Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Cegah Anak Terjebak Pergaulan Bebas, Orang Tua Perlu Siapkan Kurikulum Keluarga

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Cegah Anak Terjebak Pergaulan Bebas, Orang Tua Perlu Siapkan Kurikulum Keluarga

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Menikah bagi seorang muslim tidak sekadar menyatunya dua insan yang berbeda, sebab menikah juga artinya membangun jembatan baru untuk melahirkan, membesarkan, dan mendidik anak sebagai generasi penerus perjuangan dan dakwah.

Oleh karena itu, keluarga sekaligus berfungsi sebagai ‘madrasah’ bagi anak-anak penerus perjuangan dan dakwah. Maka menurut Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, calon orang tua sebelum menikah sebaiknya membuat kurikulum keluarga.

“Kurikulum keluarga harus ada. Dan kurikulum keluarga itu kemudian dibuat ketika akan menikah, ketika calon orang tua hendak menikah itu sudah ada kurikulumnya. Maka ada bimbingan perkawinan,” katanya pada Senin (31/8) dalam kajian Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.

Kurikulum keluarga menurut Talqis dimaksudkan sebagai gudien dalam mendidik anak-anak di keluarga itu nanti. Terlebih pendidikan anak untuk membangun relasi dengan lawan jenis, sebab hubungan lawan jenis di masa remaja kini sangat memprihatinkan dan mencemaskan.

Dirinya menekankan, bahwa pendidikan sek pada anak untuk saat ini bukan suatu yang tabuh. Sebab dari pendidikan seks yang dikurikulumkan dalam institusi keluarga menjadi bentang bagi anak-anak dalam menjalani kehidupan yang serba bebas saat ini.

Tanpa bermaksud meminggirkan peran institusi pendidikan formal seperti sekolah, Talqis menyebut bahwa fungsi keluarga juga sebagai institusi pendidikan bagi anak-anak di keluarga itu, tak terkecuali pendidikan seks.

Terlebih saat ini di mana kehidupan dimediasi dunia digital, banyak orang tua yang merasa dekat dengan anak, namun nyatanya mereka kerap tidak mengetahui perilaku anak. Tidak hanya perilaku di luar rumah, bahkan orang tua juga tidak mengetahui perilaku anak-anak yang secara fisik berada di bilik kamarnya.

Melalui ruang-ruang digital, anak-anak kini dapat mendefinisikan indeks kebahagian sesuka pilihannya. Dalam situasi itu orang tua penting untuk hadir memberikan perspektif dan definisi dari indeks kebahagiaan anak. Jangan sampai definisi indeks kebahagiaan anak dibangun atas preferensi jaringan eksternal.

“Orang tua harus masuk membantu mendefinisikan indeks kebahagiaan tadi. Dan juga kemudian memasukkan nilai-nilai Islam,” ungkapnya.

Jangan sampai indeks kebahagiaan anak didefinisikan secara bebas oleh mereka, misalnya sendiri dengan memiliki pasangan sebelum menikah, berpacaran dengan peraturan pergaulan bebas. Bahkan lebih dari itu, terdapat juga yang mendefinisikan pasangan itu sesama jenis.

Tinggalkan Balasan