Pada abad ke-7, istana Romawi dan Persia berdiri megah dengan pilar-pilar marmer, singgasana emas, dan jamuan yang tak pernah berhenti. Kaisar hidup dikelilingi para prajurit, musisi, dan dayang. Para pejabatnya mengenakan kain sutra, makan daging setiap hari, dan tidur di atas kasur empuk yang dilapisi wol.
Kemewahan menjadi simbol kekuasaan. Bahwa semakin berkilau perhiasan seorang raja, semakin besar wibawa yang ia pancarkan. Sebuah gambaran yang seolah menegaskan bahwa kekuasaan dan kemewahan adalah dua sisi dari koin yang sama.
Namun di tanah gersang Mekkah dan Madinah, seorang Nabi yang diutus Tuhan memilih jalan yang berbeda. Umar bin Khathab pernah menemukannya beristirahat di kamar kecil yang hanya berisi kendi berisi air dan alas tidur dari pelepah kurma. Ketika Nabi bangun, tampak jelas guratan bekas anyaman keras itu di punggungnya.
Umar tertegun, bahkan menangis. Bagaimana mungkin utusan Allah hidup seperti orang miskin, sementara raja-raja dunia bergelimang harta? Nabi menjawab dengan tenang: “Apakah engkau tidak senang bila mereka memperoleh dunia, sementara kita mendapatkan akhirat?”
Kontras ini bukan hanya milik masa lalu. Sejak dulu hingga kini, dari Raja Mesir kuno hingga Perdana Menteri Nepal, banyak pejabat menjadikan jabatan sebagai tiket menuju kemewahan. Vila megah, mobil mewah, pesta gemerlap, dan mungkin pasangan simpanan. Korupsi dan hedonisme seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kekuasaan.
Pertanyaan satu dolarnya adakah seorang pemimpin masa kini yang rela hidup dalam kesederhanaan ekstrem seperti Nabi? Ataukah kesederhanaan itu kini hanya menjadi slogan kampanye yang segera hilang setelah kursi kekuasaan digenggam?
Kesederhanaan Nabi bukanlah keterpaksaan, melainkan pilihan sadar. ‘Aisyah pernah bersaksi bahwa ada masa ketika Nabi tidak makan daging selama enam minggu, hanya bertahan dengan kurma dan air. Abdurrahman bin Auf bahkan menangis mengenang Rasulullah Saw yang hingga wafat tidak pernah sekali pun makan roti gandum sampai kenyang.
Di sini kisah itu menemukan relevansinya bagi kita. Di tengah dunia yang dikuasai kecerdasan buatan, algoritma belanja, dan iklan personal yang tahu kelemahan kita lebih baik daripada kita sendiri, Nabi justru mengingatkan bahwa kepuasan bukan soal menambah, melainkan kecerdasan dalam menahan (ulin nuha).
Meski demikian, Nabi juga tidak membiarkan umatnya jatuh pada kemelaratan. Beliau bersabda: “Lebih baik seseorang bekerja dengan mengumpulkan seikat kayu bakar di punggungnya dibanding dengan seseorang yang meminta-minta (mengemis) lantas ada yang memberi atau enggan memberi sesuatu padanya.”
Artinya, kesederhanaan bukan berarti menolak kesejahteraan. Islam mendorong umatnya bekerja, berusaha, dan membangun kemandirian. Yang ditolak adalah kerakusan dan korupsi. Maka, kisah hidup Nabi bukan glorifikasi kemelaratan, melainkan kritik terhadap gaya kepemimpinan yang menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri.
Kepemimpinan, dalam teladan Nabi, dijalankan dengan integritas, pelayanan, dan tanggung jawab moral. Bandingkan dengan sebagian pejabat hari ini di mana gaji dari rakyat, proyek dari rakyat, bahkan fasilitas liburan pun dari uang rakyat, tetapi kebijakan yang lahir sering kali justru mengorbankan rakyat.
Rasulullah Saw juga seorang pemimpin yang lembut. Anas bin Malik, yang melayaninya selama sepuluh tahun, bersaksi tidak pernah sekalipun Nabi memarahinya, bahkan tidak pernah mengucapkan “ah” kepadanya.
Suatu ketika Anas yang masih belia lupa menjalankan tugas karena sibuk bermain dengan anak-anak. Nabi tidak marah, hanya tersenyum dan menepuk telinganya dengan kasih sayang.
Bandingkan dengan banyak orang tua masa kini yang mudah meledak, menjadi “toxic” bagi anak-anak mereka sendiri. Selama ini, orang tua sering menuntut anak untuk patuh, tetapi seolah lupa bahwa anak juga punya hak, yakni hak untuk diperlakukan dengan kasih sayang, hak untuk didengar, hak untuk dihargai.
Jika Nabi, seorang pemimpin besar yang memikul beban risalah, masih bisa tersenyum kepada anak kecil yang lalai, mengapa banyak orang dewasa hari ini gagal menahan amarah pada hal-hal sepele?
Bersama umatnya, Nabi juga sering tampil sebagai sosok yang merakyat. Anak-anak bebas menggenggam tangannya, sahabat-sahabat bisa bergurau dengannya. Kelakarnya polos dan jujur, tanpa tipu daya. Bukan sosok yang tiba-tiba ramah hanya ketika musim kampanye tiba.
Ketika seorang nenek bertanya apakah dirinya bisa masuk surga, Nabi menjawab: “Wanita tua tidak masuk surga.” Nenek itu menangis. Lalu Nabi menambahkan dengan senyum, “Karena Allah akan mengubah mereka menjadi gadis muda terlebih dahulu, lalu memasukkan mereka ke dalam surga.”
Kisah-kisah ini memperlihatkan seorang manusia yang kuat sekaligus lembut; sederhana sekaligus berwibawa; dekat dengan rakyat kecil, tapi juga tegas menghadapi kekuasaan. Di tengah dunia modern yang diwarnai korupsi, konsumerisme, dan kecanggihan teknologi, teladan Nabi menantang kita untuk menimbang kembali arti kepemimpinan.
Pertanyaan mendasar itu tetap sama sejak abad ke-7 hingga hari ini: Apakah masa depan umat manusia akan ditentukan oleh kekayaan materi dan panjangnya daftar konsumsi? Atau justru oleh akhlak, integritas, dan keberanian untuk hidup jujur dan sederhana?
Referensi:
Abu Isa al-Tirmidi, Asy-Syamā’il al-Muḥammadiyyah, Beirut: Dār al-Hadits, 1408/1988.
Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Beirut: Dār Ibn Katsir, 1423/2002.
Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi, Ṣaḥīḥ Muslim, Riyadh: Dār Thaibah, 1427/2006.
Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.
