri.

Ketiga, ilmu yang bermanfaat menjadi investasi abadi.

Mengajarkan Al-Fatihah atau keterampilan sederhana seperti membuat poster dakwah di media sosial dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meski kita telah tiada. “Jangan minder dengan ilmu yang kita miliki, sekecil apa pun, ajarkan kepada orang lain,” ajaknya.

Keempat, tenaga juga dapat menjadi sedekah.

Feri mencontohkan perbuatan sederhana seperti menyingkirkan paku atau ranting dari jalan, yang dapat menyelamatkan banyak orang, sebagai bagian dari iman. “Imatatul aza (menyingkirkan gangguan di jalan) adalah cabang iman terendah, tapi itu sedekah,” ungkapnya, mengutip hadis Nabi tentang seseorang yang diampuni dosanya karena menyingkirkan duri dari jalan.

Feri juga mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya meski sering dikecewakan. “Manusia yang kita kecewakan mungkin meninggalkan kita, tapi Allah tetap memberikan nikmat-Nya,” ujarnya, menyebut kasih sayang Allah melebihi segalanya.

Ia menekankan pentingnya menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, bukan dunia yang hanya seperti “rest area” bagi musafir. Mengutip doa Nabi, “Wala taj’al dunya akbara hammina” (jangan jadikan dunia tujuan terbesar kami), Feri mengajak jemaah untuk menjadikan dunia sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup.

Ceramah ditutup dengan pesan Feri menggema: “Jangan sampai kita rugi dua kali, dunia tak dapat, akhirat pun lepas. Gunakan usia, harta, ilmu, dan tenaga untuk membeli surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Tinggalkan Balasan