MUHAMMADIYAH.OR.ID, SLEMAN — Lautan manusia berseragam batik, hijau pastel, dan kopiah hitam berderet rapi. Warna-warni busana jamaah berpadu dengan cahaya hijau kaca patri, menciptakan harmoni yang menyejukkan mata.
Saf demi saf penuh sesak hingga ke barisan paling belakang, menghadirkan suasana sakral sekaligus hangat di bawah kubah megah Masjid Agung dr. Wahidin Soedirohoesodo, Sleman, Sabtu (20/9).
Sekitar lima ribu warga Muhammadiyah dari berbagai penjuru Sleman tumpah ruah dalam Hari Ber-Muhammadiyah (HBM) se-Kabupaten Sleman 2025.
Gelaran akbar yang diprakarsai oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sleman ini mengusung tema “Meneguhkan Ideologi Muhammadiyah dan Menguatkan Dakwah yang Mencerdaskan, Mencerahkan, Memajukan, dan Menggembirakan.”

Hadir sebagai penceramah utama, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib. Ia tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya melihat samudra jamaah yang hadir, sekaligus menegaskan kembali tujuan hakiki bermuhammadiyah.
“Mengapa kita mau meluangkan waktu, tenaga, bahkan materi tanpa imbalan? Karena kita hanya berharap satu hal: ridha Allah Swt. Itulah puncak harapan, itulah alasan mengapa kita rela berkorban,” ucapnya dengan suara bergetar.
Irwan juga menekankan pentingnya keberpihakan kepada kaum mustad’afin. Menurutnya, semangat bermuhammadiyah tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sosial. “Kita harus membela mereka yang lemah, yang tertindas,” ucapnya.
Sebagai kelanjutan dari pesan itu, ia mengingatkan agar setiap langkah dalam bermuhammadiyah dilandasi keikhlasan dan kesabaran. Dua hal ini tidak bisa dilewatkan begitu saja dalam misi dakwah Islam Berkemajuan.
“Membantu orang lain dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Tanpa kesabaran, hati kita akan terus menggerutu, dan itu merusak kesehatan batin kita. Karena itu, mengurus Muhammadiyah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, menjadikannya ladang ibadah yang penuh keberkahan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar pengajian, HBM Sleman 2025 menghadirkan pertemuan batin yang penuh makna. Wajah-wajah jamaah memancarkan semangat kolektif: orang tua, pemuda, hingga anak-anak larut dalam denyut ukhuwah yang sama. Di barisan ibu-ibu ‘Aisyiyah, kerudung merah muda dan biru laut tampak bagai hamparan bunga mekar di tengah taman ukhuwah.
Kemeriahan juga terpancar dari ragam kegiatan pendukung. Panitia menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis oleh PKU Gamping dan UNISA, pelayanan PPPK, KTAM Mobile, pentas seni kader muda, hingga bazaar penuh warna.
Di ujung acara, suasana yang tersisa bukan sekadar hiruk pikuk keramaian, melainkan rasa kebersamaan yang kental. Ribuan jamaah pulang dengan hati ringan, membawa semangat baru untuk terus meneguhkan dakwah dan merawat ukhuwah.
Bagi warga Muhammadiyah Sleman, HBM tahun ini menjadi pengingat sederhana: berorganisasi bukan hanya soal struktur, tetapi jalan pengabdian demi ridha Allah Swt.
