MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadani, dalam khutbah Jumat (29/08) di Masjid Musannif menekankan pentingnya kepemimpinan yang adil, penuh kasih sayang, serta tidak mudah terprovokasi.
Pesan ini disampaikan melalui kisah klasik yang diriwayatkan al-Imām Ibn al-Atsīr dalam karyanya Usd al-Ghābah fī Maʿrifat al-Ṣaḥābah.
Dalam kitab tersebut, diceritakan seorang pendeta Yahudi, Zayd bin Saʿnah, yang ingin menguji tanda kenabian Rasulullah Saw. Menurut Taurat yang ia pelajari, salah satu ciri kenabian Nabi Muhammad adalah “lā tazīdahu syiddat al-jahl ʿalayhi illā ḥilman” — semakin diprovokasi, justru semakin tampak kesabaran, kelembutan, dan kasih sayangnya.
Zayd lalu menguji Rasulullah dengan cara menagih utang secara kasar bahkan sampai menarik surban beliau di hadapan para sahabat. Sahabat ʿUmar ibn al-Khaṭṭāb yang menyaksikan peristiwa itu hampir saja bertindak keras.
Namun, Rasulullah menegur Umar seraya bersabda, “Cukuplah engkau memerintahkan aku untuk membayar utang, dan memintanya untuk menagih dengan cara yang baik.” Tidak hanya itu, Rasulullah bahkan memerintahkan Umar menambah 20 ṣaʿ kurma sebagai pelipur lara atas sikap keras Umar kepada Zayd.
Tindakan penuh kasih dari Rasulullah membuat Zayd bin Saʿnah meyakini kebenaran kenabian beliau dan akhirnya memeluk Islam.
Fajar menegaskan, kisah ini menjadi teladan bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat sabar, tidak emosional, serta lembut terhadap rakyatnya.
“Kata Allah, sesungguhnya ada pada diri Rasulullah uswatun ḥasanah (suri teladan yang baik). Beliau tidak hanya seorang nabi, tetapi juga pemimpin yang bijak dan penuh kasih,” ujarnya.
Lebih jauh, Fajar mengingatkan sabda Rasulullah Saw tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat, di mana yang pertama disebutkan adalah al-imām al-ʿādil (pemimpin yang adil). Menurutnya, keadilan pemimpin memiliki dampak besar bagi kemaslahatan rakyat.
“Kalau pemimpin baik, kemaslahatan akan dirasakan orang banyak. Sebaliknya, kalau pemimpin rusak, kerusakan itu akan ditanggung rakyatnya,” tegasnya.
Dalam konteks Indonesia hari ini, Fajar menyinggung kondisi masyarakat yang semakin berat akibat tingginya beban pajak dan berbagai kebijakan yang dinilai merugikan rakyat. Ia menyesalkan ketika aspirasi rakyat justru direspons secara represif oleh aparat.
“Kalau meniru Rasulullah, ketika rakyat marah, pemimpin tidak ikut marah. Tapi anehnya, justru rakyat yang bersuara malah ditindas,” katanya.
Fajar juga mengutip peringatan Rasulullah tentang kehancuran umat-umat terdahulu akibat ketidakadilan hukum: “idzā saraqa minhum al-syarīf tarakūhu, wa idzā saraqa minhum al-ḍaʿīf aqāmū ʿalayhi al-ḥadd.” (Jika yang mencuri adalah orang terpandang, mereka biarkan. Tetapi jika yang mencuri orang lemah, mereka tegakkan hukum atasnya).
Menurutnya, fenomena serupa dapat terlihat ketika mantan koruptor masih diberi tanda kehormatan, sementara rakyat kecil dihukum tanpa kompromi.
“Kalau ada presiden yang berani berkata: jika anggota partainya korupsi, bukan KPK yang menjebloskan, tetapi dirinya sendiri yang akan memenjarakan, itu baru kepemimpinan sejati,” ujarnya.
Menutup khutbahnya, Fajar mengajak jamaah untuk memperbanyak doa serta meningkatkan kapasitas diri dan masyarakat. Sebab, pemimpin lahir dari karakter rakyatnya.
“Kalau mayoritas rakyat saleh, insya Allah akan lahir pemimpin yang saleh. Tapi jika mayoritas fasik, jangan berharap memiliki pemimpin yang adil,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kesabaran dalam menghadapi situasi bangsa.
“Mungkin surga Allah bukan kita dapatkan karena haji atau umrah berkali-kali, tetapi karena kesabaran kita menghadapi kebijakan yang menekan rakyat. Dengan kesabaran itulah Allah menghadiahkan surga-Nya,” pungkas Fajar.
