Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Ketahanan Keluarga Fondasi Lahirnya Generasi Berkemajuan di Era Digital

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Ketahanan Keluarga Fondasi Lahirnya Generasi Berkemajuan di Era Digital

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Keluarga bukan sekadar unit sosial terkecil, melainkan fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Ketahanan keluarga menjadi penentu lahirnya generasi yang tangguh sekaligus menjadi benteng pertama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, Jasra Putra, dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk “Pengasuhan dan Ketahanan Keluarga: Membangun Generasi Maju di Era Digital”. Jumat malam, (31/7) bertempat di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta.

“Bicara keluarga tidak hanya tentang membesarkan anak, tetapi juga tempat membangun peradaban. Jika keluarga kuat, bangsa akan menjadi kuat. Sebaliknya, apabila keluarga rapuh, akan lahir berbagai krisis, mulai dari krisis sosial, pendidikan, ekonomi, hingga krisis moral,” tegas Jasra.

Melanjutkan pemaparannya, Jasra menyebut bahwa Muhammadiyah menaruh perhatian besar terhadap isu ketahanan keluarga karena keluarga merupakan ruang pertama sekaligus terpenting dalam proses pembentukan karakter dan nilai-nilai kehidupan.

Namun demikian, membangun keluarga yang ideal di tengah perkembangan zaman dan digitalisasi bukanlah perkara mudah. Jasra menilai terdapat sejumlah tantangan besar yang kini dihadapi keluarga Indonesia.

Tantangan pertama adalah berubahnya fungsi keluarga. Ia menilai rumah kini tidak lagi menjadi ruang bertumbuh bersama karena setiap anggota keluarga kini lebih banyak disibukkan oleh perangkat gawainya masing-masing.

“Keluarga kini mengalami perubahan fungsi. Rumah tidak lagi menjadi tempat bertumbuh bersama. Secara fisik memang hadir di rumah, tetapi masing-masing sibuk dengan gawainya,” jelas Jasra.

Kondisi tersebut kemudian memicu krisis interaksi dan komunikasi dalam keluarga. Dalam hal ini ia mencontohkan tentang budaya makan bersama yang semakin jarang dilakukan, sementara komunikasi antaranggota keluarga semakin singkat dan dangkal.

Selain itu, hal kedua yang disorotinya adalah tentang krisis waktu dalam pengasuhan yang beriringan dengan meningkatnya ancaman terhadap anak. Menurutnya, kurangnya perhatian, pendampingan, dan keteladanan dari orang tua membuat anak mencari ruang pengakuan di luar rumah.

“Akibatnya, anak-anak mencari apresiasi di luar rumah, termasuk mencurahkan isi hati di media sosial. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan yang tidak bertanggungjawab, termasuk pedofilia,” papar Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu.

Berbagai persoalan tersebut, lanjut Jasra, pada akhirnya bermuara pada meningkatnya krisis kesehatan mental di kalangan anak dan remaja. Kecemasan, depresi, kesepian, hingga tekanan akademik menjadi fenomena yang semakin sering ditemukan.

Ia juga turut menyoroti fenomena fatherless yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 15,9 juta anak tumbuh tanpa kehadiran aktif sosok ayah dalam proses pengasuhan.

“Dampaknya sangat besar, mulai dari rendahnya kontrol diri, emosi yang tidak stabil, kemampuan sosial yang lemah, hingga meningkatnya kerentanan melakukan tindak pidana pada masa remaja,” ungkapnya.

Langkah Strategis Muhammadiyah, Hadirkan Kesejahteraan Yang Adil Bagi Ketahanan Keluarga

Menjawab berbagai tantangan tersebut, Jasra menegaskan bahwa Muhammadiyah melalui MPKS PP Muhammadiyah terus mengembangkan berbagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Langkah pertama adalah mengoptimalkan fungsi keluarga melalui penguatan fungsi ekonomi, kasih sayang, perlindungan, pendidikan, hingga reproduksi melalui berbagai program edukasi dan pengasuhan (parenting).

“Ada situasi keluarga yang sangat beragam. Karena itu Muhammadiyah harus terus hadir. Ini merupakan bagian dari sebuah sistem yang perlu dikawal dari sisi regulasi, program, anggaran, layanan, dan berbagai aspek lainnya,” jelasnya.

Langkah kedua ialah memperkuat peran komunitas di tingkat akar rumput. Muhammadiyah didorong terus menggerakkan komunitas agar mampu menjangkau anak-anak yang berada dalam kondisi rentan serta memastikan mereka tetap memperoleh ruang perlindungan, pembinaan, dan pendampingan.

Sementara itu, langkah ketiga dilakukan melalui penguatan peran lembaga seperti panti asuhan atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah sebagai bagian dari sistem perlindungan sosial.

Menurut Jasra, pengembangan lembaga tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat tinggal bagi anak-anak, tetapi harus menjadi pusat pembinaan dan penguatan karakter bagi mereka yang kehilangan pengasuhan keluarga inti.

“Muhammadiyah harus mampu menjadi jaring pengaman sosial terakhir bagi anak-anak yang kehilangan pengasuhan keluarga sehingga mereka tetap memperoleh hak untuk tumbuh, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik,” tegasnya.

Bagi Muhammadiyah, membangun keluarga adalah bagian dari ikhtiar dakwah yang berorientasi pada pembentukan peradaban. Sebab, keluarga yang kokoh akan melahirkan individu-individu yang memiliki karakter, kepedulian sosial, serta kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Melalui penguatan dan langkah strategis yang telah dipikirkan, Muhammadiyah berharap dapat terus berkontribusi menghadirkan keluarga-keluarga yang tangguh yang diharapkan dari ekosistem keluarga yang tangguh itulah akan tumbuh generasi berkemajuan yang menjadi fondasi terwujudnya Indonesia Emas 2045. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan