MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Seminar Risalah Akidah Islam yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah resmi ditutup pada Sabtu (29/9) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Dalam sambutannya, Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syamsul Anwar, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terselenggaranya forum ini. Ia menegaskan bahwa selama ini pembahasan Muhammadiyah lebih banyak difokuskan pada bidang ibadah dan muamalah, sementara aspek akidah dan akhlak relatif kurang tergarap.
Karena itu, lahirnya Risalah Akidah Islam menjadi upaya penting untuk mengisi kekosongan tersebut.
“Dalam ajaran Islam, Muhammadiyah membagi menjadi empat: akidah, akhlak, muamalah, dan ibadah. Ibadah dan muamalah sudah banyak diputuskan melalui fatwa Majelis Tarjih. Namun akidah dan akhlak masih sedikit sekali. Alhamdulillah, acara ini bisa menjawab kekurangan itu,” ujarnya.
Syamsul menekankan agar penyusunan Risalah Akidah Islam berpijak pada Manhaj Tarjih yang telah diputuskan dalam Muktamar Tarjih di Pekalongan tahun 2024. Menurutnya, sebuah risalah harus menjadi pedoman yang memiliki wawasan luas, tidak sekadar pernyataan intelektual, tetapi juga solutif bagi problematika umat.
Beberapa wawasan penting yang perlu menjadi pijakan antara lain: tajdid (pembaharuan) yang solutif; sikap tidak terikat pada mazhab namun tetap menghargai warisan penting dari berbagai mazhab; keterbukaan untuk berdialog dengan berbagai kalangan; serta wasathiyah (moderasi) agar tidak bersikap terlalu keras maupun terlalu lunak.
Selain itu, perlu pengembangan wawasan mendasar tentang apa itu agama Islam agar risalah ini benar-benar kokoh secara konseptual.
Dari sisi metodologi, Syamsul menegaskan bahwa sumber utama adalah al-Qur’an dan hadis, dengan pendekatan bayani (tekstual), burhani (rasional-ilmiah), dan irfani (spiritual). Dalam isu-isu akidah, katanya, pendekatan bayani saja tidak cukup.
“Kenaikan gejala ateisme menuntut kita merespons lebih serius. Misalnya, buku The God Delusion menyatakan bahwa alam ini hanya kebetulan. Ini perlu ditanggapi dengan argumentasi bayani, burhani, dan irfani sekaligus,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya sentuhan irfani agar Risalah Akidah Islam disajikan dengan gaya penulisan yang lebih manusiawi dan komunikatif, bukan sekadar akademis. Dengan begitu, risalah ini dapat menghadirkan inti akidah Muhammadiyah yang relevan serta mampu menjawab persoalan umat di era kontemporer.
“Risalah Akidah Islam harus menjadi panduan yang hidup, memberikan jawaban nyata atas tantangan zaman, sekaligus memperkuat keyakinan umat dengan cara yang bijak dan mencerahkan,” pungkas Syamsul.
