Sabtu, 7 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Menggali Pemikiran Muhammad ‘Abduh, PCIM Tunisia Teguhkan Spirit Intelektual

Oleh admin • • 2 Menit Min
Menggali Pemikiran Muhammad ‘Abduh, PCIM Tunisia Teguhkan Spirit Intelektual

MUHAMMADIYAH.OR.ID, TUNISIA  – Jika berdiskusi mengenai sosok reformis asal Mesir, Muhammad ‘Abduh, nama tersebut tentulah sangat menggema di kalangan masyarakat dunia, terkhusus juga bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah. Sosok yang memiliki spirit Islam Berkemajuan itu selalu disandingkan dengan Jamaluddin al-Afghani dan Rasyid Ridho. Satu padu dalam aspek pemikiran dan pergerakan, ketiga sosok tersebut dijuluki dengan trinitas api pembaharuan pemikiran di dunia Arab-Islam, khususnya di Mesir.

Dalam hal itu, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Tunisia melalui rilis yang ditulis oleh Fikran Munawwar, menyebut bahwa PCIM Tunisia sangat intens untuk menelaah spirit Islam Berkemajuan sehingga menginisiasi forum kajian dan diskusi mengenai sosok Muhammad ‘Abduh dengan tujuan agar para kader dapat meneladani spirit dan pemikirannya.

“Kitab yang dikaji dalam forum tersebut berjudul “Muhammad ‘Abduh: Qiroah Jadidah fi Khithob al-Ishlah ad-Dini”, karya Muhammad al-Haddad yang merupakan cendekiawan asal Tunisia yang konsen pada kajian peradaban Islam dan komparasi agama-agama,” jelas Fikran pada rilis yang diterima pada Selasa (26/8).

Kemudian, kajian tersebut dibahas secara lebih kritis yang diantaranya membahas tentang beberapa faktor tercorengnya keontentikan biografi dari Muhammad ‘Abduh. Dalam tulisannya, Fikran menyebutkan terdapat dua faktor penyebabnya adalah upaya politik pragmatis dari murid Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridho dan juga dinamika politik Mesir dikala itu.

“Terdapat hal-hal yang membuat catatan perjalanan ‘Abduh tercoreng keontentikannya. Beberapa faktornya antara lain: upaya Rasyid Ridho yang melakukan pencatatan sejarah ‘Abduh dengan konteks hermeneutik yang diskrepansi antara hubungan keduanya sehingga catatan sejarah ‘Abduh hanya di pandang dari sudut pandang Rasyid Ridho saja dan dinamika politik Mesir pasca wafatnya Muhammad ‘Abduh,” ungkapnya.

“Dinamika politik Mesir pasca wafatnya ‘Abduh menyebabkan anggota-anggota komite yang dibentuk untuk menulis biografi ‘Abduh tidak begitu konsen dan kesulitan untuk fokus pada proyek mengenang sosok ‘Abduh tersebut dan kemudian mandat tersebut dialihkan dan berpindah lagi ke tangan Rasyid Ridho yang membuat beberapa poin penting dari biografi Muhammad ‘Abduh terdampak,” tambah Fikran.

Terlepas dari hal tersebut, Ketua PCIM Tunisia  periode 2024-2026, Naufal Sholahuddin menjelaskan bahwa spirit dan pemikiran ‘Abduh harus terus menggema dan diteladani khususnya bagi para diaspora. Ia menyebut bahwa intelektual mejadi dasar awal seorang pemimpin, maka seorang intelektual harus mampu untuk mempertahankan jati dirinya dan berpikir kritis dalam berbagai hal.

“Spirit dan pemikiran ‘Abduh tentu masih menggema hingga era ini. Dengan semangat intelektualitas, kita harus terus mempertahankan jati diri kemahasiswaan yang selalu kritis pada berbagai hal dan senantiasa mengabdi dengan ikhlas kepada umat, beramal ‘ilmi dan berilmu ‘amali,” ucapnya.

Terakhir, Naufal menambahkan bahwa spirit yang terdapat di peryarikatan untuk menciptakan kehidupan bernegara yang mampu memberikan harapan dan pencerahan perlu untuk terus ditekankan dengan berdasar pada prinsip-prinsip yang sudah dibangun sejak dulu.

“Proses amunisi para kader PCIM Tunisia akan membawa harapan dan pencerahan bagi seluruh umat dan dalam hal ini para kader akan selalu dibekali oleh prinsip yang telah dibangun oleh Pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan yaitu “Amar ma’ruf, nahi munkar” . Tak lupa juga dalam bernegara, hal ini juga dapat diharmonisasikan dengan prinsip gotong royong yang selalu ditekankan oleh Bapak Proklamator RI, Ir. Soekarno,” jelas Naufal. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan