MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Wakil Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Zuly Qodir, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Jumat (29/8).
Dalam khutbahnya, Zuly mengangkat tema tentang syukur dan kufur, dua konsep penting dalam kehidupan seorang muslim.
Zuly menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, kata syukur muncul dalam berbagai bentuk hingga lebih dari 60 kali. Menurutnya, para ahli bahasa membagi makna syukur menjadi dua: pujian atau ucapan terima kasih, serta penerimaan dengan hati yang lapang atau ridha.
“Bersyukur itu bukan hanya mengucapkan alhamdulillah atau matur nuwun, tapi juga diwujudkan dalam tindakan dan sikap yang sesuai dengan kehendak Allah, Sang Pemberi nikmat,” ujarnya.
Ia mencontohkan rezeki yang tampak sederhana seperti kenaikan gaji, hasil panen, hingga hal kecil semisal makanan yang dibagikan.
Semua itu, kata Zuly, seharusnya diterima dengan terima kasih, tanpa mengukur besar atau kecil jumlahnya. Bahkan, dalam hal keluarga, ia menekankan bahwa menikah atau memiliki anak adalah rezeki, demikian pula jika tidak diberi keturunan, itu pun tetap harus disyukuri.
Lebih jauh, Zuly menguraikan tingkatan syukur. Yang paling rendah adalah ucapan terima kasih kepada Allah maupun sesama manusia. Tingkatan berikutnya adalah tindakan nyata yang tidak bertentangan dengan perintah Allah, seperti menjalankan ibadah. Adapun yang paling tinggi adalah syukur dalam hati, yaitu penerimaan ikhlas yang hanya diketahui oleh diri dan Allah.
“Bersyukur kepada sesama manusia pun penting. Dosen kepada mahasiswa, pimpinan kepada staf, atau sesama rekan kerja. Itu bukan syirik, karena berterima kasih adalah bagian dari syukur,” tegasnya.
Dalam khutbahnya, Zuly juga membahas lawan dari syukur, yakni kufur. Ia mengutip pandangan Buya Hamka bahwa kufur bukan hanya berarti ingkar, tetapi juga menutup diri dari kebenaran dan hidayah Allah.
Ia mencontohkan tokoh Quraisy seperti Abu Lahab dan Abu Jahal yang sebenarnya mengakui keberadaan Tuhan, malaikat, dan hari kiamat, tetapi menutup diri dari kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
“Orang yang kufur bukan berarti tidak percaya pada Tuhan. Mereka percaya, tapi sengaja menutup diri dari informasi yang benar. Itulah sebabnya mereka disebut kufur,” jelasnya.
Sebagai penutup, Zuly mengingatkan jamaah untuk selalu mengamalkan pesan Al-Qur’an dalam surat Ibrahim ayat 7: ‘Laʾin syakartum la-azīdannakum, wa laʾin kafartum inna ʿadzābī la-syadīd.’ (Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih).
“Mari kita biasakan mensyukuri apapun yang Allah berikan, besar atau kecil. Jangan sampai kita terjerumus dalam sikap kufur yang merasa paling hebat dan menolak nikmat Allah. Dengan syukur yang ikhlas, semoga kita menjadi hamba yang bertakwa,” pungkasnya.
