MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dekolonisasi kerap dipahami secara keliru sebagai gerakan fundamentalis atau sikap anti-Barat. Padahal, menurut Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, dekolonisasi sama sekali bukan bentuk penolakan total terhadap Barat.
Menurut Rofiq, dekolonisasi lebih menitikberatkan pada kritik terhadap dominasi dan hegemoni cara pandang yang tidak proporsional.
“Penting untuk ditegaskan bahwa dekolonisasi tidak sama dengan fundamentalisme atau anti-Barat,” ujar Rofiq dalam Pidato Kebudayaan Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara yang digelar di Masjid Syuhada Yogyakarta, Sabtu (20/09).
Rofiq mencontohkan pengalaman pribadi ketika ia dituding serupa dengan kelompok Islam transnasional yang ingin mendirikan khilafah hanya karena mengusung gagasan dekolonisasi. Tuduhan semacam ini, menurutnya, merupakan bentuk penyederhanaan berlebihan sekaligus kesalahpahaman.
Ia mengutip pemikiran sosiolog Farid Alatas yang kerap dituduh anti-Barat hanya karena mengkritik eurocentrism. Padahal, Alatas sendiri merupakan produk Barat, menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat, bahkan lahir di Amsterdam. Alatas, kata Rofiq, justru menegaskan:
“I admire the Western knowledge tradition. I’m anti-Westerncentrism, I’m anti-Eurocentrism. In fact, one has to critique Eurocentrism and Westerncentrism in order to salvage what is valuable from Western civilization.”
“Artinya, kritik terhadap dominasi Barat tidak berarti menolak seluruh warisan Barat. Identifikasi dekolonisasi dengan fundamentalisme adalah kesalahpahaman,” jelas Rofiq.
Selain Alatas, Rofiq juga mengutip pemikir dekolonial asal Portugal, Boaventura de Sousa Santos, yang menegaskan bahwa epistemologi Selatan berdiri di atas kosmopolitanisme, bukan penolakan pada Barat. Kosmopolitanisme, lanjutnya, justru menolak superioritas satu peradaban dan membuka ruang dialog setara antarpengetahuan.
Lebih jauh, Rofiq mengingatkan bahwa posisi Barat dan non-Barat tidak bisa digeneralisasi secara sederhana. Banyak sarjana Barat yang justru membela pengetahuan lokal, sementara ada pemikir non-Barat yang terjebak dalam cara pandang kolonial.
Ia mencontohkan sejarawan Inggris Peter Carey yang membela reliabilitas babad Jawa sebagai sumber sejarah, berhadapan dengan akademisi Indonesia Prof. Sartono Kartodirdjo yang menempatkan babad sebagai dongeng.
“Maka, pemikir Barat tidak otomatis kolonial, dan pemikir non-Barat tidak otomatis bebas dari kolonialisme epistemik,” tegasnya.
Rofiq juga menyoroti pertanyaan penting: mengapa banyak tulisan dekolonisasi menunjuk Barat sebagai musuh kolonialisme epistemik? Ia merujuk pada klarifikasi Farid Alatas bahwa istilah Barat hanyalah perangkat bahasa (heuristic device) yang merujuk pada entitas historis tertentu seperti Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Portugal, dan Belanda, bukan keseluruhan negara Barat.
Ia juga mengutip Wael Hallaq yang menjelaskan bahwa setiap peradaban memiliki central domain atau sifat utama. Dalam kasus Barat, sifat utamanya adalah kapitalisme dan kolonialisme, meski tetap ada sisi peripheral domain yang berbeda.
Rofiq menyinggung pengalamannya pribadi di Amerika Serikat, ketika keluarganya tetap mendapat bantuan kesehatan meski sistem medis di sana dikenal sangat kapitalistik.
Pengalaman Rofiq ini menunjukkan bahwa meskipun Barat memiliki wajah kolonial dan kapitalistik, tetap ada sisi kemanusiaan yang muncul dari ruang pinggirnya. Maka, dekolonisasi harus dipahami secara proporsional, bukan sebagai sikap anti-Barat.
