Senin, 19 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kisah Ummu Salamah Mengajarkan Husnuzan kepada Allah saat Menghadapi Musibah

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Kisah Ummu Salamah Mengajarkan Husnuzan kepada Allah saat Menghadapi Musibah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Musibah kerap membuat manusia merasa kehilangan harapan. Namun, dalam pandangan Islam, sesuatu yang terasa menyakitkan belum tentu membawa keburukan. Di balik ujian yang tidak diinginkan, Allah Swt. dapat menyiapkan kebaikan yang belum mampu dilihat manusia.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Niki Alma Febriana Fauzi dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Jumat (16/10/2026).

Ia mengajak jemaah merefleksikan kisah rumah tangga Abu Salamah dan Ummu Salamah yang menjadi teladan dalam menghadapi kehilangan dengan kesabaran dan prasangka baik kepada Allah Swt.

Niki mengawali khutbah dengan mengisahkan pasangan sahabat Nabi Muhammad Saw tersebut. Abu Salamah dan Ummu Salamah dikenal sebagai pasangan yang saling mencintai sekaligus taat kepada Allah Swt. Kehidupan mereka yang penuh kasih sayang harus menghadapi ujian berat ketika Abu Salamah gugur dalam Perang Uhud.

Kepergian suaminya membuat Ummu Salamah diliputi kesedihan mendalam. Rasulullah Saw. kemudian mengajarkan doa kepada orang-orang yang sedang menghadapi musibah agar memohon pahala kepada Allah sekaligus berharap mendapat pengganti yang lebih baik.

Doa tersebut berbunyi:  “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

Niki menjelaskan, doa tersebut mengajarkan umat Islam untuk menyadari bahwa segala sesuatu merupakan milik Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Kesadaran itu perlu disertai permohonan agar Allah memberikan ganjaran atas kesabaran menghadapi musibah serta menggantikan sesuatu yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar.

Meski telah menerima nasihat Rasulullah Saw, Ummu Salamah sempat bertanya dalam hati apakah ada seseorang yang lebih baik daripada Abu Salamah untuk menggantikan suaminya. Ia merasa telah kehilangan sosok terbaik dalam hidupnya.

Namun, setelah masa idahnya selesai, Rasulullah Saw sendiri datang melamar Ummu Salamah. Peristiwa tersebut menjadi jawaban atas doa yang diajarkan Nabi. Ummu Salamah kemudian menjadi istri Rasulullah Saw.

“Bisa jadi apa yang tidak kita sukai sesungguhnya menyimpan banyak hikmah yang jauh lebih baik. Sebaliknya, bisa jadi sesuatu yang kita sukai justru mendatangkan banyak mudarat bagi kita,” jelas Niki.

Allah Mengetahui Sesuatu yang Belum Diketahui Manusia

Menurut Niki, kisah Ummu Salamah memberikan pelajaran bahwa manusia tidak selalu mampu memahami makna sebuah peristiwa ketika sedang mengalaminya. Kehilangan sering kali terasa seperti kehancuran, padahal bisa jadi di baliknya terdapat kebaikan yang baru terlihat setelah waktu berlalu.

Ia menghubungkan pelajaran tersebut dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 216.

Artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 216).

Ayat tersebut, menurutnya, mengingatkan manusia agar tidak terburu-buru menilai kehidupan berdasarkan apa yang terasa menyenangkan atau menyakitkan. Pengetahuan manusia terbatas, sedangkan Allah Swt. mengetahui keseluruhan perkara yang tidak dapat dijangkau oleh manusia.

Niki menuturkan, seseorang yang ditimpa musibah terkadang merasa dirinya paling hancur, tidak berguna, bahkan seolah-olah kehilangan seluruh kesempatan untuk meraih kebahagiaan. Padahal, bisa jadi Allah Swt. sedang mengarahkannya menuju keadaan yang lebih baik.

Sebaliknya, kenikmatan yang sedang dirasakan belum tentu membawa kebaikan apabila membuat seseorang semakin jauh dari Allah Swt. Karena itu, ia menekankan pentingnya berhusnuzan atau berprasangka baik kepada Allah dalam menghadapi berbagai keadaan.

Ia mengingatkan hadis qudsi yang menjelaskan bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya kepada-Nya. Prasangka baik tersebut perlu diwujudkan dalam sikap yang tetap mendekat kepada Allah, termasuk ketika kenyataan hidup tidak berjalan sesuai harapan.

Kualitas Amal Menentukan Nilai Sebuah Ujian

Lebih lanjut, Niki menjelaskan bahwa kehidupan manusia merupakan rangkaian ujian. Allah Swt. menguji manusia melalui keadaan yang berbeda-beda, baik berupa kesulitan maupun kenikmatan. Ukuran keberhasilannya terletak pada kualitas amal yang dilakukan ketika menghadapi keadaan tersebut.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Mulk ayat 2. Artinya, “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk [67]: 2).

Niki mencontohkan, seseorang yang mengalami kemiskinan atau penderitaan dapat memperoleh kebaikan apabila mampu bersabar dan menjadikan keadaan tersebut sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah Swt. Sebaliknya, orang yang memperoleh kekayaan, jabatan, dan kedudukan sosial dapat kehilangan nilai kebaikan apabila kenikmatan itu justru membuatnya sombong, menjauh dari agama, dan berselisih dengan sesama.

Dengan demikian, menurut Niki, keadaan yang dialami seseorang tidak dengan sendirinya menentukan apakah ia sedang memperoleh kebaikan atau keburukan. Cara menyikapinya melalui amal menjadi bagian penting dalam menentukan nilai ujian tersebut.

Ia kemudian mengutip hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Muslim tentang keistimewaan keadaan seorang mukmin.

Artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang mukmin.” (HR. Muslim).

Niki menjelaskan, hadis tersebut menunjukkan bahwa seorang mukmin memiliki kesempatan untuk memperoleh kebaikan dalam berbagai keadaan. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut untuk amal saleh serta membantu orang lain. Ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar dan tetap mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Kedua sikap itu menjadikan keadaan yang berbeda sebagai jalan untuk memperoleh pahala. Kenikmatan tidak membuatnya lupa diri, sedangkan penderitaan tidak membuatnya kehilangan kepercayaan kepada Allah.

Karena itu, Niki mengajak jemaah menjadikan kisah Ummu Salamah sebagai pengingat ketika menghadapi ujian kehidupan. Manusia memang tidak selalu dapat memilih apa yang datang dalam hidupnya, tetapi tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan sikap dan amal dalam menghadapinya.

Tinggalkan Balasan