MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Nur Ahmad Ghazali, menyampaikan ceramah dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta pada Ahad (31/08).
Dalam kajian bertema kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai pencerah peradaban, Nur Ahmad mengajak umat Islam untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah tantangan zaman modern.
Nur Ahmad memulai ceramahnya dengan mengingatkan jemaah bahwa Maulid Nabi diperingati setiap 12 Rabiul Awal, menandai kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, yang lahir pada hari Senin di Makkah pada tahun Gajah (sekitar 570 atau 571 Masehi).
Ia menyebutkan bahwa kelahiran Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Wamā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn” (QS. Al-Anbiya: 107), yang berarti Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam.
Dalam ceramahnya, Nur Ahmad menekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah, seperti kejujuran, amanah, kasih sayang, dan sifat pemaaf. Ia menceritakan bagaimana Rasulullah tetap bersikap lembut meski dihina dan dilempari kotoran oleh seorang Yahudi.
Bahkan, ketika orang tersebut sakit, Rasulullah menjadi yang pertama menjenguknya tanpa rasa dendam. “Rasulullah tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan. Ini yang harus kita tiru,” ujarnya.
Nur Ahmad juga mengingatkan jemaah untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang viral di media sosial, seperti ujaran kebencian atau hoaks. Ia menyoroti pentingnya tabayun (verifikasi) sebelum menyebarkan informasi, terutama di era digital yang memudahkan penyebaran hoaks.
“Jangan asal share. Share-lah yang membawa kedamaian dan kebaikan, seperti yang diajarkan Rasulullah,” tegasnya.
Ia juga mengkritik perilaku generasi muda yang kerap tidak mencerminkan akhlak mulia, seperti berkendara ugal-ugalan tanpa sopan santun.
Nur Ahmad mengajak jemaah untuk mendidik anak dan cucu dengan akhlak karimah, seperti kelembutan dan kasih sayang, agar mereka tidak menjadi “generasi stroberi” yang tampak bagus di luar namun rapuh di dalam.
Lebih lanjut, Nur Ahmad menyoroti peran Rasulullah sebagai pembawa peradaban yang diakui dunia. Ia mengutip buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History karya Michael Hart, yang menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia karena keberhasilannya menyatukan bangsa Arab, menyebarkan agama Islam, dan membawa reformasi sosial.
Selain itu, Karen Armstrong dalam Muhammad: Prophet for Our Time menggambarkan Rasulullah sebagai pemimpin spiritual, sosial, dan politik yang menghapus ketidakadilan, seperti diskriminasi terhadap perempuan di masa jahiliah.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah, melalui amal usaha seperti PKU Muhammadiyah, menolong semua orang tanpa memandang agama, suku, atau status sosial. “PKU Kota Gede sejak 1928 telah membantu siapa saja, kaya atau miskin, tanpa sekat agama,” ungkapnya.
Di akhir ceramah, Nur Ahmad mengajak jemaah untuk menjadi umat terbaik sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (Ali Imran: 110), dengan senantiasa memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.
Ia menekankan pentingnya menjalankan ibadah, bekerja, dan berdagang dengan kualitas terbaik untuk mewujudkan kemajuan peradaban Islam. “Jangan sia-siakan rahmat Allah. Mari kita syukuri dengan berbuat baik kepada siapa pun dan menjaga kerukunan,” tutupnya.
