MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, menyampaikan ceramah bertema “Akibat Durhaka kepada Orang Tua” di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Kamis (19/09) sore.
Dalam tausiahnya, Talqis menegaskan pentingnya birrul walidain (berbakti kepada orang tua) sebagai salah satu kewajiban utama umat Islam, yang bahkan disandingkan dengan ketaatan kepada Allah SWT dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Isra ayat 23.
Ia menjelaskan bahwa durhaka kepada orang tua, seperti membuat mereka menangis melalui kekerasan verbal, fisik, atau psikis, adalah dosa besar yang balasannya dipercepat oleh Allah di dunia.
“Anak yang durhaka tidak akan hidup tenang. Hartanya mungkin banyak, tapi keberkahannya dicabut, hidupnya ambyar,” ujar Talqis, seraya mengutip hadis riwayat Imam Bukhari bahwa dosa durhaka kepada orang tua dan memutus silaturahmi akan disegerakan azabnya di dunia.
Talqis menyoroti beberapa bentuk kedurhakaan, seperti membantah orang tua, menghina, atau mengancam mereka, yang semuanya bertentangan dengan perintah Allah untuk berbuat baik kepada ibu dan bapak.
Ia mengutip Surah Al-Isra ayat 23, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”
Ia menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan setara dengan ibadah kepada Allah, menjadikannya salah satu amalan paling mulia setelah salat wajib. Ceramah ini juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak agar terhindar dari sifat durhaka.
Talqis menyebutkan beberapa faktor yang memengaruhi perilaku durhaka, seperti kebodohan anak terhadap ilmu agama, sifat egois dan sombong, pengaruh lingkungan yang buruk, serta pola asuh orang tua yang keliru, baik terlalu keras maupun terlalu memanjakan.
“Anak yang membantu pekerjaan rumah sejak kecil cenderung lebih sukses saat dewasa karena mereka belajar tanggung jawab dan keterampilan hidup,” ungkapnya.
Talqis juga mengisahkan kisah ‘Alqamah bin Qais, seorang sahabat Rasulullah SAW yang kesulitan mengucapkan syahadat saat menjelang wafat karena durhaka kepada ibunya. Kisah ini menjadi pengingat betapa pentingnya meminta maaf dan menjaga hubungan baik dengan orang tua.
Ia menambahkan bahwa doa orang tua untuk anaknya adalah mustajab, sebagaimana disebutkan dalam hadis, sehingga anak harus menghargai doa tersebut.
Lebih lanjut, Talqis mengajak jemaah untuk menjadikan salat sebagai wadah menjaga nikmat hubungan dengan orang tua.
“Salat adalah penutup, penjaga nikmat. Anak yang menjaga salatnya, insyaallah akan menjaga birrul walidainnya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa ridha orang tua adalah kunci ridha Allah, sehingga anak yang berbakti akan memperoleh keberkahan hidup dan harapan surga.
Ceramah ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua agar terus mendidik anak dengan kesabaran, keteladanan, dan doa.
Talqis menutup tausiahnya dengan pesan bahwa berbakti kepada orang tua adalah ibadah utama yang harus dijaga, sementara durhaka akan membawa akibat fatal baik di dunia maupun akhirat.
“Jauhilah segala sebab yang memicu durhaka, dan jagalah nikmat memiliki orang tua dengan salat dan perbuatan baik,” pungkasnya.
