MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi yang mendalam atas milad satu abad atau 100 tahun majalah Suara Aisyiyah (SA). Dalam sambutan amanatnya Ia menyebut pencapaian ini sebagai momen yang bersejarah, sekaligus momen penting bagi dunia literasi persyarikatan.
“Tentu ini merupakan suatu hal yang monumental karena tidak banyak majalah yang mampu bertahan selama satu abad lamanya,” ujar Haedar membuka amanatnya yang disampaikan di SM Tower Malioboro, Sabtu pagi (10/10).
Selanjutnya, Haedar menekankan bahwa momentum milad ke-100 juga harus dijadikan pijakan penting untuk melakukan refleksi sekaligus proyeksi ke depan mengenai arah perkembangan Suara Aisyiyah.
Dalam hal ini, Ia menyoroti bahwa meskipun SA memiliki captive market yang sangat besar dengan jutaan anggota, kader, dan pimpinan Aisyiyah, kenyataan dibaliknya bahwa media juga turut menghadapi tantangan berupa pseudo-market atau pasar yang semu.
“Karena itu momentum milad satu abad ini juga harus dijadikan momen untuk merancang visi pembangunan yang lebih jauh ke depan sekaligus maju dan profesional,” ucapnya.
Melanjutkan pemaparannya, Haedar menekankan bahwa visi pengembangan tersebut harus turut didorong dengan kualitas produksi majalah yang menarik dan berisi penting.
Karena itu, untuk menyongsong masa depan Haedar mendorong segenap redaksi dan pimpinan SA agar mampu menyajikan konten yang tidak hanya penting secara substansi, tetapi juga menarik dan menjadi rujukan bagi seluruh masyarakat, khususnya bagi anggota Aisyiyah maupun Muhammadiyah.
“Tentu bagaimana juga di dalamnya para redaktur harus selalu menambah pengetahuan dan wawasan sehingga menjadi pengelola SA yang profesional dan berwawasan luas,” sebut Haedar
Lebih jauh, di era serba modern, media cetak menghadapi tantangan berat dalam bersaing dengan habit media digital dan media sosial yang menawarkan kecepatan serta kemudahan akses informasi.
Maka dengan tantangan tersebut Haedar mengingatkan agar SA jangan sampai terjebak ke dalam “lingkaran setan” di dunia media, terutama dalam sistem manajemen dan sistem finansialnya.
Dalam hal ini, Haedar melanjutkan lebih dalam bahwa lingkaran setan itu terjadi ketika tuntutan untuk maju dan profesional membutuhkan kekuatan finansial yang besar (untuk pengembangan SDM dan teknologi), namun di sisi lain kekuatan yang terbatas membuat media tersebut kesulitan menghidupi dirinya sendiri.
“Di situlah tugas pimpinan umum, bukan pimpinan redaksi untuk berpikir bagaimana pengembangan Suara Aisyiyah hingga bisa bukan hanya menghidupi dirinya sendiri tetapi bahkan berkembang dan melanjutkan kehidupannya, eksistensinya jauh lebih mekar lagi,” tegasnya.
Terakhir, Haedar mengajak seluruh pengelola untuk bersungguh-sungguh mengelola media massa yang besar ini dengan menumbuhkan niat yang kuat. Berlandaskan niat yang tulus, hal tersebut, sebut Haedar, akan mampu melahirkan etos keunggulan dan etos kemajuan.
“Etos inilah yang melahirkan kegigihan dalam menghadapi berbagai masalah dan mengawal media organisasi,” jelasnya.
“Di sinilah para pimpinan SA untuk selain memiliki niat sungguh-sungguh, etos kerja, etos kemajuan yang dirawat, juga memerlukan kesabaran. Sabar untuk membawa keberhasilan, menghadapi masalah, bahkan sabar ketika boleh jadi banyak orang mengkritik kita,” tambah Haedar.
Di akhir sambutannya, Haedar berharap agar di usianya yang telah mencapai satu abad ini, Suara Aisyiyah dapat terus menginspirasi seluruh kader dan pimpinan untuk menjaga bersama warisan literasi sejarah yang penting itu sebagai bagian dari risalah ikhtiar dan pembawa misi rahmatan lil alamin dan misi untuk terus berkemajuan. (Bhisma)






