Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

PCIM Maroko Perkuat Tradisi Keilmuan dan Kaderisasi

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
PCIM Maroko Perkuat Tradisi Keilmuan dan Kaderisasi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MAROKO – Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Maroko resmi membuka Silsilah Ilmiah 2026, sebuah forum akademik-keislaman yang dirancang untuk memperkuat kaderisasi, tradisi keilmuan, dan pengembangan pemikiran Muhammadiyah di kalangan mahasiswa Indonesia di Maroko.

Kegiatan yang berlangsung pada 19–21 Juli 2026 itu digelar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat dan Hayy Jami’ Dauli dengan pendampingan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Mengusung tema “Berkader untuk Berkhidmat, Berjuang untuk Umat,” kegiatan ini memadukan dua agenda utama, yakni Baitul Arqam dan Musyawarah Tarjih, sebagai upaya membangun kader Muhammadiyah yang memiliki integritas, keluasan wawasan, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menjawab persoalan umat berdasarkan tradisi keilmuan Islam yang berkemajuan.

Pembukaan kegiatan berlangsung di KBRI Rabat dan dihadiri jajaran PCIM Maroko, perwakilan MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KBRI Rabat, serta mahasiswa Indonesia yang menjadi peserta Silsilah Ilmiah. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan sinergi antara Persyarikatan, pemerintah, dan komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia.

Ketua Pelaksana Silsilah Ilmiah 2026, Usamah Bin Zein B. Semeer, menjelaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari komitmen PCIM Maroko dalam membangun kader yang tidak hanya memiliki pemahaman keislaman yang kokoh, tetapi juga kemampuan berpikir ilmiah sesuai metodologi Muhammadiyah.

Ia menjelaskan, Baitul Arqam menjadi ruang pembinaan ideologi dan pembentukan karakter kader, sedangkan Musyawarah Tarjih difungsikan sebagai laboratorium intelektual untuk melatih tradisi diskusi, pengkajian, serta perumusan jawaban atas persoalan keagamaan secara kolektif.

Ketua PCIM Maroko, M. Faisal Maulana, menegaskan bahwa kaderisasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan gerakan Muhammadiyah.
Dalam sambutannya, ia mengutip pandangan sosiolog Iran, Ali Syariati, mengenai empat faktor yang mendorong perubahan masyarakat, yakni tokoh besar, kebetulan, sistem, dan sumber daya manusia.

Menurutnya, Muhammadiyah memilih memperkuat faktor sumber daya manusia melalui proses kaderisasi yang sistematis.
“Muhammadiyah berupaya memperkuat faktor sumber daya manusia melalui kaderisasi yang terstruktur. Salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan Baitul Arqam sebagai ruang pembinaan kader,” ujarnya.

Faisal menambahkan, Silsilah Ilmiah juga menjadi langkah awal membangun sistem kaderisasi yang berkelanjutan di lingkungan PCIM Maroko. Melalui forum tersebut diharapkan lahir kader-kader tarjih yang mampu mengembangkan tradisi keilmuan Muhammadiyah sekaligus menghadirkan solusi atas persoalan umat berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah.

Sementara itu, mewakili Ketua MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Azaki Khoirudin, menekankan bahwa Baitul Arqam merupakan proses ideologisasi yang sangat penting dalam pembentukan kader Persyarikatan.

Menurutnya, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah gerakan yang memiliki sistem nilai, sistem pemikiran, dan sistem organisasi yang harus dipahami secara utuh oleh setiap kader.

“Kader Muhammadiyah tidak cukup hanya memahami prinsip ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah secara normatif, tetapi juga harus mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan melalui pendekatan yang rasional sekaligus fungsional,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi langkah PCIM Maroko dalam membangun tradisi keilmuan di kalangan mahasiswa Indonesia di luar negeri.

Menurutnya, ikhtiar tersebut penting untuk melahirkan kader yang mampu meneruskan semangat tajdid yang diwariskan KH Ahmad Dahlan.

Dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan juga datang dari KBRI Rabat. Mewakili Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko dan Republik Islam Mauritania, Sutarwindargo selaku Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya mengapresiasi inisiatif PCIM Maroko dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia mahasiswa Indonesia.

Ia menilai keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga kemampuan membangun kepemimpinan, memperluas wawasan, memperkuat jejaring, dan menjaga persatuan di tengah keberagaman.

“Manfaatkan masa studi di Maroko untuk memperkaya ilmu pengetahuan, bahasa, budaya, serta pengalaman kepemimpinan yang kelak akan memberikan manfaat bagi bangsa dan umat,” pesannya.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai agenda yang meliputi pembinaan ideologi, kepemimpinan, penguatan pemahaman Manhaj Tarjih, penguatan peran PCIM, diskusi ilmiah, hingga Musyawarah Tarjih sebagai ruang latihan ijtihad kolektif. Seluruh rangkaian dirancang untuk memadukan penguatan spiritual, intelektual, dan organisatoris dalam proses pembentukan kader.

Melalui penyelenggaraan Silsilah Ilmiah 2026, PCIM Maroko menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang kaderisasi yang relevan dengan tantangan zaman. Dengan memadukan penguatan ideologi, tradisi ilmiah, dan pembentukan kepemimpinan dalam satu forum terpadu, kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi lahirnya kader Muhammadiyah yang berkemajuan, berintegritas, serta siap mengabdi bagi Persyarikatan, bangsa, dan kemanusiaan. (taufik)

Tinggalkan Balasan