Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Hidup adalah Pilihan Antara Keimanan dan Kemungkaran

Oleh admin • • 2 Menit Min
Hidup adalah Pilihan Antara Keimanan dan Kemungkaran

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dalam khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan pada Jumat (12/9), Gunawan Budiyanto menguraikan konsep manusia sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an.

Ia menyebutkan bahwa manusia memiliki beberapa sebutan dengan fungsi dan peran berbeda, yakni al-basyar (makhluk biologis), al-nas (makhluk sosial), dan al-insan (makhluk berilmu).

Menurutnya, manusia sebagai al-basyar digambarkan sebagai makhluk yang memiliki raga, tumbuh dan berkembang, lalu berakhir dengan kematian. Namun, berbeda dengan makhluk lainnya, manusia dianugerahi akal sehingga segala perbuatannya harus dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.

“Dalam Al-Qur’an, kata al-basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam 26 surat. Ini menegaskan bahwa manusia memiliki fitrah untuk menjalankan perannya sebagaimana tujuan penciptaannya,” ujarnya.

Sementara itu, manusia juga disebut al-nas, yang bermakna fluktuatif atau berubah-ubah. Istilah ini disebut hingga 241 kali dalam 55 surat Al-Qur’an.

“Makna al-nas lebih menekankan posisi manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, sebagaimana ditegaskan dalam QS An-Nisa ayat 1 tentang pentingnya menjaga silaturahmi,” jelasnya.

Lebih lanjut, manusia juga diistilahkan dengan al-insan, yakni makhluk yang diberi kemampuan berpikir, berbicara, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kata ini muncul 65 kali dalam 43 surat.

“Sebagai al-insan, manusia wajib menambah khazanah keilmuannya dengan membaca, meneliti, dan menelaah. Allah berfirman: Iqra bismi rabbikalladzi khalaq – bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,” terang Gunawan.

Ia menegaskan, Al-Qur’an memberikan perhatian besar pada istilah al-nas karena manusia diingatkan akan tanggung jawab sosialnya. Namun, sebagai al-insan, manusia juga harus menunaikan peran kekhalifahan di bumi, yakni dengan menjadikan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan sesama.

Gunawan mengutip QS Al-Mujadalah ayat 11, bahwa Allah mengangkat derajat orang beriman dan berilmu. Juga QS Ali Imran ayat 110 yang menyebut umat Islam sebagai umat terbaik, yakni yang menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.

“Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sebagaimana disebutkan dalam QS At-Tin ayat 4. Tetapi manusia juga bisa jatuh ke tempat serendah-rendahnya jika tidak menjaga nilai-nilai kemanusiaannya,” katanya.

Gunawan kemudian mengaitkan filosofi hidup dengan huruf B, C, dan D. “B melambangkan birth atau kelahiran, D melambangkan death atau kematian, sementara di antaranya ada C yang berarti choice atau pilihan. Hidup itu sesungguhnya adalah soal memilih – antara iman dan kufur, kebaikan atau keburukan, ketaatan atau keingkaran,” tegasnya.

Ia menutup khutbah dengan peringatan bahwa harta, tahta, dan status sosial boleh dikejar, tetapi jangan sampai membuat manusia kehilangan hakikat kemanusiaannya.

“Silakan jadi pintar, kaya, atau meraih jabatan setinggi mungkin. Tetapi semua itu jangan sampai menyeret kita ke tempat yang serendah-rendahnya,” ujarnya.

Gunawan mengajak jamaah untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, menjaga diri dari kemaksiatan, serta menjalani hidup sebagai manusia yang bermartabat.

Tinggalkan Balasan