Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Tanggal Kelahiran Nabi Saw | Serial Sirah Nabawi 7

Oleh admin • • 4 Menit Min
Tanggal Kelahiran Nabi Saw | Serial Sirah Nabawi 7

Di dunia modern, tanggal kelahiran seorang tokoh besar sering kali menjadi bagian dari identitas kolektif. Kita merayakannya dengan kalender universal. Tanggal 14 Maret 1879 mengingatkan kita pada Albert Einstein, 2 Oktober 1869 pada Mahatma Gandhi, dan 15 Januari 1929 pada Martin Luther King Jr.

Namun, jika kita mundur ke abad ke-6 M, ke sebuah kota kecil bertandus bernama Mekah, kita memasuki dunia yang nyaris tanpa angka tahun. Bagi masyarakat Arab pra-Islam, penanggalan waktu adalah mosaik peristiwa. Tahun-tahun diberi nama sesuai tragedi besar, misalnya yang paling terkenal ‘Am al-Fīl atau Tahun Gajah.

Kisahnya bermula dari seorang bernama Abrahah al-Asyram, bawahan kerajaan Kristen di Ethiopia. Abrahah ingin mengalihkan pusat ziarah Arab dari Ka‘bah di Mekah ke gereja megah yang dibangun di San‘a. Namun rencananya gagal. Orang Arab justru tetap setia menuju Ka‘bah. Merasa harga dirinya dilecehkan, Abrahah pun menyiapkan ekspedisi militer besar-besaran.

Bayangkan pemandangan itu oleh kamu: ribuan pasukan berjalan melintasi gurun, dengan panji-panji perang berkibar di bawah terik matahari. Yang paling mengejutkan bagi penduduk Arab adalah kehadiran gajah-gajah Afrika. Bagi bangsa padang pasir, gajah adalah “senjata pemusnah massal” yang menimbulkan ketakutan luar biasa.

Ketika pasukan Abrahah tiba di pinggiran Mekah, penduduk Quraisy tak berdaya. Mereka tak memiliki pasukan yang sebanding. Di sinilah tradisi Islam mengisahkan sesuatu yang luar biasa. Dalam QS al-Fīl ayat 1-5, Allah mengirim kawanan burung kecil (ṭayran abābīl) yang menjatuhkan batu-batu kecil (sijjīl) ke arah pasukan. Kekuatan besar itu hancur berantakan dengan cara yang tak masuk akal bagi logika militer. Ka’bah pun selamat dari kehancuran.

Peristiwa itulah yang kemudian menjadi penanda kolektif bangsa Arab. Tahun itu diingat selamanya sebagai Tahun Gajah. Dan justru pada tahun itulah, seorang bayi yatim dari Bani Hasyim lahir yang kemudian diberi nama Muhammad bin Abdullah.

Kapan persisnya Nabi Muhammad lahir? Pertanyaan ini menghantui para sejarawan sejak abad pertama Islam hingga kini. Yang jelas, kelahirannya tidak mungkin bertepatan dengan hari pasukan gajah menyerbu Mekah. Besar kemungkinan beberapa bulan setelah kejadian itu. Tetapi detail waktu persisnya tetap menjadi misteri.

Ibn Ishaq sebagai penulis biografi pertama Nabi menuliskan 12 Rabiulawal, dan angka itu kemudian populer dalam kalender umat Islam. Tetapi tradisi lain menyebut tanggal berbeda. Ada yang mengatakan 9 Rabiulawal, ada pula yang menyebut 17 atau 22 Rabiulawal. Sebagian riwayat bahkan mengaitkan kelahiran beliau dengan bulan Ramadan. Lebih dari sepuluh pendapat muncul dalam literatur awal, tanpa ada satu pun yang dapat diklaim mutlak.

Hal ini sebetulnya wajar belaka. Pada masa itu, Muhammad hanyalah seorang bayi Quraisy dari keluarga terhormat, tetapi belum menjadi pusat sejarah dunia dan sistem tata waktu belum terbentuk. Akibatnya, sejarawan kemudian berhadapan dengan “blind spot historiografi”. Karenanya, kapan pastinya Nabi terakhir ini lahir mustahil diisi dengan kepastian absolut.

Namun, sains modern mencoba menembus kabut ini. Ahli astronomi melakukan rekonstruksi dengan bantuan perangkat lunak simulasi langit. Melalui kalkulasi hisab ephemeris, posisi bulan, dan siklus hilal, penelitian kontemporer yang dilakukan Anisah Budiwati menyimpulkan bahwa kelahiran Nabi paling mungkin jatuh pada Senin, 14 Rabiulawal 53 Sebelum Hijriah, bertepatan dengan 5 Mei 570 M. Menariknya, kesimpulan ini juga sejalan dengan hadis sahih yang menyebut bahwa Nabi lahir pada hari Senin.

Meski demikian, pendekatan ini pun tidak lepas dari keterbatasan. Semua rekonstruksi astronomi bergantung pada asumsi titik koordinat, metode hisab, dan perangkat lunak modern; sementara data langit abad ke-6 tidak pernah tercatat langsung oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, apa yang dihasilkan Anisah Budiwati adalah skenario paling masuk akal, tetapi tetap bukan kepastian mutlak. Misteri tanggal lahir Nabi Saw masih menyisakan ruang ketidakpastian. Karena itu, pilihan alternatif paling populer tetaplah 12 Rabiulawal sebagaimana diriwayatkan Ibn Ishaq.

Namun, bagi umat Islam, ketidakpastian kronologi tidak mengurangi rasa rindu kepada Sang Nabi. Yang lebih penting adalah bahwa kelahiran Nabi Muhammad Saw dipandang sebagai momen kebahagiaan universal.

Tradisi memperingati kelahiran Nabi ini sendiri baru membudaya beberapa abad setelah beliau wafat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa perayaan Maulid pertama kali dipraktikkan secara resmi pada masa Dinasti Fathimiyah di Mesir sekitar abad 10 dan 11 M. Saat itu, Maulid diperingati dalam lingkup elit politik dan agama.

Baru kemudian pada awal abad ke-13 M, Maulid dirayakan secara besar-besaran di kota Erbil (Irak utara) oleh penguasa Ayyubiyah, al-Malik Mudhaffar al-Din Gökburi, ipar Shalahuddin al-Ayyubi. Dari Erbil, tradisi ini menyebar luas ke dunia Islam, dipopulerkan oleh kalangan sufi dan kadang digunakan penguasa untuk memperkuat legitimasi politik mereka. Sejak abad ke-13, Maulid menjelma menjadi festival rakyat yang penuh warna.

Kini, bentuk perayaannya beragam. Di Indonesia dan Malaysia kita mengenalnya sebagai Maulid Nabi dengan pembacaan barzanji dan shalawat. Di Maroko dan sebagian Afrika Utara ada Mawlid al-Nabi yang dirayakan dengan festival musik dan dzikir. Di Turki, lahir istilah Mevlid Kandili, malam peringatan kelahiran Nabi. Bahkan di Pakistan dan India, Maulid menjadi momentum pawai dan lantunan qasidah yang meriah.

Di ranah fikih memang terjadi perbedaan pendapat soal hukum merayakan Maulid Nabi Saw. Tidak ada satu pun dalil yang secara tegas memerintahkan sekaligus tidak ada yang melarangnya. Karena itu, hukum Maulid Nabi Saw termasuk perkara ijtihadiyah. Jika perayaan ini telah membudaya di masyarakat, maka yang paling penting adalah menjaga agar tidak bercampur dengan hal-hal yang memang dilarang agama.

Dan hari ini, di abad ke-21 M, di era digital, cara merayakan Maulid Nabi juga menemukan bentuk baru. Ada yang membuat konten dakwah kreatif di TikTok, ada yang menyebarkan thread inspiratif tentang akhlak Nabi di Twitter/X, ada pula komunitas yang menggelar serial sirah nabawi secara streaming lewat YouTube dan Instagram Live.

Semua ini menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah Saw selalu menemukan ekspresi zamannya.

Referensi:

Anisah Budiwati, “Historical-Astronomic Provision of Birth and Death Prophet Muhammad Saw”, Al-Hilal: Journal of Islamic Astronomy, Vol. 1, No. 1, Tahun 2019, 1-20.

Farid Bouchiba dan Myriam Laakili, “The Celebration of the Birth of the Prophet (al-mawlid al-nabawī): Introduction to the special issue”, Remmm, 155 (1/2024), 29-48.

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Hukum Mengadakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW”, dalam Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 2009.

Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi, Ṣaḥīḥ Muslim, Riyadh: Dār Thaibah, 1427/2006.

Nico Kaptein, Muhammad’s Birthday Festival: Early History in the Central Muslim Lands and Development in the Muslim West until the 10th/16th Century, Leiden: Brill, 1993.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.

Tinggalkan Balasan