MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah, pada Kamis (24/9) dalam rangka memperingati Hari Tani Indonesia 2026 menggelar Talkshow GEGER TANI (Geliat dan Gerak Pertanian) 2026 dengan tajuk “Petani Milenial dan Kedaulatan Pangan”.
Pemaparan menarik saya temukan melalui sesi talkshow yang menghadirkan tiga narasumber yaitu Founder & CEO Rumah Mocaf Indonesia Riza Azyumarridha Azra, Komisaris PT Tresno Jamu Indonesia Fakhara Agam, dan Founder PT Pangan Nusantara Indonesia Yuari Trantono.
Sebenarnya, talkshow ini berfokus kepada bagaimana sektor pertanian dapat lebih banyak lagi menarik minat dari kaum muda (milenial dan Gen Z) Indonesia. Bahkan dalam sambutan utama Ketua MPM PP Muhammadiyah, Nurul Yamin menyebut bahwa mayoritas petani Indonesia terkini masih berada pada kalangan usia lanjut.
Berlandas hal tersebut, Yamin mendorong para generasi muda menjadi motor penggerak sekaligus menjadi agen keberlanjutan untuk kedaulatan pangan Indonesia di masa depan.
Disisi Lain, Pertanian Juga Mengalami Tantangan yang Multi-Aspek
Disebutkan oleh salah satu narasumber, Riza Azyumarridha Azra selaku Founder & CEO Rumah Mocaf Indonesia bahwa sektor pemberdayaan petani kini mengalami tantangan dan PR yang masih terbilang besar.
Lalu, hal apa saja yang membuat sektor pemberdayaan memiliki hambatan dan tantangan yang besar, khususnya bagi pengusaha-pengusaha dan petani di Indonesia?
Dalam hal ini Riza mencontohkan hambatan di sektor usahanya sendiri yang berfokus kepada produksi dan pengolahan produk singkong (tepung mocaf) yang mana ia mengeluhkan soal persaingan harga produk olahan mocaf (Modified Cassava Flour) dengan produk olahan tepung dari bahan gandum yang diimpor dari luar negeri.
Alih-alih bukan karena kualitas, Riza menyebut bahwa kualitas produk tepung mocaf Indonesia tidak kalah baik dengan produk tepung terigu luar negeri. Namun, permasalahan utama disini adalah tentang persaingan harga yang mana justru harga tepung terigu luar negeri terbilang lebih murah dibandingkan dengan produk tepung mocaf yang diolah di dalam negeri.
“Alasannya karena kebijakan pemerintah yang memberikan subsidi pajak (nol) bagi pengekspor tepung terigu ke Indonesia. Sebenarnya kita bisa saja membuat harga mocaf lebih murah dari produk impor, tapi dilema lain yang dikorbankan adalah para petaninya yang semakin berpenghasilan rendah,” katanya.
Berdasar kepada dilema ini, bukan hanya sektor regenerasi saja yang perlu menjadi perhatian khusus, namun sebelum itu, Riza menyarankan agar sektor kebijakan pemerintah Indonesia harus lebih berpihak kepada kesejahteraan petani lokal.
“Ironisnya data BPS yang saya peroleh sebesar 98% petani Singkong di Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, bahkan miskin ekstrem,” tambah Riza menjelaskan.
Dengan kata lain, potensi populasi muda Indonesia yang besar, ditopang oleh hasil pertanian yang melimpah, semestinya dapat menjadi kekuatan utama bagi kedaulatan pangan nasional. Namun, potensi tersebut tidak akan banyak berarti apabila petani masih menghadapi persoalan kesejahteraan, akses pasar, hingga kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada produk lokal.
Regenerasi petani memang penting, tetapi menghadirkan generasi muda ke sektor pertanian juga berarti memastikan mereka melihat pertanian sebagai ruang hidup dan usaha yang menjanjikan. Dan pada akhirnya, pekerjaan rumah di sektor pertanian dan pangan Indonesia ini tidak hanya sekadar menghasilkan kualitas maupun kuantitas pangan yang lebih banyak, namun juga harus memastikan bagaimana pihak yang berada di balik produksi dapat hidup secara layak dan sejahtera. Dan disinilah, forum geliat pertanian perlu bergerak dari sekadar pemberdayaan dan pembinaan, menjadi forum advokasi yang mampu bersuara, menjaga dan memberikan dampak bagi keberlanjutan sektor pangan di Indonesia. (bhisma)






