Selasa, 29 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Karya Kontroversial tentang Nabi Muhammad dan Persoalan Sasaran Kritik

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Karya Kontroversial tentang Nabi Muhammad dan Persoalan Sasaran Kritik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, LEIDEN — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ayub menilai karya seni atau buku yang mengangkat sosok Nabi Muhammad dan memicu kontroversi perlu dilihat dari tujuan yang hendak dicapai pembuatnya.

Menurutnya, setidaknya terdapat beberapa kemungkinan tujuan yang perlu dibedakan, mulai dari ekspresi seni, kritik sosial, hingga kritik terhadap Islam itu sendiri.

Hal tersebut disampaikan Ayub, yang juga merupakan mahasiswa doktoral di Universitas Leiden, dalam komentarnya kepada tim redaksi Muhammadiyah.or.id pada Senin (28/09).

Menurut Ayub, apabila karya tersebut dibuat sebagai ekspresi seni, kemarahan atau penolakan dari sebagian masyarakat tetap merupakan bentuk respons yang valid. Seni tidak selalu menghasilkan respons yang seragam, sehingga apresiasi terhadap sebuah karya tidak semestinya dimaknai sebagai kewajiban untuk menerima semua bentuk reaksi terhadapnya.

“Jika hanya sebagai ekspresi seni, maka reaksi marah dari sebagian orang juga merupakan respons yang valid terhadap karya tersebut,” ujarnya.

Ayub menilai sikap yang seolah-olah mengharuskan publik menerima karya tersebut atau sekadar memberikan apresiasi justru berpotensi mengabaikan keragaman respons terhadap sebuah karya seni. Menurutnya, ruang kebebasan berekspresi juga perlu diiringi dengan pengakuan bahwa masyarakat memiliki hak untuk merespons karya tersebut dengan cara yang beragam.

Namun, jika tujuan karya tersebut adalah menyampaikan kritik sosial, Ayub mempertanyakan pilihan untuk membawa sosok Nabi Muhammad sebagai medium kritik. Menurutnya, strategi semacam itu berisiko menjauhkan kritik dari kelompok masyarakat yang justru paling terdampak oleh persoalan sosial yang hendak dibicarakan.

Ia mencontohkan masyarakat Muslim yang secara ekonomi kurang beruntung. Bagi kelompok tersebut, kata Ayub, kecintaan kepada Nabi Muhammad dapat menjadi salah satu hal yang sangat berharga dalam kehidupan mereka.

“Jika bertujuan untuk kritik sosial, mengapa harus membawa-bawa Nabi Muhammad?” katanya.

Menurut Ayub, kritik sosial akan lebih tepat apabila diarahkan secara langsung kepada pihak atau persoalan yang dianggap sebagai sumber masalah. Jika tokoh-tokoh agama memang memiliki keterkaitan dengan persoalan yang dikritik, mereka pun dapat menjadi sasaran kritik secara langsung.

Cara tersebut dinilai dapat menghindari munculnya jarak dengan kelompok masyarakat yang sebenarnya menjadi bagian penting dari persoalan yang sedang dibicarakan. Terlebih, ketika simbol keagamaan yang memiliki kedekatan emosional sangat kuat bagi masyarakat digunakan sebagai medium kritik.

Ayub juga membedakan antara kritik terhadap perilaku sebagian umat Islam dan kritik terhadap Islam itu sendiri. Jika tujuan utamanya memang mengkritik Islam, menurutnya, kritik tersebut sebaiknya disampaikan secara terbuka dan jujur.

“Jika memang tujuannya adalah mengkritik Islam itu sendiri, lebih baik disampaikan secara jujur,” ujarnya.

Menurut Ayub, pengemasan kritik seolah-olah hanya ditujukan kepada perilaku sebagian umat Islam dapat menimbulkan persoalan tersendiri. Sebab, perilaku yang dikritik tersebut kerap ditempatkan sebagai bagian dari persoalan sosial yang lebih luas. Akibatnya, respons yang muncul dari umat Islam dapat tetap serupa, terutama ketika kritik tersebut menyentuh simbol atau figur yang memiliki kedudukan penting dalam keyakinan mereka.

Tinggalkan Balasan