Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Ragam Praktik Ibadah Sama-sama Bersumber dari Nabi, Umat Islam Diminta Tidak Saling Menyalahkan

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Ragam Praktik Ibadah Sama-sama Bersumber dari Nabi, Umat Islam Diminta Tidak Saling Menyalahkan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Perbedaan cara menjalankan sejumlah praktik ibadah di tengah umat Islam tidak selalu menunjukkan adanya pertentangan. Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mukhlis Rahmanto menjelaskan, sebagian perbedaan tersebut justru muncul karena Nabi Muhammad Saw mengajarkan lebih dari satu bentuk praktik ibadah.

Hal itu disampaikan Mukhlis dalam pengajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Senin (10/08). Ia mencontohkan beberapa variasi dalam salat yang sama-sama memiliki dasar dari hadis Nabi.

Salah satunya adalah bacaan doa setelah takbiratul ihram. Mukhlis menyebut terdapat beberapa doa yang diajarkan Nabi, di antaranya Allāhumma bā‘id bainī, Allāhu akbar kabīrā, dan wajjahtu wajhiya lilladzī faṭaras-samāwāti wal-arḍ.

“Ternyata tiga-tiganya itu diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam sehingga kita bisa memilih salah satu,” jelasnya.

Keragaman tersebut, menurut Mukhlis, disebut tanawwu‘, yakni variasi praktik yang semuanya memiliki landasan dari Nabi. Karena itu, seseorang tidak semestinya menyalahkan orang lain hanya karena memilih bacaan yang berbeda.

“Tidak boleh yang membaca Allahumma ba‘id itu menyalahkan yang membaca Allahu Akbar kabīrā. Yang baca Allahu Akbar kabīrā enggak boleh menyalahkan yang membaca wajjahtu. Karena semuanya tadi hadisnya sampai kepada Nabi,” katanya.

Hal yang sama berlaku pada bacaan basmalah dalam salat jahr. Mukhlis menjelaskan, terdapat imam yang membaca bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dengan suara terdengar dan ada pula yang membacanya secara lirih atau tidak terdengar oleh makmum. Kedua cara tersebut memiliki riwayat dari Nabi.

“Ternyata dua-duanya ini ada hadisnya dan pernah diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,” ujarnya.

Karena itu, Mukhlis mengkritik kebiasaan mengidentifikasi perbedaan praktik ibadah secara sederhana berdasarkan identitas kelompok. Ia mencontohkan anggapan bahwa bacaan basmalah yang tidak terdengar identik dengan Muhammadiyah, sementara bacaan basmalah yang terdengar identik dengan NU.

“Padahal sebelum ada Muhammadiyah NU sudah ada itu hadisnya, sama-sama diajarkan oleh Nabi,” tegasnya.

Menurut Mukhlis, perbedaan juga terdapat dalam bacaan salam. Ada riwayat yang menggunakan assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh dan ada pula yang menggunakan assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Keduanya memiliki dasar dalam ajaran Nabi sehingga tidak semestinya dijadikan alasan untuk saling menyalahkan.

Ia juga menyinggung persoalan isbal, yakni posisi pakaian atau celana yang melewati mata kaki. Menurut Mukhlis, terdapat sejumlah hadis mengenai persoalan tersebut dengan variasi penjelasan, termasuk hadis yang mengaitkannya dengan kesombongan. Karena berada dalam wilayah cabang, umat seharusnya memberikan ruang bagi perbedaan pendapat.

Selain praktik ibadah, keragaman juga terlihat dalam cara umat meneladani Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Mukhlis menjelaskan, ahli hadis memasukkan sifat fisik dan kebiasaan Nabi sebagai bagian dari hadis. Karena itu, orang yang memilih mengenakan sorban, jubah, atau menggunakan siwak sebagai bentuk ittiba‘ tidak semestinya disalahkan.

Pada saat yang sama, orang yang memilih pakaian sesuai budaya setempat juga tidak dapat dianggap meninggalkan sunah. Menurut perspektif fuqaha, yang menjadi pertimbangan utama dalam berpakaian adalah terpenuhinya ketentuan syariat, terutama menutup aurat.

“Yang penting apa? Aurat saya tertutup,” ujarnya ketika menjelaskan contoh pakaian salat.

Mukhlis menegaskan bahwa keragaman praktik tersebut seharusnya memperkuat sikap saling menghormati. Menurutnya, masalah muncul ketika seseorang merasa hanya praktik yang dilakukannya yang paling benar, sementara praktik lain dianggap salah.

“Tidak perlu merasa ini saya yang paling benar,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. harus dibangun di atas ilmu. Umat memang dituntut menjadikan Nabi sebagai uswatun hasanah, tetapi upaya meneladani beliau harus didahului dengan mempelajari hadis dan memahami keragaman ajaran yang beliau sampaikan.

“Cinta yang berdasarkan ilmu,” tegas Mukhlis. Menurutnya, ilmu dapat mengurangi ketidaktahuan yang sering menjadi sumber prasangka buruk terhadap orang lain.

Tinggalkan Balasan