MUHAMMADIYAH.OR.ID KARANGANYAR – Madrasah Muhammadiyah selalu berupaya memiliki mutu dan senantiasa berkembang juga berkemajuan.
Oleh karena itu, peran kepala madrasah Muhammadiyah dituntut tidak semata-mata menjalankan tugas administratif dan rutinitas belaka. Namun juga, menjadi pribadi yang yakin membawa madrasahnya semakin unggul, memiliki visi jangka panjang, dan keberanian untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan identitas Muhammadiyah.
Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib, dalam pembukaan rangkaian agenda Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah ke-2 di Karanganyar, 15-18 Oktober, pada Jumat (17/10).
Perlu diketahui, Diksuskamad, merupakan bagian dari upaya mewujudkan kualitas pendidikan madrasah-madrasah Muhammadiyah mulai dari RA/BA, MI, MTs, hingga MA yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PP Muhammadiyah, melalui peningkatan kapasitas kepemimpinan kepala madrasah.
Menurut Irwan, antara sekolah dan madrasah tidak memiliki perbedaan meski dikelola oleh kementerian yang berbeda. Keduanya, kata Irwan, sama-sama memiliki tanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan mutu pendidikan.
Irwan mengibaratkan peran kepala madrasah sebagai nahkoda kapal pinisi yang mampu membaca situasi, mengetahui perubahan kondisi, dan pandai dalam memutuskan arah perjalanan.
Oleh sebab itu, Irwan meminta agar kepala madrasah tidak merasa rendah diri, lebih-lebih jika dibandingkan dengan sekolah umum. Ia menyingkap, justru di sebagian daerah, madrasah mampu menunjukkan keunggulan.
“Jangan sampai muncul perasaan minder hanya karena kita memimpin madrasah, bukan sekolah. Kalau perasaan itu terus dipelihara, jangan berharap akan ada perubahan,” pinta Irwan.
Berikutnya, oleh Irwan, kepala madrasah dimintanya untuk adaptif, memiliki visi jauh ke depan, dan kerja keras tanpa menyerah. Ia mencontohkan, perguruan tinggi Muhammadiyah yang kini menjadi institusi yang diperhitungkan meski di awal kemunculannya dianggap tidak menjanjikan.
“Tugas kita adalah bagaimana mengubah anak-anak yang semula seperti pasir menjadi mutiara. Prosesnya memang tidak mudah, tetapi bisa dilakukan kalau kita memiliki semangat untuk itu,” ujar Irwan.
Irwan membagikan pengalamannya sewaktu membangun sekolah dari kondisi awal yang serba terbatas, seperti belum memiliki gedung, tenaga pengajar dan modal yang memadai. Meski demikian, Irwan tetap menjalani proses dengan membuka pendaftaran, merekrut guru, dan memanfaatkan ruang yang dapat dipinjam.
“Dari proses itu, saat ini, sekolah tersebut dapat berkembang dan melahirkan alumni yang melanjutkan jenjang pendidikan hingga ke luar negeri,” lanjut Irwan.
Menurut Irwan, keterbatasan tidak bisa dijadikan alasan untuk menyerah. Dengan visi, keberanian, dan kerja keras, keterbatasan justru dapat diubah menjadi peluang.
“Hilangkan keluhan, hadirkan ketulusan. Ketulusan harus disertai kerja nyata,” pungkas Irwan
Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Iwan Junaedi juga mendorong agar kepala madrasah memiliki keberanian untuk berinovasi.
Iwan, yang juga menjabat Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan pada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mengingatkan agar Diksuskamad tidak hanya berhenti sebagai kegiatan pelatihan tanpa memiliki dampak terhadap peningkatan mutu madrasah.
“Setelah Diksuskamad ini harus segera melakukan rencana tindak lanjut dari yang sudah disiapkan di Diksuskamad ini. Apa yang menjadi prioritas di tahun 2026 ini sehingga kemudian dapat menjadikan madrasah Muhammadiyah kita unggul dan berkemajuan,” ujar Irwan. (Alam)






