MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketiadaan Dewan Syuro di struktur kepemimpinan Muhammadiyah karena fungsi leader atau spiritual authority dan manajer atau instrumental authority menyatu dalam Ketua Pimpinan Pusat, Wilayah, Daerah, dan Cabang Muhammadiyah.
Hal itu diungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Jumat (4/9) dalam Training High Impact Leader and Manager yang diselenggarakan Pusdiklat PP Muhammadiyah di Grand Rohan, Yogyakarta.
Menjelaskan tentang leader dan manager, Haedar menyebut, di PP Muhammadiyah itu keduanya diperankan oleh Ketua Muhammadiyah sehingga dalam hierarki kepemimpinan tidak ada Dewan Syuro.
“Kita menyatukan semuanya itu. Maka siapa pun yang di PP Muhammadiyah, PWM, dasarnya dia pemimpin, tetapi dia harus punya kemampuan manajerial,” ungkapnya.
Oleh karena itu, kepemimpinan atau leader di Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki spiritual authority– sebab ketika sosok itu dipilih atau diberi amanah kepemimpinan, secara langsung dia juga harus menguasai manajerial.
“Tapi wilayah leader tidak hanya itu, maka fungsi dengan karakter bahwa leader sebagai spiritual authority dengan modal dasar spiritual authority, dan manajer dengan kemampuan instrumental authority,” tuturnya.
Format Program PP Muhammadiyah Lahir dari Kerangka Keilmuan
Dalam pengalamannya mendesain kerangka kebijakan program PP Muhammadiyah, imbuh Haedar, sejak awal kepemimpinan Din Syamsudin, program di Muhammadiyah disusun melalui proses keilmuan.
Bahkan PP Muhammadiyah untuk merumuskan format program saat itu menghadirkan Andrew E.B. Tani penulis buku “Get Real: Berdayakan Manager-Leader dalam Diri Anda”.
Meskipun demikian, tidak semua teori kepemimpinan dan manajerial dari Andrew digunakan. Sebab dalam perumusan, PP Muhammadiyah juga terlebih aktif dan terjadi diskusi mendalam, sehingga ada teori yang relevan dan digunakan, serta ada yang tidak.
“Maka kebijakan desain format program PP Muhammadiyah itu, itu memang hasil dari pekerjaan keilmuan, bukan asal merumuskan,” ungkap Haedar.
Di sisi, Muhammadiyah juga tidak menutup diri dengan perkembangan teori kepemimpinan dan manajerial, termasuk mengakomodir pengalaman lapangan, sehingga saling melengkapi.






