MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG – Memasuki dunia perguruan tinggi bukan hanya sekadar pergantian status dari pelajar menjadi mahasiswa. Lebih dari itu, masa perkuliahan menjadi ruang untuk membentuk cara berpikir, karakter, dan nilai yang akan menentukan bagaimana kemudian seseorang dapat mengambil peran di tengah masyarakat.
Pesan inilah yang disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Republik Indonesia Fauzan kepada mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam kegiatan PESMABA GEN 26 pada Selasa (8/9).
Di hadapan mahasiswa baru UMM, Fauzan menekankan pentingnya keberanian untuk bertransformasi. Menurutnya, sebagai mahasiswa tidak cukup hanya mengalami perubahan secara formal, tetapi juga harus meninggalkan kebiasaaan lama dan membangun mental sebagai generasi yang inovatif, mandiri serta konstruktif.
Menurutnya, memasuki perguruan tinggi berarti mahasiswa telah memasuki fase kehidupan yang berbeda. Jika sebelumnya mereka menjalani kehidupan sebagai seorang pelajar, kini terdapat perubahan dalam tanggung jawab, beban dan perilaku yang perlu untuk disadari.
Fauzan menekankan bahwa perubahan yang terjadi tidak cukup hanya ditandai dengan bergantinya srarus dari pelajar menjadi mahasiswa. Transformasi yang lebih penting justru terjadi dalam pola pikir.
“Saudara memiliki tanggung jawab untuk meninggalkan tabiat ketika masih SMA, semuanya itu akan bisa berubah manakala cara berpikir saudara berubah,” tegasnya.
Ia menilai mahasiswa yang memilih UMM telah mengambilk keputusan yang tepat untuk mengembangkan diri. Karena itu, pilihan tersebut perlu diikuti dengan kesiapan mental untuk menjadi pribadi yang inovatif dan mandiri.
Fauzan juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas dan lingkungan pendidikan yang tersedia di UMM sebagai ruang untuk mengembangkan kapasitas diri. Menurutnya, berbagai infrastruktur yang dimiliki perguruan tinggi dapat menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa agar mampu tumbuh sebagai inovator dan pribadi yang mandiri.
Lebih jauh, ia mengatakan bahwa mahasiswa merupakan aset strategis dalam perjalanan menuju indonesia emas 2045 mendatang. Menurutnya, cita-cita indonesia emas tidak dapat dicapai tanpa perubahan pada generasi muda, termasuk dalam menajalani kehidupan dan mempersiapkan masa depan.
“Saudara saat ini kuliah sebenarnya menjadi aset strategis untuk menuju 2045 yang dikatakan Indonesia Emas,” jelasnya.
Oleh karena itu, mahasiswa dituntut memiliki keberanian untuk membangun kualitas atau value diri melalui kerja keras dan meninggalkan kebiasaan yang bersifat destruktif.
Diakhir Fauzan mengibaratkan mahasiswa baru UMM seperti ulat yang tengah berada dalam fase kepompong. Menurutnya, masa perkuliahan merupakan proses untuk membentuk diri, bukan sekedar mengubah status.
“Saudara mungkin saat ini ada di fase kepompong, tapi empat tahun ke depan saudara akan menjadi kupu-kupu yang tidak hanya merubah bentuk tetapi juga value,” pungkas Fauzan. (Diva)






