MUHAMMADIYAH.OR.ID BOGOR – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy meresmikan berdirinya masjid kampus baru Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA) pada Sabtu (17/10). Berdirinya masjid tersebut merupakan hasil berkat kerjasama dan bantuan dari Yayasan Assabil, dan diharapkan dapat menjadi pusat syiar dan pembinaan karakter umat.
Di sela-sela peresmian, Muhadjir juga berkesempatan memberikan pengajian. Mengutip hadis yang menerangkan salat adalah tiang agama, ia menegaskan kembali kedudukan penting salat dalam Islam, agar umat islam tidak lantas cepat berpuas diri dengan kualitas salat yang selama ini sudah dijalani.
“Jangan merasa shalat kita sudah sempurna. Bayangkan, dari shalat yang berlangsung tiga sampai lima menit, berapa detik kita benar-benar ingat kepada Allah? Selebihnya sering kali hanya gerakan mekanis semata karena kita sudah hafal luar kepala,” ujar Muhadjir.
Muhadjir menyebut setidaknya ada indikator utama untuk mengukur kesempurnaan salat seseorang, yaitu pada saat melaksanakan salat tahajud. Sebab menurutnya, salat tahajud memiliki intimasi, dimana dilakukan tanpa rasa terburu-buru dan hanya diketahui oleh dirinya sendiri serta Allah SWT.
Selanjutnya, Muhadjir menilik keutamaan yang dimiliki oleh salat tahajud, sebagai satu-satunya salat sunnah yang disebut di dalam Al-Qur’an. Maka demikian, ia menganjurkan agar salat tahajud dapat diamalkan dan dijadikan sebagai identitas warga dan kader persyarikatan.
“Jadikan shalat tahajud sebagai ciri khas kader Muhammadiyah. Kader Muhammadiyah harus rajin tahajud hingga menjadi kebiasaan yang dilakukan secara ikhlas, tanpa menganggapnya sebagai beban,” sebut Muhadjir.
Muhadjir juga menyeru agar salat tidak dianggap sebagai beban sampai-sampai disangka mengganggu produktivitas pekerjaan. Menurut Muhadjir, salat lima waktu pada hakikatnya sudah dirancang sedemikian rupa agar manusia tetap selaras antara bekerja dan beribadah.
Muhadjir membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Tunisia, ketimbang memperkerjakan pekerja muslim yang salat dan mengganggu aktivitas pekerjaan, karena dianggap membuang waktu, negara-negara Islam justru lebih menyukai pekerja asal Thailand atau Filipina yang non-muslim.
“Mereka menilai pekerja yang tidak solat lebih produktif. Kesan demikian ini tidak akan terjadi jika kita memanfaatkan waktu solat dengan sangat baik, lebih pendek tetapi sempurna, berkualitas menghadap Allah SWT,” pungkasnya. (alam)






