Bayangkan sebuah dunia tanpa peta global, tanpa internet, tanpa negara bangsa. Bayangkan hamparan gurun luas, di mana malam hari hanya diterangi bulan dan bintang, sementara siang hari menelan manusia dengan panas yang kejam.
Di tengah lanskap itu, berdirilah Ka‘bah. Bangunan sederhana ini dari batu biasa tapi sekaligus pusat gravitasi spiritual yang mengikat seluruh jazirah.
Masyarakat Arab pra-Islam sesungguhnya masih menyimpan warisan spiritual dari Nabi Ibrahim dan Ismail. Mereka tidak benar-benar meninggalkan ajaran keduanya. Dua sosok agung ini menegakkan Ka‘bah sebagai pusat ibadah, menetapkan Makkah sebagai tanah suci, serta memperkenalkan tradisi haji dan penghormatan terhadap bulan-bulan sakral.
Beberapa unsur dari ajaran-ajaran Nabi Ibrahim itu juga tetap hidup berabad-abad kemudian. Orang Arab pra-Islam masih menghindari berburu di tanah haram, masih menahan diri dari peperangan di bulan suci, dan masih melaksanakan ritual ziarah. Namun, seiring berjalannya waktu, makna tauhid yang semula menjadi inti ibadah itu mulai tergerus oleh praktik-praktik baru.
Perubahan besar bermula sekitar awal-awal abad Masehi, ketika muncul seorang tokoh bernama Amr bin Luhai al-Khuza‘I, pimpinan suku Khuza’ah yang sangat berpengaruh di tanah Arab. Dalam perjalanannya ke Suriah, Amr bin Luhai melihat bangsa Amalek yang kuat dan makmur disertai infrastruktur yang megah. Amalek mengaitkan kejayaan mereka dengan penyembahan berhala.
Terpesona oleh apa yang disaksikannya, Amr merasa kunci kekuatan, kesejahteraan dan kemakmuran ada pada simbol-simbol paganisme. Nampaknya Amr terkena “inferiority complex” atau merasa rendah diri melihat kemajuan peradaban lain. Maka ia membawa berhala Hubal ke Makkah, kemudian memperkenalkannya, dan karena wibawanya besar, masyarakat Arab pun mengikutinya.
Dari Hubal, berhala-berhala lain bermunculan. Ada yang mengambil potongan batu dari Ka‘bah dan menjadikannya jimat, ada yang memadatkan gundukan pasir lalu menyembahnya, hingga akhirnya 360 berhala mengelilingi Ka‘bah. Ritual yang dulunya dimaksudkan sebagai pengabdian murni hanya kepada Allah, berubah menjadi serangkaian praktik simbolis yang penuh mediator.
Namun, orang Arab bukanlah ateis. Mereka tetap percaya kepada Allah sebagai Pencipta. Al-Qur’an menegaskan: “Jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?’ pasti mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Al-‘Ankabut: 61).
Masyarakat Arab Jahiliyah tahu Allah adalah sumber kehidupan, pemberi rezeki, dan pengatur alam. Tetapi keyakinan itu tidak murni. Mereka merasa Allah terlalu jauh, terlalu agung, sehingga perlu perantara. Berhala-berhala seperti Hubal, Latta, Uzza, Manat dianggap sebagai jembatan menuju-Nya. Dengan kata lain, monoteisme tetap ada, tetapi ditenggelamkan oleh sistem perantara yang rumit.
Pola pikir seperti ini bukan hanya khas Arab Jahiliyah. Ini barangkali adalah kecenderungan universal manusia dari zaman Yunani kuno hingga Indonesia modern. Sejak ribuan tahun lalu, orang selalu mencari simbol untuk merasa lebih dekat dengan yang transenden. Karena itu, ada yang rela menyentuh patung, mencium batu, atau menggantungkan doa pada jimat.
Dalam peradaban Yunani kuno, misalnya, kuil dan patung dewa dipuja sebagai sarana agar manusia bisa “menggapai” dunia para dewa. Di Mesir kuno, arca dan piramida dianggap sebagai jembatan antara dunia fana dan dunia abadi. Bahkan dalam tradisi-tradisi Asia Timur atau Nusantara pra-Islam, praktik serupa hadir dalam bentuk pemujaan roh leluhur melalui benda, pusaka, atau patung.
Artinya, kecenderungan untuk menjadikan simbol material sebagai perantara inilah yang sesungguhnya nyaris universal dalam sejarah manusia. Bedanya, Islam datang dengan penegasan radikal bahwa seluruh simbol hanya berfungsi sebagai penanda, bukan perantara.
Karenanya dalam Islam, kaum Muslim tidak meyakini kesucian material bangunan Ka‘bah. Pada dasarnya Ka‘bah hanyalah tumpukan batu bata dan tanah liat. Yang diyakini sakral bukanlah marmernya, kiswah sutranya, atau struktur fisiknya, melainkan lokasi itu sendiri yang ditetapkan Allah sebagai tanah suci (QS. Ali Imran: 96 dan QS. Al-Maidah: 97).
Dengan kata lain, dalam Islam, Ka‘bah adalah simbol arah ibadah, bukan objek yang memiliki kesucian material. Pemahaman ini penting karena ini menunjukkan bagi umat Islam, Ka‘bah hanyalah penanda arah ibadah, bukan perantara menuju Allah. Tetapi bagi masyarakat Arab Jahiliyah, simbol-simbol material sering kali justru menggantikan Tuhan itu sendiri.
Pergeseran inilah yang menjadi akar penyimpangan, dan pola semacam ini ternyata bukan hanya terjadi di masa lalu tapi juga terjadi di abad ke-21. Coba kamu perhatikan sekelilingmu sekarang. Banyak orang hari ini, jika ditanya, akan menjawab bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur segalanya. Tapi dalam praktiknya, mereka tetap mencari perantara.
Bedanya, sekarang bukan lagi patung batu, melainkan orang saleh yang viral, tokoh kharismatik yang diagungkan, atau simbol-simbol spiritual modern yang dianggap bisa “mendekatkan” manusia kepada Tuhan. Dengan kata lain, keyakinan kepada Allah tetap ada, tapi sering kali ditenggelamkan dalam sistem mediator baru. Dan di sinilah pelajaran sejarah menemukan relevansinya, sebab pola pikir yang sama pernah terjadi berabad-abad lalu.
Kalau kamu mau beribadah, langsung saja beribadah kepada Allah. Kalau kamu mau berdoa, langsung saja berdoa kepada Allah. Jangan merasa perlu ada “jembatan” selain dirimu sendiri. Namun, jika kamu tidak tahu tata cara beribadah atau berdoa, carilah guru. Peran guru bukanlah perantara yang menyampaikan ibadahmu kepada Allah, melainkan penunjuk arah yang membimbingmu agar ibadahmu sesuai dengan petunjuk-Nya.
Dan ada pelajaran lain yang seharusnya membuat kamu berhati-hati dari fenomena Arab Pra Islam ini. Amr bin Luhai kagum pada bangsa Amalek karena mereka terlihat maju dan kuat. Amr pikir, dengan meniru cara mereka menyembah berhala, masyarakat Arab juga akan ikut maju. Tapi yang ia bawa pulang bukan kemajuan peradaban tapi justru kerusakan iman.
Sekarang pun pola itu sering terulang. Dulu Amalek, sekarang Amerika. Kamu melihat bangsa lain dengan teknologi canggih, budaya populer yang keren atau sistem sosial yang rapi, lalu tergoda untuk menyalinnya mentah-mentah. Padahal, kemajuan tidak selalu sejalan dengan nilai moral. Kalau kamu meniru tanpa filter, ada risiko kehilangan jati diri maupun iman. Ini persis seperti orang Arab kehilangan tauhid ketika mengikuti Amalek.
Meski demikian, tidak semua orang Arab pra Islam tenggelam dalam politeisme. Ada sekelompok kecil yang disebut Hunafā’, yaitu orang-orang yang berpaling dari penyembahan berhala menuju pencarian agama Ibrahim. Tokoh seperti Zaid bin Amr atau Waraqah bin Naufal menolak logika perantara dan menegaskan bahwa Allah harus disembah secara langsung.
Meski jumlah mereka sedikit dan tidak terorganisasi, orang-orang Hunafā’ inilah yang kelak menjadi jembatan bagi lahirnya Islam. Mereka berani melawan arus, menolak ikut-ikutan tren mayoritas, dan memilih jalan sunyi yang sering kali dianggap aneh oleh lingkungannya. Tapi justru dari keberanian itu lahir perubahan besar.
Sekarang coba kamu pikirkan begini di tengah dunia yang serba viral secara cepat, serba ikut tren dari yang aneh sampai yang paling absurd, dan serba cari mediator instan untuk merasa dekat dengan Tuhan, apakah kamu punya keberanian yang sama dengan mereka?
Apakah kamu siap jadi bagian dari “Hunafā’” di zamanmu?
Referensi:
Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Beirut: Dār Ibn Katsir, 1423/2002.
Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.
