Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Titik Beda Konsep Kemajuan di Muhammadiyah dengan Barat

Oleh admin • • 2 Menit Min
Titik Beda Konsep Kemajuan di Muhammadiyah dengan Barat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Rofiq Muzakkir menyebut Islam Berkemajuan di Muhammadiyah, tak sama dengan konsep kemajuan Barat yang kental dengan tradisi materialisme.

Meski secara istilah teknis mengandung kesamaan, namun Islam Berkemajuan dengan Progresif tak sama. Menurutnya, Islam Berkemajuan di Muhammadiyah memiliki kekhasan sebab berangkat dari tradisi Islam, dengan tidak melepaskan dari konteks global.

Rofiq Muzakkir menjelaskan, dalam dokumen Risalah Islam Berkemajuan (RIB) terdapat tiga maksud dari Islam Berkemajuan itu sendiri. Pertama, kemajuan dimaknai sebagai keunggulan hidup yang sebatas diukur secara material. Kedua, kemajuan sebagai rahmat seluruh alam (inklusif) tidak eksklusif ke Islam saja, sebagaimana Surat Al Anbiya ayat 107.

Sementara, maksud yang ketiga dari kemajuan dalam Islam Berkemajuan adalah dipersepsi reformasi, modernitas, dan pencerahan. Ketiganya menurut Rofiq Muzakir berbeda dengan progresif yang bertradisi dari Barat, di mana titik beratnya ada pada nilai-nilai materialisme.

“Konsep progres di dunia Barat cenderung bersifat materialistis. Kemajuan umumnya dimaknai dalam bentuk pencapaian-pencapaian duniawi, seperti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan capaian ekonomi. Meskipun aspek ini penting, orientasi sepenuhnya material telah mengabaikan dimensi spiritual,” katanya.

Hal itu tak jauh beda dengan pandangan yang dikemukakan oleh Charles Taylor dalam A Secular Age. Rofiq mengutip, dalam sekuleritas zaman modern membawa manusia kepada immanent frame atau kerangka berpikir duniawi, di sisi lain kerangka transenden tidak masuk menjadi pertimbangan.

Dia juga mengkritik, kemajuan dalam tradisi Barat ini juga inheren dengan watak rasis. Barat kerap memposisikan diri sebagai puncak peradaban, posisi memiliki konsekuensi – peradaban selain Barat itu dianggap tertinggal, bahkan pada titik ekstrim menganggap sebuah entitas itu tidak beradab.

“Konsep kemajuan Barat dianggap memahami perjalanan sejarah secara linier, dari titik awal yang negatif menuju masa depan yang lebih baik, dengan asumsi bahwa masa depan selalu lebih maju dibandingkan masa lalu. Masa lalu digambarkan sebagai periode ketidakmatangan, bahkan kerap dilabeli sebagai barbaric dan savage,” tuturnya.

Sementara, konsep kemajuan di Muhammadiyah memiliki sifat distingtif dan unik, sehingga dapat ditarik garis pembeda antara konsep kemajuan ala Muhammadiyah dengan Barat. Sebab Muhammadiyah menekankan, kemajuan mencakup dua hal yakni material dan immaterial atau lahiriah dan rohaniah.

Perbedaan ini muncul karena Muhammadiyah menjadikan nilai-nilai Al Qur’an sebagai landasan dalam konsep kemajuannya. Salah satunya dari Surat Al Qashshash ayat 77, bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mencari kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan dunia.

Dari ayat itu Rofiq menjelaskan keunggulan dunia tetap penting, namun orientasi tertinggi manusia adalah kehidupan akhirat. Dari situ konsep ihsan dapat dipahami sebagai fondasi gagasan kemajuan, yakni upaya sungguh-sungguh untuk melaksanakan kewajiban hingga melampaui batas minimal demi menghadirkan kualitas terbaik dalam kehidupan.

Tinggalkan Balasan