MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Masjid KH Sudja Yogyakarta, Kamis (25/09), menjadi tempat berlangsungnya ceramah yang disampaikan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Feri Septianto.
Dengan tema “Menyelesaikan Masalah dengan Salat”, ia mengajak jamaah untuk menjadikan salat sebagai solusi utama dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Dalam paparannya, Feri menegaskan bahwa kehidupan manusia selalu berputar antara dua hal: kemudahan dan kesulitan.
“Kita tidak bisa meminta hidup selalu mudah. Bahkan orang yang saat ini mapan secara finansial pun pasti pernah melewati masa sulit,” ujarnya.
Bagi seorang mukmin, lanjutnya, kemudahan adalah ujian untuk bersyukur, sedangkan kesulitan adalah ujian untuk bersabar. Keduanya merupakan cara Allah menguji keimanan hamba-Nya, sekaligus sarana untuk menghapus dosa dan mengangkat derajat.
Ia juga menekankan pentingnya husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah dalam menghadapi setiap ujian.
“Meski kita jatuh bangun, sedih, atau menangis, yakinlah bahwa apa yang Allah berikan adalah yang terbaik untuk kita,” katanya.
Mengutip peristiwa Isra Mikraj, Feri menggambarkan betapa mulianya salat. Ibadah ini diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat Jibril.
Ia menceritakan bagaimana Nabi Muhammad SAW memohon keringanan dari 50 kali salat hingga menjadi lima kali sehari, sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya.
“Salat bukan sekadar gerakan fisik seperti rukuk atau sujud. Ia adalah ibadah yang harus dihayati dengan jiwa. Salat adalah kebutuhan kita, bukan kebutuhan Allah. Kita fakir di hadapan-Nya, sebagaimana firman-Nya antumul fuqara ilallah,” tegasnya.
Feri menegaskan salat adalah kunci segala urusan. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW: “Awalu ma yuhsab yaumal qiyamah as-salah” – ibadah pertama yang akan dihisab di hari kiamat adalah salat.
Jika salat beres, amal lain akan ikut baik. Sebaliknya, jika salat berantakan, amal lainnya juga akan terpengaruh. Ia juga menyinggung nasihat Umar bin Khattab yang menjadikan salat sebagai tolok ukur keimanan seseorang.
Feri kemudian mengutip Surah Al-Baqarah ayat 45 dan 153 yang memerintahkan umat Islam memohon pertolongan dengan sabar dan salat.
“Salat memang berat, kecuali bagi mereka yang khusyuk, yang yakin akan bertemu dan kembali kepada Allah,” jelasnya.
Untuk meraih kekhusyukan, ia menyarankan beberapa cara: memahami makna bacaan, membayangkan salat sebagai ibadah terakhir, serta menyadari bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah.
Salat sebagai Prioritas Hidup
Feri mengingatkan agar salat tidak hanya menjadi rutinitas, melainkan prioritas hidup. Ia mencontohkan sebuah lowongan kerja di Yogyakarta yang mensyaratkan pelamar “menjaga salat lima waktu.”
“Jika seseorang menjaga salatnya, maka ia akan menjaga amanahnya. Inilah tolok ukur kebaikan seseorang,” ujarnya.
Menurutnya, salat bukanlah beban, melainkan kunci keberhasilan dunia-akhirat. Ia mengutip Surah Thaha ayat 132 yang memerintahkan mendirikan salat dan bersabar dalam menjaganya.
“Jangan anggap salat mengganggu pekerjaan. Justru salatlah yang meringankan beban hidup kita,” tambahnya.
Menutup ceramah, Feri mengingatkan pentingnya membiasakan salat dalam keluarga. Ia mengutip Surah Thaha ayat 132: “Wamur ahlaka bis-salah” (perintahkan keluargamu untuk salat).
“Jangan hanya bertanya kepada anak ‘sudah makan belum?’, tapi tanyakan juga ‘sudah salat belum?’,” pesannya.
Ia mencontohkan wasiat terakhir Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya salat, serta doa Nabi Ibrahim agar dirinya dan keturunannya menjadi orang-orang yang mendirikan salat.
