Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Mengapa Allah Pilih Nabi dari Manusia dan Bangsa Arab, Bukan Kita?

Oleh admin • • 3 Menit Min
Mengapa Allah Pilih Nabi dari Manusia dan Bangsa Arab, Bukan Kita?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad (14/09) ketika Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Okrisal Eka Putra, menyampaikan ceramah penuh makna.

Mengawali dengan pembacaan Surah Al-Furqan ayat 7–8, Ustadz Okrisal mengajak jamaah merenungkan misteri ilahi di balik pemilihan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia biasa dan bangsa Arab sebagai penerima pertama risalah Islam.

Ia menyinggung keraguan kaum Quraisy yang menolak Rasulullah karena dianggap “biasa saja” yang senantiasa makan, minum, berjalan di pasar, bahkan merasakan lapar dan sedih.

“Mereka berkata, kenapa bukan malaikat saja yang diutus? Pola pikir seperti ini masih sering kita jumpai sekarang, ketika ada yang menolak ustadz hanya karena jatuh dari motor atau dianggap tak punya kesaktian. Padahal yang perlu dicari bukan kehebatan fisik, melainkan isi ceramah yang menyentuh hati dan akal,” ujarnya, disambut tawa jamaah.

Dalam nada satir, ia menyinggung rapuhnya keadilan di dunia.

“Hakim bisa disuap, jaksa pun ikut. Ingat kasus ibu dari Manado yang tanahnya dirampas meski sudah berjuang hingga Mahkamah Agung? Di dunia, yang benar bisa kalah. Inilah yang disebut Allah: ad-dunya la’ibun walahwun—dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Keadilan sejati hanya ada di akhirat, di mana Allah sendiri menjadi Hakim,” tegasnya.

Tema utama yang membuat jamaah terpaku adalah pertanyaan klasik: mengapa Allah memilih Timur Tengah, bukan Nusantara, sebagai pusat turunnya risalah?

Ustadz Okrisal menguraikan, seluruh nabi lahir di kawasan itu: Nabi Ibrahim dari Mesopotamia, Nabi Yunus dari Ninawa. Tanahnya gersang, namun menyimpan hikmah besar.

“Ka’bah adalah pusat dunia. Para ahli geologi, seperti Mustafa Kamal dari Oxford, menjelaskan bahwa pergerakan lempeng bumi mengitari Ka’bah, seakan tawaf. Dari sanalah keluar energi bumi yang luar biasa,” jelasnya.

Ia bahkan menambahkan kisah ringan tentang kiblat masjid UAD yang sempat miring saat awal dibangun, menekankan pentingnya akurasi arah salat.

Mengapa bangsa Arab, bukan bangsa lain? Menurutnya, ada dua alasan utama. Pertama, kekuatan hafalan.

“Al-Qur’an turun secara lisan, dihafal Rasulullah dan para sahabat. Hingga kini, jutaan huffaz menjaga keasliannya, sebagaimana firman Allah: inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun.”

Kedua, fanatisme ekstrem. “Orang Arab kalau cinta, habis-habisan; kalau benci, mati-matian. Quraisy mengejar Rasulullah hingga ratusan kilometer, berperang di Badar, Uhud, dan Khandaq. Bandingkan dengan kita, sedikit cobaan saja langsung patah hati,” ujarnya disambut gelak ringan.

Ia juga menyinggung isu global. Menurut survei PBB, pada 2030 umat Islam diprediksi menjadi mayoritas dunia, sementara tingkat kelahiran di Eropa dan Amerika terus merosot, dan Jepang diperkirakan “menghilang” pada 2035 karena enggan berkeluarga.

“Di sini, keluarga sederhana bisa punya belasan anak tanpa keluh kesah. Fertilitas umat Islam adalah modal besar,” katanya.

Menjelang akhir ceramah, Ustadz Okrisal menegaskan mengapa para nabi diutus dari kalangan manusia, bukan malaikat atau perempuan.

“Rasul adalah teladan nyata. Beliau berdakwah dengan kesabaran, meski dilempari batu di Thaif, tetap mendoakan kebaikan bagi anak cucu penduduknya. Itulah makna sabar—kondisi hati, bukan pasrah tanpa usaha,” pesannya.

Ceramah yang diselingi humor ini menutup dengan ajakan agar umat menjadikan Rasulullah sebagai protokol ibadah dan teladan hidup. Jamaah pun pulang dengan bekal pemahaman baru: dunia hanyalah persinggahan, akhirat tujuan sejati, dan Ka’bah tetap pusat orientasi iman.

Tinggalkan Balasan