Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Apakah Bacaan Doa Iftitah pada Salat Fardu dan Salat Sunah Berbeda?

Oleh admin • • 2 Menit Min
Apakah Bacaan Doa Iftitah pada Salat Fardu dan Salat Sunah Berbeda?

Salah satu bagian penting dalam salat setelah takbiratul ihram adalah bacaan doa iftitah. Doa ini bersifat sunnah, bukan rukun, namun kehadirannya memperindah salat dan menghadirkan kekhusyukan.

Dalam tradisi hadis, terdapat beberapa riwayat tentang ragam bacaan doa iftitah yang dibaca oleh Rasulullah Saw.

Pertanyaannya kemudian, apakah doa iftitah pada salat fardu berbeda dengan doa iftitah pada salat sunah?

Variasi Bacaan Doa Iftitah dalam Hadis

Pertama, doa iftitah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.

حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ هُنَيَّةً فَقُلْتُ بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ أَقُولُ
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

 [رواه البخاري: 744، أبو داود: 781، أبو خوزيمة: 1630، مسلم: 1354]

Doa ini berisi permohonan agar Allah menjauhkan hamba dari dosa, menyucikan jiwa, dan membersihkannya dengan air, salju, dan embun.

Kedua, riwayat dari Ali bin Abi Thalib r.a.:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 [رواه مسلم: 1290]

Doa ini sarat dengan pernyataan tauhid, pengakuan sebagai hamba, permohonan ampunan, serta doa untuk mendapat akhlak yang terbaik.

Ketiga, riwayat dari Ibnu Umar r.a.:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ
[رواه مسلم: 943]

Doa ini berupa dzikir agung yang mengandung takbir, tahmid, dan tasbih. Rasulullah saw memuji bacaan tersebut hingga menyatakan pintu-pintu langit terbuka karenanya.

Apakah Ada Perbedaan antara Salat Fardu dan Salat Sunah?

Dengan mencermati hadis-hadis di atas, jelas bahwa doa iftitah memiliki beberapa variasi. Para ulama menyebutkan bahwa semua doa tersebut shahih, dan masing-masing pernah dibaca oleh Rasulullah saw. Namun, setelah diteliti, tidak ditemukan dalil yang secara khusus mengaitkan doa iftitah tertentu hanya untuk salat fardu dan doa iftitah lainnya hanya untuk salat sunah.

Artinya, tidak ada pembatasan yang bersifat nash. Seorang muslim boleh membaca salah satu doa iftitah di atas, baik ketika melaksanakan salat fardu maupun salat sunah. Bahkan, sebagian ulama menganjurkan agar seorang muslim berganti-ganti bacaan iftitah, sehingga dapat menghidupkan seluruh sunnah Rasulullah saw dalam salat.

Referensi:

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Perbedaan Iftitah pada Shalat Fardu dan Shalat Sunah”, dalam Majalah Suara Muhammadiyah No 15 Tahun 2019.

Tinggalkan Balasan