Berdasarkan Kalender Hijiriah Global Tunggal (KHGT), tanggal 12 Rabiulawal 1447 bertepatan dengan 04 September 2025. Tanggal tersebut mengingatkan kita pada kelahiran manusia agung, Nabi Muhammad Saw.
Beliau adalah sosok yang paling berhak mendapatkan cinta tertinggi dari seluruh umat manusia. Tidak ada seorang pun yang kedudukannya dapat menandingi beliau, baik dari sisi kemuliaan akhlak, ketinggian budi pekerti, maupun peran besar beliau dalam menyampaikan risalah terakhir dari Allah SWT.
Rasulullah Saw telah menegaskan bahwa kesempurnaan iman tidak mungkin tercapai kecuali dengan meletakkan cinta kepada beliau di atas seluruh manusia lainnya. Hadis yang masyhur menyebutkan:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa cinta kepada Nabi Saw bukan sekadar ekspresi emnosional, tapi bagian dari kesempurnaan iman kita. Umar bin Khattab pernah tidak menempatkan cintanya kepada Rasulullah Saw di posisi pertama, dan hal itu dianggap sebagai suatu kekurangan.
Namun, setelah beliau menyadari, Umar pun menegaskan bahwa cintnya kepada Rasulullah Saw harus berada di atas segalanya. Karena inilah Umat menjadi salah satu sahabat yang paling depan dalam menyukseskan dakwah risalah Nabi Muhammad Saw.
Cinta kepada Nabi Saw bukan sesuatu yang otomatis hadir sejak lahir. Mayoritas manusia tidak mengenal beliau kecuali melalui pengenalan, pengajaran, dan penghayatan sejarah serta ajarannya. Karena itu, mencintai Nabi Saw adalah jihad batin yang harus diupayakan.
Berbeda dengan cinta dan benci kepada sesama manusia yang seringkali hanya mengikuti hawa nafsu, cinta kepada Nabi Saw merupakan ibadah. Ia adalah bentuk ketaatan yang membuahkan kedekatan dengan Allah Ta’ala.
Batas dalam Mencintai Nabi Saw
Meski wajib mencintai Nabi Muhammad Saw, Islam memberikan garis batas yang jelas agar umat tidak terjerumus dalam sikap berlebihan. Rasulullah Saw sendiri mengingatkan untuk tidak memujanya secara berlebihan, sebagaimana umat Nasrani memuja Nabi Isa.
عَنْ عُمَرَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ. [رواه البخاري ومسلم]
“Diriwayatkan dari Umar ra., ia berkata: Aku mendengar Nabi saw bersabda: Janganlah kalian memuji-muji aku secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi batas penting bahwa mencintai Nabi adalah kewajiban, tetapi jangan sampai melampaui batas. Dalam artinya, jangan menempatkan Rasulullah Saw di posisi yang tidak seharusnya, misalnya jadi objek sesembahan. Rasulullah Saw tetaplah hamba Allah sekaligus utusan-Nya yang paling mulia.
Maka, ketika kita memperingati 12 Rabiulawal, yang paling esensial bukanlah sekadar acara seremonial, melainkan memperbaharui tekad untuk mencintai Nabi Muhammad Saw dengan cara yang tepat. Cinta itu dapat dibuktikan dengan menaati sunnah beliau.
Referensi:
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Hukum Mengadakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW”, dalam Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 2009.
