Minggu, 4 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Haedar Nashir Sampaikan Duka, Kenang Kiprah Panjang Dyah Nur’aini

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Haedar Nashir Sampaikan Duka, Kenang Kiprah Panjang Dyah Nur’aini

MUHAMMADIYAH.OR.ID, KARTASURA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Dyah Nur’aini, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah periode 2010–2015 dan 2015–2022.

Haedar menyampaikan bahwa keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tentu merasakan kehilangan atas kepergian almarhumah. Namun, kepergian tersebut merupakan ketetapan Allah SWT yang harus diterima dengan ikhlas, sabar, dan tawakal.

“Tentu kami sangat kehilangan. Tetapi, betapapun duka dan kehilangan, Allah telah menggariskan nazar beliau, Ibu Dyah, untuk menghadap ke hadirat-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya,” ujar Haedar saat melepas jenazah almarhumah pada Ahad (23/8) di Kartasura.

Haedar mengingatkan bahwa ketika ajal telah tiba, tidak seorang pun dapat mencegah, mempercepat, maupun menundanya. Sakit maupun tidak, menurutnya, hanyalah bagian dari ketetapan Allah SWT.

Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Yunus ayat 49 yang artinya, “Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”

Dyah Nur’aini wafat pada Sabtu (22/8) dalam usia 69 tahun. Haedar berharap kepergian almarhumah dapat diterima dengan keikhlasan, kesabaran, dan ketawakalan terhadap ketetapan Allah SWT.

“Kami dari keluarga besar Muhammadiyah memberikan kesaksian bahwa Mbak Dyah adalah sosok ‘Aisyiyah dan kader Muhammadiyah. Perjalanan hidupnya adalah upaya untuk menjadi hamba Allah sekaligus khalifatullah melalui Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” ungkapnya.

Menurut Haedar, kegigihan dan pengabdian Dyah Nur’aini selama berkhidmat di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merupakan keteladanan yang akan terus dikenang. Ia berharap seluruh perjuangan dan pengabdian almarhumah menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

“Beliau bisa menjadi contoh kegigihan dan khidmat. Semoga seluruh pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus di akhirat,” tuturnya.

Haedar juga mengenang perjalanan pengabdiannya bersama Dyah Nur’aini yang telah dimulai sejak periode 1979–1982. Saat itu, Haedar aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan Dyah Nur’aini berkiprah di Tapak Suci.

Dari perjalanan tersebut, Haedar mengaku mengetahui secara langsung kegigihan dan dedikasi almarhumah dalam menjalankan amanah organisasi. Dyah kemudian melanjutkan kiprahnya di Nasyiatul ‘Aisyiyah sebagai Ketua Umum periode 1995–2000 sebelum mengemban amanah di Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah sebagai Sekretaris Umum.

Haedar mengatakan, dirinya menyaksikan langsung perjuangan dan kepedulian Dyah dalam mengurus ‘Aisyiyah. Bahkan, almarhumah dikenal tidak pernah lelah menjalankan amanah organisasi hingga ke berbagai daerah, termasuk Solo.

“Betapa perjuangan dan kepintaran beliau dalam mengurus ‘Aisyiyah, hingga ke Solo, tidak pernah lelah,” katanya.

Bagi Haedar, ketulusan dan kegigihan menjadi kunci dalam menjalankan khidmat di Persyarikatan. Pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan, menurutnya, harus senantiasa diarahkan pada ikhtiar yang lebih hakiki untuk memperoleh rida Allah SWT.

“Bahwa kunci khidmat adalah ketulusan dan kegigihan, serta ikhtiar kita yang lebih hakiki berdasarkan rida Allah,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Haedar mengajak seluruh yang hadir untuk mengantarkan almarhumah dengan doa dan keikhlasan. Ia berharap Dyah Nur’aini memperoleh husnul khatimah dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.

“Ketika kita mendengar kabar duka ini, kita sedih. Insyaallah kita berada di tempat ini untuk menghantarkan beliau ke pemakaman dengan doa. Insyaallah Mbak Dyah husnul khatimah dan menjadi ahlul jannah. Kita bersama-sama berdoa untuk melepas kepergian Mbak Dyah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan