Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Akidah sebagai Kekuatan Pemersatu bukan Amunisi Pemecah Belah

Oleh admin • • 3 Menit Min
Akidah sebagai Kekuatan Pemersatu bukan Amunisi Pemecah Belah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dr. Haitam bin Jawwad al Haddad, Ketua Komite Fatwa Dewan Islam Eropa (Islamic Council of Europe/ICE), menegaskan pentingnya akidah Islam sebagai fondasi yang menyatukan umat, bukan yang memecah belah.

Dalam acara Seminar Sehari Risalah Akidah Islam Muhammadiyah pada Sabtu (28/09) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia mengajak umat Islam kembali pada esensi akidah yang mendorong perubahan positif bagi kemanusiaan.

Dr. Haitam membuka ceramahnya dengan mengungkapkan apresiasi atas kiprahnya Muhammadiyah. Ia menyampaikan kesan positif dari kunjungan sebelumnya ke Indonesia, termasuk pertemuannya dengan para ulama di Universitas Ahmad Dahlan.

“Saya sangat terkesan dengan usaha-usaha Muhammadiyah, mahasiswa yang unggul, dan ulama yang luar biasa. Saya juga berkesempatan bertemu dengan Wakil Mufti Muhammadiyah, dan itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi penting di dunia Islam, baik karena jumlah penduduk Muslim terbesar maupun peran strategis di Asia Tenggara. Ia memuji keteguhan bangsa ini menjaga nilai-nilai Islam meski dijajah Belanda lebih dari tiga abad.

“Subhanallah, nilai-nilai Islam tetap terjaga dan mengakar kuat di hati masyarakat Indonesia,” katanya. Ia juga menilai konsistensi Indonesia mendukung Palestina sebagai sikap politik yang terhormat.

Beralih ke tema utama, Dr. Haitam menegaskan bahwa akidah adalah dasar peradaban yang dibangun Nabi Muhammad SAW. Dalam waktu 11 tahun setelah hijrah, Nabi berhasil menegakkan pilar pengabdian kepada Allah, orientasi pada akhirat, serta pemenuhan kebutuhan pokok umat.

“Akidah Islam berpijak pada tauhid, pengagungan terhadap Allah, serta kerja untuk akhirat. Allah berfirman, ‘Setiap jiwa akan merasakan kematian, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu’ (QS. Ali Imran: 185). Keberhasilan sejati adalah masuk surga dan selamat dari neraka,” tegasnya.

Ia menambahkan, akidah juga menuntun umat mewujudkan keadilan sosial, sebagaimana firman Allah, “Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia menegakkan keadilan” (QS. Al-Hadid: 25).

Dalam kesempatan itu, ia mengkritik kecenderungan sebagian umat memandang akidah sebatas teori atau perdebatan filosofis, terpisah dari realitas.

“Di mana akidah Islam yang mampu menggerakkan umat di masa lalu? Kita telah mengubah akidah menjadi isu filosofis, seperti debat tentang apakah Allah berada di langit, padahal ini bukan inti akidah,” ujarnya.

Dr. Haitam mencontohkan, umat Islam generasi awal yang jumlahnya kecil mampu menaklukkan Persia dan Romawi dalam 20 tahun karena memiliki akidah yang hidup. Sebaliknya, kini dengan hampir dua miliar umat, kaum Muslimin masih kesulitan sekadar mengirim bantuan dasar ke Gaza.

Ia juga memaparkan motivasi menulis buku akidah yang merangkum kesepakatan mayoritas umat Islam. Buku itu disusun selama empat tahun dan ditinjau lebih dari 100 ulama lintas mazhab.

“Saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam tidak berbeda dalam akidah dasarnya. Kita semua sepakat bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang tidak bertambah dan tidak berkurang, bahwa Allah adalah Pencipta, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi, dan bahwa sahabat adalah generasi terbaik,” jelasnya.

Perbedaan dalam isu-isu sifat Allah, lanjutnya, tidak seharusnya memecah umat. Baik Salafi, Asy’ari, Maturidi, maupun Sufi, semuanya berusaha mengagungkan Allah.

“Akidah Islam adalah kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan. Kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, serta menjadikan akidah sebagai penggerak untuk mewujudkan keadilan, tauhid, dan kebaikan di muka bumi,” tuturnya.

Menutup paparannya, ia berharap bukunya segera diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammadiyah, setelah sebelumnya hadir dalam bahasa Bengali, Turki, dan Urdu.

“Saya berdoa agar Allah memberkahi Muhammadiyah dan Indonesia, serta menjadikan buku ini sebagai sarana untuk menyatukan umat dan menggerakkan mereka menuju kebaikan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan