PCIM dan Amanat Internasionalisasi Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, SURABAYA – Muktamar ke-47 Muhammadiyah pada tahun 2015 di Makassar menjadi sejarah penting bagi Persyarikatan. Pasalnya salah satu rekomendasinya adalah mengamanahkan PP Muhammadiyah melakukan gerakan internasionalisasi paham pemikiran (ideologi, manhaj) Muhammadiyah. 

Atas dasar rekomendasi itulah Muhammadiyah kini terus fokus dengan agenda-agenda strategisnya mengenai internasionalisasi Muhammadiyah.

Melalui Webinar Internasional yang diselenggarakan Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LKHI) PP Muhammadiyah, pada Sabtu (5/12). Muhammadiyah kembali menguatkan internasionalisasi sebagai misi menyampaikan perdamaian dunia.

Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni menyebut Webinar Internasional yang melibatkan Pimpinan Cabang Istemewa Muhammadiyah (PCIM) se-dunia akan menguatkan langkah dan peran Muhammadiyah dalam kancah internasional.

“Karenanya internasionalisasi adalah sebuah kebutuhan yang tidak boleh kita abaikan dan sudah menjadi komitmen bersama seperti hasil Muktamar Muhammadiyah ke-47  tahun 2015,” kata Syafiq dalam pengantarnya.

Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LKHI) menyebut langkah strategis tersebut adalah mempromosikan ide-ide atau pikiran Muhammadiyah yang berkemajuan supaya bisa menjadi salah satu referensi bagi gerakan maupun pemikiran di dunia Islam.

Karena kita percaya bahwa apa yang di pikirkan oleh Muhammadiyah, apa yang dipahami oleh Muhammadiyah sebagai ijtihad untuk memahami Al-qur’an dan Sunnah ini sangat tepat dan sangat penting untuk menjadi paling tidak salah satu rujukan bagi pemikiran dan gerakan Islam di negara lain.

“Baik itu mengenai ijtihad, mengenai non mazhab orientasinya, mengenai moderasinya atau wasathiyahnya, saya kira sangat perlu Muhammadiyah diketahui oleh dunia internasional,” sambungnya.

Muhammadiyah Perlu Promosi ke Dunia Akademik Internasional

Syafiq juga mendorong Muhammadiyah dipromosikan ke dunia akademik internasional sehingga banyak yang tertarik untuk meneliti dan mendalami Muhammadiyah. Dari situlah semakin banyak semakin banyak literatur-literatur tentang Muhammadiyah yang menjadi bacaan internasional.

“Kita juga ingin bahwa masyarakar dunia bisa memahami peran Muhamamdiyah misalnya dalam hal Disaster Manajemen Center atau yang dilakukan Muhammadiyah Aid dan adalah sebagai misi membangun perdamaian dunia dan keadilan universal untuk mengatasi masalah-masalah kemanusiaan,” kata Syafiq memperjelas.

Misi perdamaian dunia dan kemanusiaan universal sebagai wujud internasionalisasi Muhammadiyah pesan Mugni tidak terwujud jika tidak didukung penuh oleh peran signifikan PCIM yang berada diluar negeri.

“Untuk itu penting bagi PCIM yang berada diluar negeri untuk terus menjalin relasi dan kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional sehingga bisa memberikan pintu yang seleber-lebarnya bagi masuknya kader-kader persyarikatan Muhammadiyah untuk berkiprah,” pesan Syafiq.

Terakhir, Mugni juga berpesan agar PCIM terus dinamis dan menjaga kaderisasi. Hal itu bisa dilakukan lewat jejaring yang kuat serta jaringan beasiswa sehingga memotivasi dan mendorong serta memobiliasi sesorsis supaya kader-kader Muhammadiyah untuk mendapatkan pendidikan di luar negeri. (Andi)

اترك تعليقًا

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني. الحقول الإلزامية مشار إليها بـ *