Pertama kali mendengar lagu “Gala Bunga Matahari” dari Sal Priadi. Suara lembut yang ditopang dengan lirik yang penuh emosi dan makna. Kombinasi ini menciptakan harmoni yang menyentuh hati. Ada perasaan haru ketika mendengar lagu ini. Terbayang pada sosok yang kita sayangi namun telah tiada. Seolah mereka kembali hadir di hadapan kita.
Terutama pada lirik ini begitu mengena:
“Ceritakan padaku
Bagaimana tempat tinggalmu yang baru”
Lirik ini mengajak kita untuk merenung dan berdialog dengan mereka yang telah pergi, menanyakan kabar di tempat baru mereka. Ada rasa rindu yang teramat dalam, sekaligus penerimaan akan kenyataan bahwa mereka kini berada di tempat yang berbeda. Lagu ini tidak hanya menjadi penghibur hati yang sedang rindu, tetapi juga menjadi jembatan untuk menghubungkan perasaan kita dengan kenangan indah yang pernah ada.
Hal ini dapat menjadi momentum untuk kita agar mendoakan mereka yang telah pergi. Dalam hadis Nabi Saw menyarankan mendoakan orang tua yang telah meninggal. “Apabila seseorang meninggal, seluruh amalnya akan terputus kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Imam Muslim).
Dalam lagu ini, Sal Priadi juga nampaknya menggambarkan visualisasi surga yang mirip sekali dengan keterangan dalam Al Quran dan Hadis. Dalam Islam, surga merupakan ciptaan Allah yang masih gaib. Gaib artinya tidak dapat dilihat oleh kasat mata, sehingga tidak ada satupun individu yang tahu gambaran sesungguhnya, tetapi bukan berarti surga tidak ada. Karenanya, kita mengetahui situasi dan kondisi surga berdasarkan nash-nash.
Kata surga dan derivasinya disebut dalam al-Qur’an sebanyak 104 kali. Ada sekitar 26 kali kata surga dibarengi dengan kata lain seperti Firdaus, Ma’wa, ‘Adn, dan Na’im. Selain itu, kata surga disebut dengan kata “al-Dar” 6 kali, dengan rincian Qarar, Muttaqin, Salam, dan Muqamah, juga ada disebut dengan kalimat Maqam al-Amin.
Gambaran surga di dalam Al Quran dan Al-Sunah dapat diwakili oleh penggalan lirik dari Sal Priadi di bawah ini:
“Adakah sungai sungai itu benar benar
Dilintasi dengan air susu
Juga badanmu tak sakit sakit lagi
Kau dan orang orang di sana muda lagi
Semua pertanyaan
Temukan jawaban
Hati yang gembira sering kau tertawa”
Lirik ini menggambarkan surga sebagaimana yang digambarkan dalam QS. Muhammad: 15, berupa taman yang indah, sungai mengalir dari air susu, anggur, madu, dan buah-buahan lainnya. Selain itu, dalam surga semua penghuninya akan tetap muda dan tidak akan menua selamanya, serta diberi kenikmatan sehingga tidak pernah menderita sakit selamanya, seperti diriwayatkan dalam hadis yang disampaikan oleh Muslim. Hadis ini merupakan makna dari firman Allah yang berbunyi “dan diserukan kepada mereka itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan” (QS. Al-A’raf ayat 43).
Lebih dari itu, gambaran surga di dalam Al Quran lebih mempesona lagi. Di surga nanti semua permintaan akan dikabulkan (QS. Fussilat: 31); mendapatkan pasangan (QS. Al-Baqarah: 25), bersenang-senang dengan kegemaran masing-masing, duduk dengan pasangan di sofa (QS. Yasin: 55-56). Tidak luput pula bujang-bujang muda berpakaian sutra hijau, gelang tangan dari perak, minuman bersih (QS. Al-Insan: 19-21), pasangan yang suci, sopan, matanya jelita (QS. Shaffat: 48-49). Bahkan di surga tidak ada kata-kata kotor, atau sia-sia (QS. Waqiah: 25-26).
Visualisasi surga dalam Al Quran itu bisa jadi bukanlah hakikat yang sebenarnya. Boleh jadi hakikat yang sebenarnya jauh lebih menakjubkan dan luar biasa daripada yang dapat dibayangkan oleh akal manusia. Surga intinya adalah tempat di mana segala bentuk penderitaan dan kesedihan lenyap, digantikan oleh kebahagiaan yang tidak pernah pudar. Surga adalah manifestasi tertinggi dari cinta dan kasih sayang Ilahi, tempat di mana para penghuninya akan merasakan kegembiraan yang tanpa akhir.
Referensi:
Ali Yusuf, “Surga-Neraka: Pandangan Muhammadiyah”, dalam Materi Pengajian Tarjih, https://tarjih.or.id/wp-content/uploads/2021/06/Surga-Neraka-dalam-Paham-Muhammadiyah.pdf, diakses pada Jumat, 12 Juli 2024.






