Minggu, 4 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Agama Mula-Mula Bercahaya, Meredup karena Pemeluknya

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Agama Mula-Mula Bercahaya, Meredup karena Pemeluknya

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA— Tingginya kepercayaan masyarakat harus dijawab Muhammadiyah dengan memperkuat dakwah dan tajdid yang mencerahkan, mencerdaskan, dan memajukan kehidupan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Hari Bermuhammadiyah (HBM) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Gedung Cendekia UMJ, Sabtu (5/9).

Haedar menyebut survei Litbang Kompas pada 2024 menunjukkan 91 persen publik menaruh kepercayaan positif kepada Muhammadiyah.

Hasil serupa ditemukan dalam survei Lembaga Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terhadap generasi milenial dan Gen Z.

Sekitar 91 hingga 92 persen responden menaruh kepercayaan positif terhadap Muhammadiyah, termasuk kiprahnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan dakwah.

Menurut Haedar, hasil tersebut penting ketika sebagian generasi muda mulai mempertanyakan posisi agama dalam kehidupan modern.

Pandangan itu muncul setelah mereka menyaksikan konflik bernuansa agama serta perilaku sebagian organisasi dan tokoh agama yang belum mencerminkan keteladanan di ruang publik.

“Ketika survei ini dilakukan dan hasilnya seperti itu, berarti Muhammadiyah masih mempunyai posisi yang konsisten sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang mampu merawat kehidupan beragama di tengah masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, seluruh unsur Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, organisasi otonom, dan amal usaha tidak cukup hanya mempertahankan kepercayaan masyarakat.

Kepercayaan tersebut harus diwujudkan melalui gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid.

“Dakwah yang mencerahkan, mencerdaskan, memberdayakan, membebaskan, dan memajukan kehidupan umat, bangsa, serta kemanusiaan semesta,” tegasnya.

Dalam konteks tajdid, Muhammadiyah harus membawa alam pikiran umat agar terus memperbarui pemahaman dan pengamalan agama.

Haedar kemudian mengutip pesan Kiai Ahmad Dahlan yang kemudian ditulis di ruang sidang Gedung At-Tanwir PP Muhammadiyah Jakarta.

“Agama itu pada mulanya bercahaya dan berkilau-kilauan, tetapi lama-kelamaan menjadi redup. Bukan karena agamanya, melainkan karena umatnya,” ungkapnya.

Pesan tersebut menunjukkan eratnya hubungan antara agama dan perilaku pemeluknya.

Agama dapat kehilangan fungsi pencerahannya apabila diterima begitu saja tanpa upaya memperbarui pemahaman dan pengamalannya.

Haedar kemudian menyoroti sejumlah paradoks keberagamaan di Indonesia. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, masih banyak persoalan yang tidak sejalan dengan nilai agama.

Salah satunya adalah korupsi yang masih berlangsung secara masif, sistematis, dan terstruktur.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberagamaan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kejujuran, termasuk dalam mencari rezeki yang halal dan baik.

“Tuhan murka kepada mereka yang selalu berkata, tetapi tidak konsisten melaksanakannya,” ujarnya merujuk Surah As-Saff ayat 3.

Paradoks lainnya terlihat dalam interaksi masyarakat di media sosial.

Haedar menyebut hasil riset Microsoft yang menunjukkan rendahnya tingkat kesopanan masyarakat Indonesia dalam menggunakan media sosial.

Perbedaan pendapat kerap direspons dengan ungkapan kasar yang tidak mencerminkan keadaban publik dan nilai al-akhlaq al-karimah.

Haedar juga menyoroti rendahnya budaya membaca, kesadaran terhadap ilmu pengetahuan, dan kemampuan berpikir kritis.

Keadaan tersebut membuat masyarakat mudah menerima informasi tanpa melakukan verifikasi dan pertimbangan secara matang.

“Orang berakal, cerdas, berilmu, dan memperoleh petunjuk Allah adalah mereka yang mampu menemukan berbagai pandangan, pendapat, opini, maupun unggahan, lalu memilih yang terbaik,” tuturnya.

Menurutnya, rendahnya kesadaran keilmuan akan menghambat kemajuan bangsa. Masyarakat tanpa daya kritis akan lebih sering menjadi objek daripada pelaku perubahan.

Oleh karena itu, momentum Hari Bermuhammadiyah harus digunakan untuk merevitalisasi pemahaman dan kesadaran dalam beragama serta bermuhammadiyah.

Langkah tersebut diperlukan agar Muhammadiyah terus menghadirkan pencerahan dan kemajuan bagi kehidupan bersama. (taufik)

Tinggalkan Balasan