MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Media afiliasi Muhammadiyah didorong memperkuat ekosistem digital dan otoritas konten agar gagasan Islam Berkemajuan tetap menjadi rujukan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI).
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ismail Fahmi, pada Rabu (12/8) dalam Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Ismail menilai tantangan media Muhammadiyah kini tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi, tetapi juga eksistensi Muhammadiyah dalam ekosistem AI.
Perubahan pola pencarian informasi membuat AI semakin berperan sebagai rujukan masyarakat, termasuk dalam memperoleh pengetahuan keagamaan.
“AI akan berkembang dan menyebarkan Islam Berkemajuan tanpa Muhammadiyah. Ini challenge yang harus kita hadapi,” ujarnya.
Karena itu, media afiliasi perlu memperbanyak konten berkualitas yang mengangkat berbagai persoalan masyarakat dari perspektif Muhammadiyah. Potensi tersebut dinilai besar karena Muhammadiyah memiliki universitas, sekolah, rumah sakit, dan berbagai amal usaha yang dapat menjadi sumber pengetahuan dan produksi konten.
Di sisi lain, Ismail mendorong integrasi digital melalui identitas Muhammadiyah dan penguatan sistem data. Transformasi ini diharapkan dapat menghubungkan warga, media, serta berbagai unsur persyarikatan dalam satu ekosistem digital.
“Kalau kita tidak punya identitas, tidak ada Muhammadiyah digital. Maka yang pertama kita kejar adalah pendaftaran keanggotaan Muhammadiyah. Yang dulu masih manual, kita ubah menjadi digital,” jelasnya.
Penguatan tersebut juga diarahkan pada pembangunan jaringan media afiliasi yang lebih kolaboratif melalui konsep jurnalisme berkemajuan, yakni jurnalisme berbasis nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dengan dukungan teknologi AI.
Ismail menegaskan AI ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan tanggung jawab editorial.
Integrasi media juga diharapkan dapat memperkuat produksi, kurasi, dan distribusi konten Muhammadiyah secara lebih terstruktur.
Dalam aspek keberlanjutan ekonomi, media afiliasi didorong mengembangkan sumber pendapatan yang lebih beragam, termasuk event, sponsorship, dan kolaborasi dengan jejaring amal usaha Muhammadiyah.
Dengan jaringan AUM yang luas, peluang tersebut dinilai dapat menjadi alternatif selain ketergantungan pada trafik dan iklan.
Penguatan ekosistem tersebut pada akhirnya diarahkan pada integrasi people, technology, process, dan structure, serta semangat One Muhammadiyah, One Data. Dengan langkah itu, media afiliasi diharapkan menjadi satu kekuatan bersama dalam menjaga otoritas pengetahuan dan memperkuat posisi Islam Berkemajuan di ruang digital. (taufik)






