Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Tafsir at-Tanwir Harus Responsif, Dinamis, dan Menghidupkan Ruh

Oleh admin • • 2 Menit Min
Tafsir at-Tanwir Harus Responsif, Dinamis, dan Menghidupkan Ruh

MUHAMMADIYAH.OR.ID, KULONPROGO – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, dalam Konferensi Mufasir Muhammadiyah III di Kulonprogo, Jumat (29/08), memaparkan ciri khas penyusunan TafsIr at-Tanwir.

Menurut Syamsul, TafsIr at-Tanwir merupakan sebuah karya kolektif Majelis Tarjih yang dirancang untuk menjawab tantangan zaman. Tema yang ia sampaikan berjudul Handasah Tafsīr at-Tanwīr ‘inda al-Muḥammadiyyah.

Syamsul menegaskan, Tafsir at-Tanwir tidak boleh berhenti pada pengulangan tafsir-tafsir sebelumnya. “Tafsir ini harus menghadirkan kontribusi baru, menjawab persoalan aktual umat, serta mencerminkan dialog konstruktif yang bijak dengan realitas,” ujarnya.

Menurut Syamsul, ada tiga ciri utama yang membedakan Tafsir at-Tanwīr dari karya-karya sebelumnya:

Pertama, responsif. Tafsir ini harus responsif terhadap kondisi nyata masyarakat. Bukan sekadar mengulang penjelasan klasik, melainkan memberi solusi atas problem sosial, moral, dan kemanusiaan kontemporer.

Dengan begitu, Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup yang membimbing umat menghadapi tantangan modern.

Kedua, dinamis. Tafsir at-Tanwīr juga diharapkan melahirkan gerakan (ḥarakah) di tengah umat. Tafsir bukan hanya memberikan tuntunan normatif, tetapi juga gagasan yang menginspirasi, menggerakkan, dan memotivasi pembacanya.

Menurut Syamsul, Tafsir At-Tanwir harus mampu membangkitkan kesadaran spiritual yang berpadu dengan rasionalitas, sehingga menumbuhkan energi perubahan positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketiga, menghidupkan ruh. Lebih jauh, Syamsul menekankan bahwa tafsir ini harus membangkitkan ruh mendaasar yang menopang kebangkitan umat dan menghindarkan mereka dari keterbelakangan.

Setidaknya ada empat ruh yang dihidupkan melalui Tafsir at-Tanwīr:

Pertama, ruh ‘ibādiyyah (etika ibadah), yaitu kesadaran bahwa seluruh perilaku mukmin, baik ibadah mahdhah maupun aktivitas duniawi, jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, memiliki nilai ibadah.

“Seorang mukmin bekerja untuk masyarakat bukan karena dorongan egois, melainkan nilai kemanusiaan luhur dan penghambaan kepada Allah,” jelas Syamsul.

Kedua, ruh ekonomi dan kerja, yaitu kesadaran bahwa kerja adalah faktor utama kebangkitan. Tafsir ini memberi perhatian pada etika kerja seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, hemat, peningkatan keterampilan, dan orientasi hasil.

Ketiga, ruh sosial (etika sosial), yaitu nilai solidaritas, persaudaraan, toleransi, demokrasi, kepedulian sosial, keadilan, transparansi, hingga akuntabilitas dalam organisasi. Etika sosial menjadi fondasi membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadaban.

Keempat, ruh ilmiah dan cinta pengetahuan, yaitu ilmu merupakan pilar utama peradaban Islam. Syamsul mengutip QS. al-Mujādilah ayat 11 tentang derajat orang berilmu serta hadis Nabi riwayat Muslim: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Bahkan, seorang sarjana Barat pernah menyebut ilmu sebagai konsep utama yang membentuk peradaban Islam. Karena itu, Tafsir at-Tanwīr dituntut menumbuhkan jiwa ilmiah, dorongan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi kebangkitan umat.

Dengan ciri-ciri tersebut, Syamsul Anwar menegaskan bahwa Tafsīr at-Tanwīr adalah upaya Muhammadiyah menghadirkan tafsir yang bukan hanya moderat (wasatiyyah), tetapi juga menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan pencerahan.

Tinggalkan Balasan