Minggu, 25 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Pemimpin Sejati Harus Menjadi Pelindung dan Mengutamakan Keselamatan Rakyat

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Pemimpin Sejati Harus Menjadi Pelindung dan Mengutamakan Keselamatan Rakyat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fajar Rachmadhani, menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar soal jabatan dan kekuasaan, melainkan amanah untuk melindungi, melayani, serta mengutamakan keselamatan dan kemaslahatan umat.

Pemimpin sejati, menurutnya, harus hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan, bukan justru menjauh saat rakyat membutuhkan pertolongan.

Pesan tersebut disampaikan Fajar dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (23/10). Dalam khutbahnya, ia mengajak jemaah meneladani akhlak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang senantiasa mengutamakan keselamatan umat daripada kepentingan pribadi.

Fajar mengawali khutbah dengan mengingatkan bahwa berbagai musibah, termasuk kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia, menjadi ujian nyata bagi kepedulian dan tanggung jawab bersama. Di tengah bencana, ada anak-anak yang merindukan udara bersih, orang tua yang mencemaskan keselamatan keluarganya, serta petugas yang berjibaku memadamkan api.

Menurutnya, situasi tersebut menuntut kehadiran pemimpin yang mampu mendengar keluhan, mengupayakan perlindungan, dan memastikan masyarakat yang membutuhkan segera memperoleh pertolongan.

“Ketika penderitaan sesama belum menggerakkan langkah kita, di manakah kasih sayang yang kita teladani dari Nabi kita Rasulullah Muhammad SAW?” ujarnya dalam khutbah tersebut.

Ia kemudian mengangkat peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yatsrib sebagai gambaran kepemimpinan yang mengutamakan keselamatan orang lain. Fajar menjelaskan, Nabi memberikan perhatian terhadap keselamatan para sahabat sebelum memastikan perjalanan beliau sendiri.

Mengutip pemikiran Syekh Ali at-Tantawi dalam buku Rijalun Minat Tarikh, Fajar mengibaratkan kepemimpinan Rasulullah seperti nakhoda kapal yang bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penumpangnya. Ketika kapal menghadapi badai, nakhoda sejati tidak menjadi orang pertama yang menyelamatkan diri, tetapi memastikan penumpangnya selamat sebelum meninggalkan kapal.

Kepemimpinan Rasulullah juga diibaratkan seperti penggembala yang amanah. Saat harus melewati lembah berbahaya, seorang penggembala tidak meninggalkan kawanannya begitu saja, tetapi memastikan setiap anggota kawanan dapat melewati bahaya dengan selamat.

“Rasulullah itu bukan sosok pemimpin yang bertanya, ‘Bagaimana aku selamat?’ Tetapi seolah-olah seluruh hidup beliau dihabiskan untuk bertanya, ‘Bagaimana umatku dulu yang selamat?’” tutur Fajar.

Ia menegaskan, seorang pemimpin tidak boleh menjadikan rakyat sebagai tangga untuk meraih kehormatan. Sebaliknya, pemimpin harus menempatkan dirinya sebagai perisai yang melindungi umat dari berbagai ancaman dan kesulitan.

Fajar juga mengutip Surah At-Taubah ayat 128 yang menggambarkan Rasulullah sebagai utusan yang sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya, serta memiliki sifat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi landasan moral kepemimpinan dalam Islam. Pemimpin tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap penderitaan masyarakat. Ketika rakyat mengalami kesulitan, pemimpin harus hadir sebagai penenang, pelindung, sekaligus pengarah.

Ia menambahkan, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup diwujudkan melalui lisan, termasuk dengan memperbanyak selawat, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku dan keteladanan sehari-hari.

“Seorang pemimpin tidak boleh mati rasa terhadap derita yang dialami oleh umat dan rakyatnya. Bila rakyat itu susah, ia tidak boleh hanya menjaga citra,” tegasnya.

Lebih lanjut, Fajar mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan monopoli pejabat, tokoh, atau penguasa. Setiap orang memiliki amanah kepemimpinan sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya masing-masing.

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi”, yang berarti setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

Dengan demikian, seorang ayah bertanggung jawab atas keluarganya, seorang ibu atas anak-anaknya, serta guru dan dosen atas peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap amanah tersebut kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Fajar menekankan, ukuran kepemimpinan tidak semestinya berhenti pada tingginya jabatan, banyaknya pengikut, atau besarnya apresiasi yang diterima. Hal yang lebih mendasar ialah seberapa besar manfaat yang diberikan dan seberapa aman orang-orang merasakan kehadiran pemimpinnya.

“Pertanyaan yang terberat bagi seorang pemimpin sejati dalam pandangan Islam adalah berapa banyak orang yang merasa aman dengan kehadiranku?” ungkapnya.

Ia juga mengutip hadis “Innamal imamu junnatun”, yang bermakna seorang pemimpin adalah perisai. Menurut Fajar, perisai bukanlah sesuatu yang sekadar dipajang, melainkan digunakan untuk menghadapi bahaya dan melindungi pihak yang berada di belakangnya.

Karena itu, pemimpin yang mengikuti keteladanan Rasulullah harus bersedia menanggung risiko dan kelelahan demi keselamatan orang-orang yang dipimpinnya. Ia tidak boleh meminta bawahan menghadapi bahaya sementara dirinya berlindung di balik jabatan dan kenyamanan.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Di lingkungan keluarga, seorang ayah tidak cukup menuntut penghormatan tanpa memberikan perlindungan. Di lembaga, pemimpin tidak boleh hanya pandai memberi perintah, tetapi juga harus bersedia mendengarkan. Sementara di tengah masyarakat, pemimpin harus hadir bukan hanya dalam acara seremonial, melainkan terutama ketika rakyat membutuhkan solusi.

Fajar turut mengingatkan pentingnya menjalankan amanah dan menegakkan keadilan sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Jabatan, katanya, bukanlah hiasan, kekuasaan merupakan ujian, dan pengaruh adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat yang mengalami ketidakadilan mungkin tidak selalu mampu menyuarakan penderitaannya. Namun, Allah SWT tidak pernah lalai, dan setiap perbuatan akan tercatat dalam amal manusia.

Menutup khutbahnya, Fajar mengajak jemaah menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai cermin untuk mengevaluasi kepemimpinan masing-masing. Setiap orang perlu bertanya apakah telah memimpin dengan kasih sayang, menjalankan amanah secara adil, serta membuat orang-orang di sekitarnya merasa aman dari ucapan, tulisan, dan kebijakannya.

Tinggalkan Balasan