Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

AI Memaksa Kita Berpikir Ulang tentang Makna Belajar, Berpikir Kritis, dan Kreativitas

Oleh admin • • 2 Menit Min
AI Memaksa Kita Berpikir Ulang tentang Makna Belajar, Berpikir Kritis, dan Kreativitas

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Direktur Jenderal Sains dan Teknologi di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menyampaikan pandangan menarik tentang cara masyarakat merespons hadirnya kecerdasan buatan (AI).

Pandangan itu disampaikan dalam acara SiberMu National Seminar on Business, Technology, and Health (SINABTECH) 2025, Kamis (16/10) di Ballroom SMTORIUM, SM Tower Malioboro, Yogyakarta.

Menurut Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah ini, respons masyarakat terhadap AL tidak bersifat tunggal, melainkan terbagi ke dalam beberapa kelompok besar yang mencerminkan cara pandang manusia terhadap perubahan besar yang sedang terjadi.

Ia menjelaskan bahwa ada kelompok AI pessimist, yakni mereka yang memandang AI secara negatif dan cenderung khawatir terhadap keberadaannya. Mereka takut AI akan menggantikan peran manusia bahkan menjadi ancaman bagi kelangsungan peradaban.

Sementara itu, kelompok skeptical adopters bersikap lebih hati-hati dan penuh keraguan terhadap klaim positif tentang dampak AI. Mereka mengadopsi teknologi ini dengan langkah yang terukur dan penuh kewaspadaan.

Di sisi lain, ada pula kelompok pragmatic users, yang tidak terlalu memedulikan perdebatan filosofis atau etis seputar AI. Bagi mereka, AI hanyalah alat bantu untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja sehari-hari.

Terakhir, muncul kelompok AI enthusiast, yakni mereka yang penuh antusias melihat AI sebagai peluang besar untuk mentransformasi dunia ke arah yang lebih baik. Mereka percaya AI akan menjadi pendorong utama inovasi dan kemajuan umat manusia.

Najib menjelaskan bahwa empat model respons ini diadaptasi dari riset The Future of Writing Instruction: Navigating AI’s Impact karya Becah Busselle dan Patrick Moyle. Menurutnya, memahami ragam pandangan tersebut penting karena akan memengaruhi kebijakan pendidikan dan arah pengembangan pembelajaran transformatif di Indonesia.

Lebih jauh, Najib mengaitkan fenomena AI dengan konsep “transformative learning” atau pembelajaran transformatif yang dikembangkan oleh Jack Mezirow, seorang tokoh teori pendidikan modern. Dalam konsep tersebut, terdapat sepuluh tahapan transformasi, dan salah satu yang paling mendasar adalah disorienting dilemma—yakni pengalaman yang mengguncang cara pandang lama seseorang terhadap dunia.

“Disorienting dilemma ini bisa berupa peristiwa yang mengubah hidup—seperti perceraian, perjumpaan dengan komunitas minoritas, atau bertemu dengan orang yang berbeda iman. Pengalaman itu memaksa kita untuk berpikir kritis dan meninjau ulang asumsi-asumsi yang selama ini kita yakini,” jelasnya.

Dalam konteks pendidikan masa kini, kata Najib, AI adalah bentuk baru dari disorienting dilemma. Teknologi ini memaksa kita untuk mempertanyakan kembali konsep-konsep dasar yang selama ini dianggap mapan, seperti apa arti menjadi penulis ketika mesin bisa menghasilkan buku, apa arti menjadi sarjana di dunia yang didampingi AI, atau bagaimana memahami plagiarisme ketika mesin mampu memparafrase tanpa jejak sumber aslinya.

“AI membuat kita harus mendefinisikan ulang makna kreativitas, refleksi, dan berpikir kritis. Kalau dulu orang kreatif adalah yang mampu menciptakan sesuatu dari nol, kini orang kreatif bisa jadi mereka yang paling piawai menyusun prompt untuk menggali tambang data dari AI,” ujarnya.

Menurut Najib, perubahan paradigma inilah yang melatarbelakangi penyusunan buku Pembelajaran Transformatif di Perguruan Tinggi Berbasis AI, yang ia sebut sebagai salah satu upaya merespons revolusi teknologi dengan kerangka akademik yang sehat dan etis.

“AI tidak hanya mengubah cara kita bekerja dan belajar, tetapi juga mengubah makna mendasar dari pendidikan itu sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan