Kamis, 24 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Anwar Abbas Soroti Beratnya Nasib Petani, Dorong Ekonomi Muhammadiyah Lebih Produktif

Oleh timredaksi 5 Menit Min
Anwar Abbas Soroti Beratnya Nasib Petani, Dorong Ekonomi Muhammadiyah Lebih Produktif

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Persoalan harga pangan dan kesejahteraan petani masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Di satu sisi, pemerintah berkepentingan menjaga harga pangan tetap terjangkau dan inflasi terkendali. Di sisi lain, petani menghadapi biaya produksi yang terus meningkat sementara harga jual hasil panen belum memberikan kepastian keuntungan.

Persoalan tersebut dibahas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas bersama Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Wonosobo Fata Zaki dalam program Bincang Ekonomi Islam TVMu, Sabtu (19/9).

Dalam perbincangan yang dilakukan dari Wonosobo tersebut, keduanya membahas kondisi pertanian, tantangan regenerasi petani, pengembangan usaha warga Muhammadiyah, hingga pengalaman Fata mengikuti kunjungan Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) ke China.

Fata mengatakan, kondisi petani di Wonosobo menghadapi tekanan yang semakin berat. Persoalan tersebut muncul karena biaya produksi meningkat, sedangkan harga jual hasil pertanian cenderung tidak memiliki kepastian.

“Pertanian yang saya rasakan untuk daerah Wonosobo khususnya itu kalau dipikir secara mendalam itu posisi yang sangat-sangat berat karena berhadapan dengan kebijakan pemerintah yang selalu berharap segala harga pangan itu murah,” ujar Fata.

Menurutnya, kenaikan biaya produksi menjadi salah satu persoalan utama. Pupuk dan berbagai kebutuhan pertanian semakin mahal, sementara hasil panen harus dijual dengan harga yang belum tentu mampu menutup seluruh biaya yang telah dikeluarkan.

Dalam kondisi tertentu, kata Fata, persoalan tersebut bahkan membuat petani memilih tidak memanen hasil pertaniannya. Biaya untuk memetik hasil panen bisa lebih besar daripada nilai jual hasil tersebut.

“Kadang-kadang ada di lahan pertanian yang hasil panennya sampai enggak diambil. Itu bukan kenapa-kenapa, cuma karena petani itu untuk memetiknya tidak cukup untuk membiayai biaya petiknya,” ungkapnya.

Harga Murah dan Masa Depan Petani

Anwar Abbas melihat persoalan tersebut sebagai dilema dalam kebijakan pangan. Masyarakat membutuhkan harga bahan pokok yang terjangkau, tetapi pada saat yang sama petani membutuhkan harga yang memungkinkan mereka memperoleh keuntungan.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat dari keseimbangan antara biaya produksi dan pendapatan petani. Jika biaya produksi terus meningkat sementara harga jual ditekan, profesi petani akan semakin sulit menarik minat generasi muda.

“Kalau seandainya kita ingin membuat pendapatan semakin menarik bagi anak-anak muda, maka total revenue harus jauh lebih besar daripada total cost,” kata Anwar.

Ia menilai regenerasi petani menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Anak muda yang memiliki kesempatan untuk bekerja di sektor lain akan mempertimbangkan hasil yang dapat diperoleh dalam jangka panjang.

“Kalau benar-benar dihitung dengan energi yang sama, seandainya lulus kuliah 5 tahun digelutin pertanian itu sangat mungkin masih terlalu banyak tertatih. Tapi kalau 5 tahun di usaha yang lain dia sudah semakin bisa menguasai bidangnya,” ujarnya.

Karena itu, Anwar mendorong kebijakan yang mampu menciptakan kepastian pendapatan bagi petani. Menurutnya, sektor pertanian akan lebih menarik bagi generasi muda apabila usaha tersebut memberikan keuntungan yang memadai.

“Jika itu bisa kita lakukan, maka insyaallah dunia pertanian akan semakin tumbuh dan berkembang dengan baik,” katanya.

Fata menambahkan, persoalan pertanian di Wonosobo juga berkaitan dengan perubahan arus informasi dan perdagangan. Dahulu, keterbatasan informasi membuat harga suatu komoditas dapat berbeda jauh antara satu daerah dan daerah lainnya. Kondisi tersebut kini berubah karena informasi harga dan distribusi barang semakin mudah diakses.

Wonosobo sendiri dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas hortikultura, terutama kentang dan berbagai jenis sayuran. Namun, menurut Fata, harga kentang dan sayuran dalam beberapa tahun terakhir berada dalam tekanan.

Ia juga menyinggung masuknya produk dari daerah lain maupun kemungkinan produk impor yang membuat petani lokal harus berhadapan dengan persaingan harga yang semakin ketat.

“Sekarang informasi itu sudah enggak ada yang bisa menahan. Dari mana ada barang yang mahal, dari tempat yang murah sudah langsung ke sini. Pemerintah juga memfasilitasi itu dengan infrastruktur yang semakin terjangkau,” jelasnya.

Belajar dari Perkembangan China

Selain pertanian, perbincangan tersebut juga mengangkat pengalaman Fata setelah mengikuti kunjungan SUMU ke China. Ia bersama rombongan berjumlah 52 orang berkunjung selama sekitar 5 hari untuk mempelajari perdagangan dan bisnis, khususnya pengembangan produk UMKM.

Fata menjelaskan, rombongan mengunjungi Kota Yiwu yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan pasar komoditas besar di China. Kegiatan tersebut difasilitasi SUMU Pusat sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan para pelaku usaha Muhammadiyah.

“Di sana sangat difasilitasi oleh SUMU Pusat untuk belajar bisnis dan perdagangan, terutama barang-barang produk UMKM China,” kata Fata.

Dari Wonosobo, terdapat 8 orang yang mengikuti kunjungan tersebut. Menurut Fata, tidak semuanya merupakan warga Muhammadiyah. Sebagian merupakan pelaku usaha yang tertarik bergabung dan beraktivitas bersama SUMU.

Bagi Fata, keterbukaan SUMU terhadap pelaku usaha di luar warga Muhammadiyah menjadi hal positif. Ia melihat jaringan usaha dapat menjadi ruang bersama untuk belajar dan mengembangkan bisnis.

Para peserta dari Wonosobo memiliki latar belakang usaha yang beragam, mulai dari perdagangan sembako, telepon seluler, pakaian dan jersey, hingga UMKM pengolahan produk lokal seperti carica.

Kunjungan tersebut membuat Fata melihat langsung perkembangan teknologi dan sistem perdagangan China. Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari perkembangan tersebut, terutama dalam hal teknologi produksi, efisiensi, dan ekosistem usaha.

“Kalau kita mau mengejar ketertinggalan kita, saat ini harus kita akui teknologi China itu layak sekali kita tiru,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat membangun ekosistem yang mendukung pelaku usaha lokal agar mampu meningkatkan kapasitas produksinya. Bantuan teknologi, menurutnya, diperlukan agar UMKM tidak berhenti pada produksi berskala kecil.

“Bantuan-bantuan dalam produksi dengan mesin-mesinnya itu. Lalu yang jelas yang tetap harus kita contoh utama etos kerjanya,” kata Fata.

Ia melihat etos kerja menjadi salah satu pelajaran penting dari perkembangan dunia usaha di China. Teknologi perlu diikuti dengan kedisiplinan, efisiensi, dan semangat untuk mengembangkan usaha.

SUMU dan Pilar Ekonomi Muhammadiyah

Anwar Abbas menilai pengalaman tersebut sejalan dengan kebutuhan Muhammadiyah untuk memperkuat sektor ekonomi. Ia mengingatkan bahwa aktivitas ekonomi perlu menjadi bagian dari gerakan Muhammadiyah karena persoalan umat juga berkaitan dengan kemandirian ekonomi.

Menurut Anwar, Muhammadiyah perlu mendorong lahirnya lebih banyak pengusaha dari kalangan warga dan membangun jejaring usaha yang memungkinkan mereka tumbuh bersama.

Ia menyebut SUMU sebagai salah satu langkah konkret dalam membangun ekosistem tersebut. Forum tersebut dapat menjadi tempat bertemunya pelaku usaha Muhammadiyah dengan pelaku usaha lain untuk bertukar pengalaman, membangun jaringan, dan memperluas pasar.

“Bagaimana sekarang dakwah Muhammadiyah ke sisi ekonominya,” kata Anwar.

Menurutnya, semangat kewirausahaan juga memiliki akar dalam sejarah Muhammadiyah. Karena itu, penguatan ekonomi perlu menjadi bagian dari gerakan dakwah yang lebih luas.

“Pendiri Muhammadiyah adalah seorang pengusaha dan jiwa-jiwa itu yang sangat dominan untuk mengawali langkah-langkah untuk kita lakukan tersebut,” ujarnya.

Anwar juga mengajak masyarakat untuk belajar dari berbagai pihak, termasuk dari perkembangan ekonomi China. Menurutnya, belajar dari kemajuan negara lain tidak berarti membangun permusuhan, tetapi mengambil pelajaran yang dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan bangsa sendiri.

“Kita tidak usah mengembangkan kebencian atau permusuhan dengan saudara kita. Tapi bagaimana kita bisa merajut kebersamaan,” katanya.

Ia menilai persoalan ekonomi bangsa membutuhkan kerja bersama. Penguatan sektor pertanian, industri, perdagangan, teknologi, dan UMKM perlu berjalan secara beriringan agar masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Dalam konteks Muhammadiyah, Anwar mengingatkan bahwa penguatan ekonomi telah menjadi bagian dari arah gerakan organisasi. Ia menyebut sejak Muktamar Muhammadiyah di Makassar pada 2015, Muhammadiyah telah menegaskan ekonomi sebagai salah satu pilar gerakan.

Karena itu, keberadaan SUMU diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pelaku usaha, memperluas jejaring perdagangan, dan membangun budaya kewirausahaan di lingkungan Muhammadiyah.

Pengalaman kunjungan ke China, menurut Anwar, dapat menjadi salah satu cara untuk membuka wawasan pelaku usaha Muhammadiyah terhadap perkembangan teknologi dan perdagangan global.

“Belajar kepada siapa saja dan salah satunya kita juga harus belajar kepada saudara kita dari China atau Tiongkok sana,” tutur Anwar.

Tinggalkan Balasan