Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Menjernihkan Pikiran dari Brain Rot dengan Al-Qur’an

Oleh admin • • 3 Menit Min
Menjernihkan Pikiran dari Brain Rot dengan Al-Qur’an

Sari Pertiwi menatap layar ponselnya. Tugas kuliah menumpuk di meja, pakaian kotor menunggu dilipat, tetapi jempolnya tak henti men-scroll video yang silih berganti. Kadang ia terbahak melihat komedi receh, kadang matanya berkaca-kaca teringat peristiwa masa lalu yang muncul dari potongan video singkat.

Sari Pertiwi sadar waktunya terbuang, namun sulit berhenti. Seolah ada kekuatan tak terlihat yang menariknya untuk terus tenggelam.

Fenomena yang dialami Sari bukanlah hal asing. Inilah wajah generasi digital hari ini: terjebak dalam arus algoritma media sosial. Untuk memahami jebakan ini, kita perlu melihat bagaimana media sosial bekerja.

Logika Sosial Media dan Efek Psikologisnya

José van Dijck dan Thomas Poell menyingkap bahwa media sosial tunduk pada “logika” tertentu. Salah satunya, programmability: kecenderungan platform untuk memancing penggunanya terus berbagi dan berinteraksi.

Tak jarang kita merasa “ada yang kurang” jika sehari tak membuka linimasa atau mengunggah status. Inilah bentuk kendali halus algoritma atas perilaku manusia.

Kecenderungan itu kemudian diperparah dengan efek psikologis. Sebuah survei yang dilakukan Kompas pada April 2025 mencatat, 81,8 persen pakar sepakat bahwa istilah brain rot tepat menggambarkan kondisi penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital singkat yang cepat dan dangkal secara berlebihan.

Konten yang menumpuk dan hadir dalam tempo kilat itu bekerja layaknya candu. Ia memicu dopamin, zat kimia otak yang menghadirkan rasa senang instan, namun dalam dosis berlebih justru bisa menjebak otak pada lingkaran adiksi.

Kristiana Siste Kurniasanti, pakar neurosains dari RS Cipto Mangunkusumo, menjelaskan bahwa “ada hipoaktivasi dari otak yang menyebabkan disfungsi karena penggunaan internet terlalu banyak, misalnya media sosial” (Kompas, 16/4/2025).

Lahargo Kembaren, psikiater dari RS Jiwa Dr H Marzoeki Mahdi Bogor, sebagaimana dikutip dari Kompas, menambahkan, overstimulasi ini bisa menimbulkan cognitive fatigue (kelelahan kognitif), bahkan cognitive decline (penurunan fungsi otak).

Jika dibiarkan, otak tak hanya lelah, tapi kehilangan daya kritis: informasi baru yang datang bertubi-tubi mengganggu fokus dan kemampuan berpikir.

Detoks Ditigal dan Membaca Al-Quran

Di titik inilah detoks digital menjadi langkah penting. Lahargo menyarankan untuk matikan notifikasi, jauhi gawai, atau beri jeda libur dari media sosial. Detoks bukan sekadar istirahat, melainkan bentuk kecerdasan menahan diri.

Dalam kacamata Fikih Informasi, aktivitas detoks digital ini menjadi bagian dari sifat fathanah atau kecerdasan untuk menimbang dan menahan diri. Al-Qur’an menyebut tanda orang berakal sebagai ulinnuha: mereka yang mampu menahan diri (Q.S. Taha: 54).

كُلُواْ وَٱرْعَوْا أَنْعَـٰمَكُمْ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.”

Menahan diri adalah inti kecerdasan. Artinya, sekalipun berbagi konten di media sosial hukumnya mubah, orang yang ulin nuha akan bijak membatasi diri, menimbang maslahat dan mudaratnya.

Namun, detoks digital dan menahan diri saja belum cukup. Otak yang terbiasa dengan semburan dopamin cepat butuh pengganti, agar tak merasa “sakau” ketika gawai diletakkan.

Maka, pengganti terbaik adalah aktivitas yang menyehatkan pikiran dan menenangkan jiwa: membaca dan menghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri menegaskan fungsinya sebagai syifa’ (penyembuh) sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman. Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحْمَةٞ لِّلْمُؤْمِنِينَۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Q.S. Al-Isra: 82).

Atau jika bukan Al-Qur’an, membuka lembaran kitab hadis juga bisa menjadi pilihan. Bisa dimulai dengan hadis-hadis singkat yang bisa membawa kita pada perenungan mendalam, jauh dari arus konten instan yang menguras konsentrasi.

Sari Pertiwi mungkin tak bisa lepas dari dunia digital sepenuhnya. Namun, jika ia dan kita semua mau menjadi ulin nuha, menahan diri, serta mengisi kekosongan dopamin dengan kedekatan pada Kitabullah, maka “brain rot” bukanlah akhir cerita.

Sebaliknya, era digital bisa menjadi ruang baru untuk melatih kendali diri dan menguatkan akal sehat.

Referensi:

José van Dijck and Thomas Poell, “Understanding Social Media Logic”, dalam Media and Communication, Vol. 1, Issue 1, 2013. DOI: 10.12924/mac2013.01010002.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Fikih Informasi”, dalam Berita Resmi Muhammadiyah Nomor 05/2022-2027/Zulkaidah 1446 H/Mei 2025 M, (Yogyakarta: Gramasurya, 2025).

Ratna Sri Widyastuti, Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki, “”Scrolling” Tak Sudah, Otak Pun Lelah”, dalam Kompas, https://www.kompas.id/artikel/scrolling-tak-sudah-otak-pun-lelah?open_from=Search_Result_Page, diakses pada Selasa, 26 Agustus 2025.

Tinggalkan Balasan