MUHAMMADIYAH.OR.ID, SLEMAN – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Irwan Akib, menegaskan bahwa seluruh aktivitas warga Muhammadiyah, baik di ‘Aisyiyah maupun organisasi otonom (ortom), harus diniatkan semata-mata untuk menggapai ridha Allah Swt.
Pesan ini ia sampaikan dalam acara Hari Ber-Muhammadiyah (HBM) se-Kabupaten Sleman, Sabtu pagi (20/09), di Masjid Agung dr. Wahidin Sudirohoesodo, Sleman.
Menurut Irwan, semangat bermuhammadiyah tidak cukup hanya hadir dua bulan sekali saat HBM, melainkan harus hidup setiap saat dalam kehidupan warga persyarikatan. Ia menyoroti betapa besar pengorbanan warga Muhammadiyah: waktu, tenaga, bahkan materi, tanpa mendapatkan imbalan duniawi.
“Pertanyaannya, kenapa kita mau melakukan itu semua? Jawabannya hanya satu: kita ingin mendapatkan ridha Allah Swt,” tegasnya.
Irwan mengingatkan bahwa ber-Muhammadiyah tidak boleh dilakukan asal-asalan. Setiap amal usaha, baik sekolah, rumah sakit, maupun program dakwah, harus dikelola dengan kesungguhan.
“Kalau kita hanya memberi sisa-sisa waktu untuk Muhammadiyah, ridha Allah tidak akan datang. Semua harus dilakukan dengan niat yang tulus, penuh keseriusan, dan kesabaran,” ujarnya.
Ia mencontohkan, seorang guru Muhammadiyah mestinya menjadikan sekolah tempat ia mengabdi sebagai bagian dari mimpinya. Begitu pula seorang kepala rumah sakit Muhammadiyah, harus meniatkan pengabdiannya untuk ibadah, bukan sekadar mencari jabatan atau keuntungan.
“Kadang kita bilang ikhlas, tapi masih ada kata ‘tapi’. Kalau masih ada ‘saya ikhlas tapi…’, berarti belum benar-benar ikhlas,” tambahnya.
Nilai-Nilai Warga Muhammadiyah
Dalam sambutannya, Irwan juga merinci sejumlah nilai yang harus ditanamkan warga Muhammadiyah.
Pertama, tauhid, yaitu ketergantungan hanya kepada Allah Swt, yang membebaskan dari kepentingan selain-Nya.
Kedua, ketaatan beribadah, terutama dalam memakmurkan masjid-masjid Muhammadiyah. Ia menyinggung fenomena masjid Muhammadiyah yang dikelola oleh pihak lain karena jamaahnya tidak aktif.
“Jangan sampai masjid yang kita bangun kosong jamaahnya. Muhammadiyah bukan hanya membangun fisik masjid, tapi juga membangun manusianya,” tegasnya.
Ketiga, warga Muhammadiyah dituntut untuk memiliki jiwa istiqamah dan keikhlasan, tidak berpindah haluan dan tidak terikat pada kepentingan pribadi.
Keempat, harus memiliki jiwa pergerakan, tidak tinggal diam, serta selalu memikirkan bagaimana Muhammadiyah dan Aisyiyah terus berkembang.
Selain itu, Irwan menekankan pentingnya kesalehan sosial. Menurutnya, K.H. Ahmad Dahlan mencontohkan melalui teologi al-Ma’un bahwa kesalehan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga kepedulian terhadap sesama.
“Orang Muhammadiyah gelisah kalau melihat saudaranya sakit, miskin, atau tertindas. Karena itu lahirlah rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dan MDMC,” katanya.
Irwan kemudian menyampaikan pesannya dengan ajakan agar seluruh amal usaha Muhammadiyah dikelola tanpa pamrih jabatan maupun kepentingan pribadi.
“Kalau kita mengurus Muhammadiyah karena ingin jabatan, berarti kita belum tulus. Ketika diberi amanah kita senang, tapi ketika diberhentikan lalu marah-marah, itu tanda kita belum ikhlas,” kata Irwan.
Acara HBM Sleman dihadiri ribuan warga Muhammadiyah, pimpinan cabang, ranting, hingga ortom. Suasana penuh antusias terlihat sejak pagi, mencerminkan semangat bermuhammadiyah yang terus hidup di tengah masyarakat.
